Tentang Perjumpaan dan Perpisahan

Menghayati perjalanan bersepeda Manado-Makassar.

Lelaki itu berdiri terpaku di bibir dermaga. Sesekali, ia mengusap air mata di pipinya, seakan-akan menyembunyikan kerapuhannya dan berusaha tegar, sebagaimana lelaki seharusnya.

Anaknya, seorang bocah perempuan, menangis meraung-raung di atas buritan kapal. Ia ingin kembali bersama ayahnya. Tangannya meraih-raih, ingin memeluk. “Masih kangen,” kata Lisa, sang ibunda, yang berusaha menenangkan amuk anaknya dengan kesabaran khas seorang ibu. 

Sang ayah, pada senja yang hampir pupus itu hanya bisa pasrah melepas kepergian anak dan istrinya, di Dermaga Pulau Walea Besar, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

Lelaki berbadan kurus namun liat itu harus menetap di Pulau Walea Besar untuk mencari nafkah dengan menanam cengkih, sementara istri dan anak-anaknya harus kembali ke rumah mereka di Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah. Melanjutkan hidup.

Di latar belakang, rumah-rumah apung nelayan yang terbuat dari kayu lamat-lamat terlihat. Aktivitas di dermaga jauh lebih riuh ketimbang di permukiman sana. Tidak setiap hari kapal perintis singgah di pulau kecil ini. 

Sekalinya singgah, tentu saja menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bepergian dengan berbagai tujuan. Utamanya tujuan ekonomi. Atau sekadar melepas rindu seperti yang dilakukan Lisa dan anaknya.

Saya menyaksikan drama itu, reality show yang sebenarnya itu, dari atas Kapal Motor Feri Cengkih Afo. Bersama 50-an orang lainnya, saat itu saya sedang dalam perjalanan menyeberang dari Pelabuhan Marisa di Provinsi Gorontalo, ke Ampana, Sulawesi Tengah, yang merupakan Etape ke-5 dalam perjalanan Jelajah Sepeda Manado-Makassar. 

Perjalanan menyeberang ini—yang menurut jadwal akan memakan waktu 15 jam—serta etape-etape lainnya, pada akhirnya bukan hanya soal meniti rute bersepeda saya, melainkan juga refleksi akan arti perjumpaan dan perpisahan.

***

Inilah perjalanan jelajah sepeda (selanjutnya ditulis “Jelajah” untuk mempersingkat) yang digadang-gadang paling jauh—dan paling berat—dari seluruh perhelatan Jelajah yang sudah menjadi flagship bagi Harian Kompas selama enam tahun belakangan ini. 

Pada 2008, Kompas sudah menyelenggarakan Jelajah, dengan rute Anyer-Panarukan sejauh 1.100 kilometer. Dua tahun kemudian, digelar Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta dengan jarak total 1.000 kilometer. Lalu, pada 2011 tim Jelajah melintasi rute Jakarta-Palembang sejauh 810 kilometer. Jelajah Sepeda Bali-Komodo sejauh 720 kilometer pada 2012 merupakan penyelenggaraan yang keempat.

Tahun lalu, digelar Jelajah Sepeda Sabang-Padang sejauh 1.593 kilometer, dan tahun ini Jelajah Sepeda Manado-Makassar hadir sebagai penyelenggaraan keenam. 

Ambisi Kompas, sebagaimana kerap didengungkan oleh Budiman Tanuredjo, Wakil Pemimpin Redaksi—yang juga mengikuti hampir seluruh etape dalam Jelajah tahun ini—adalah “merajut Nusantara lewat sadel sepeda, melintasi dan melaporkan kondisi terkini, mulai dari infrastruktur, masalah-masalah sosial, hingga potensi pariwisata daerah-daerah yang akan dilalui.”

Melihat jarak saja, bisa dipastikan bahwa Jelajah kali ini adalah yang terjauh dibandingkan perjalanan Jelajah sebelumnya. Namun, bisa jadi, ini juga merupakan Jelajah paling kaya nuansa kuliner. 

