Ujung Kulon: Bukan Cuma Soal Badak Jawa

Sepulang dari Ujung Kulon beberapa waktu lalu guna mencoba melihat bagaimana proses penghitungan (survei) Badak jawa dilakukan, banyak teman mengajukan pertanyaan serupa ini: “Bagaimana? Kelihatan badaknya? Ada berapa? Seberapa besarnya?” dan seterusnya.

Terus terang saja, bukan saya tidak mau menjawab pertanyaan itu. Pada kenyataannya, melihat Badak jawa (Rhinoceros sondaicus), meski konon saat ini populasinya bertambah, tidaklah semudah yang dibayangkan. “Jangankan pengunjung biasa, fotografer yang memang sengaja ingin mengambil gambarnya saja mesti menunggu berminggu-minggu untuk melihat badak, itu juga belum tentu dapat,” begitu biasanya saya menjawab. Sambil bercanda tentunya.

Luasnya areal hutan yang menjadi habitat badak dan sifat badak yang amat pemalu membuatnya sulit untuk didekati. Selain itu, status kawasan yang merupakan habitat Badak jawa memang dibatasi untuk kegiatan wisata.

Di sisi lain sebenarnya ada banyak hal lain—yang tidak banyak disinggung—dari Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang bisa dieksplorasi oleh para pengunjung.

Secara geografis sendiri, taman nasional yang kekayaan keanekaragaman hayatinya pertama kali diperkenalkan oleh ahli botani Jerman Junghuhn menawarkan beragam atraksi alam nan memikat. Bayangkan ini: luas daratan sekitar 76.214 hektare, sedangkan wilayah laut seluas 44.337 hektare, terletak di Kecamatan Sumur dan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, provinsi Banten. Perpaduan area darat-laut itu membuat kawasan yang diresmikan menjadi taman nasional pada 1984 ini kaya akan variasi lanskap alami.

Ada beberapa jalan masuk ke TNUK, namun yang cukup populer adalah lewat Kecamatan Sumur dan melalui Desa Tamanjaya. Saya dan beberapa kawan wartawan—atas undangan WWF—pun mencoba jalur Sumur. Dari Labuan menuju Sumur memakan waktu 2 jam perjalanan mobil.

Ditemani rinai gerimis, kami langsung disambut beberapa nelayan yang siap mengantar menyeberang menuju Pulau Handeuleum. Sekadar tips, jika rombongan Anda sedikit, coba bergabung dengan rombongan lain, jika ada, karena akan menghemat ongkos menyeberang yang dipatok Rp50.000-Rp100.000 per kapal. Hitung-hitung menghemat konsumsi solar juga kan?

Perjalanan 1,5 jam menyeberang dari Sumur ke Handeuleum tak terasa karena semilir angin laut seperti membelai-belai rambut. Bagan-bagan yang mengapung pun selayak melukis horison di kejauhan. Dari Handeuleum sebagai titik awal penjelajahan, banyak hal yang bisa dieksplorasi. Bersampan menyusuri Sungai Cigenter menjadi pilihan yang sulit ditolak. Cukup rogoh Rp50.000 dari saku dan penyusuran sungai selama tiga jam pergi pulang pun menjadi pengalaman yang layak diceritakan kepada para kerabat. Sungai Cigenter sepanjang lebih dari dua kilometer membelah hutan Cigenter, hutan hujan tropis yang juga menjadi salah satu habitat utama Badak jawa di Ujung Kulon.

Sambil bersampan, di kiri kanan sungai berbagai spesies flora hutan pantai bisa dinikmati seperti jukut kiara (Spinifex littoreus), pandan (Pandanus tectorius), butun (Barringtonia asiatica) atau formasi hutan mangrove seperti api-api (Avicena spp.). Resapi aromanya, maka Anda akan merasa rileks dan terbebas dari riuhnya kehidupan kota.

Karena merupakan bagian dari rawa air tawar, di hutan ini juga tumbuh spesies flora rawa air tawar seperti jenis typha (Thypa angustifolia) dan teki (Cyperus spp.). Bukan itu saja, pengalaman mengayuh sampan juga dilengkapi dengan suguhan tanaman palma. “Tetumbuhan di hutan Cigenter ini selain memiliki fungsi alamiah menjaga keseimbangan ekosistem juga bisa menjadi bioindikator bagi aktivitas badak, yang menjadi salah satu metode survei badak,” jelas Iwan Podol, lelaki berusia 43 tahun, anggota tim Rhino Monitoring Officer, dan juga menjadi teman perjalanan kami.

Tidak hanya kaya akan flora, di sepanjang susur sungai juga bisa dijumpai ragam fauna. Saya sendiri—setengah takut—sempat menyaksikan ular cincin emas (Boiga dendrophyla) sedang melingkar di dahan pohon. Biawak yang sedang berjemur di atas batu pinggir sungai melengkapi panorama hutan hujan tropis Ujung Kulon.

Jika Anda ingin sedikit bermain tebak-tebakan dengan rekan seperjalanan, coba pejamkan mata dan tebak suara burung yang seperti ingin ikut menjadi bagian dari keindahan yang ditakdirkan Tuhan. Tapi awas, bekas pohon tumbang yang melintang di beberapa titik sungai selain bisa mewarnai serunya perjalanan juga bisa menjadi alasan untuk berganti baju karena tercebur sungai.

Selain ke Cigenter, dari Handeuleum ada beberapa pilihan lain seperti menyeberang ke Peucang dan menikmati keindahan alam bawah lautnya, atau wisata trekking ke pusat-pusat pengembalaan Banteng jawa (Bos javanicus).

Pilihan ada di tangan Anda.

Leave a Reply