Sampai di Sulawesi pada Minggu (17/8) siang, kami langsung menuju Desa Lembean, Kauditan, Minahasa Utara. Tanpa basa-basi sambutan yang berlebihan dari tuan rumah, kami disuguhi keramahan yang orisinil dan aneka kuliner khas Sulawesi.

Berhubung belum terlalu lapar, saya menyambut kue lampu-lampu. Kue lunak yang terbuat dari tepung beras dan berwadah janur kelapa ini mesti dimakan dengan sendok, karena gula di dalamnya bakal meleleh saat kita gigit. Enak sekali. 

Tangan saya tidak berhenti menggerayangi meja makan. Kali ini, saya mencomot kue kuk, kue berwarna merah dengan parutan kelapa di dalamnya. Saatnya menu utama, saya meraih nasi dan sayur pangi. Daun pangi—yang konon hanya ada di Sulawesi—dicacah lalu dimasak dalam bambu, jadilah sayur pangi. Tidak lupa, saya meraih seekor ikan cakalang asap, agar kunjungan ke Sulawesi tidak terkesan sia-sia.

Sejenak, beban berat yang akan dihadapi esok saat harus bersepeda menanjak ke Tomohon pun terlupakan. Ditambah lagi, kami menandaskan menu khas Sulawesi ini sambil berjoget dengan iringan musik kolintang.

***

Kota Manado masih terasa sepi, padahal saat itu hari Senin. Kemarin, warga baru saja merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69. 

Momentum hari kemerdekaan itu menjadi salah satu bahan bakar semangat kami dalam memulai penjelajahan bersepeda, yang akan dimulai dari Manado hingga Makassar; dari ujung utara Sulawesi ke ujung selatannya, melintasi empat provinsi; Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Jarak yang akan kami tempuh kurang lebih sekitar 1.700 kilometer.

Saya memulai etape pertama dengan riang gembira. Jarak yang harus ditempuh hari ini adalah 84 kilometer, yakni dari Manado menuju Amurang, lewat Tomohon. Saya tahu, itu jarak di atas kertas. Saya yakin jarak sebenarnya lebih dari itu.

Rute Manado-Tomohon mengingatkan saya pada lintasan Bogor-Puncak. Menanjak panjang, tetapi udaranya sejuk. Bedanya, rute menuju Tomohon ini lebih sepi dari lalu-lalang kendaraan. Tentu saja. 

Tomohon merupakan sebuah kawasan subur yang berlokasi 22 kilometer sebelah timur Manado. Slogan kota ini adalah “Menyapa Dunia dengan Bunga” karena Tomohon memang dikenali sebagai  penghasil bunga. Saat musimnya tiba, bunga-bunga indah bermekaran di kiri-kanan jalan, hingga di rumah-rumah penduduk. 

Tomohon juga menjadi tuan rumah bagi Tomohon International Flower Festival, festival bunga bertaraf internasional. Sayangnya, kami melintasinya setelah perhelatan akbar itu kelar.

Pada 10 kilometer pertama, jalur menanjak hingga ketinggian 250 meter dari permukaan laut (mdpl). Lumayan. Jantung saya mulai bekerja agak keras pada 10 kilometer berikutnya, yang menanjak hingga ketinggian 800 mdpl. Di sisi kanan, puncak Gunung Lokon menemani saya yang pada kilometer ke 20-an sudah mengayuh sepeda seorang diri karena para peserta mulai tercerai-berai akibat jalan menanjak.

Dingin mulai menyergap di kilometer 30-an, karena kami harus bersepeda dengan kecepatan konstan di ketinggian 851 mdpl. 

Energi yang saya peroleh setelah makan siang di Tomohon langsung digunakan untuk menanjak kembali; Sebelum lokasi Danau Linau yang akan menjadi persinggahan, saya dikagetkan oleh tanjakan pendek namun curam.

Ketika setiap kayuhan mengantarkan saya lebih dekat ke Danau Linau, aroma belerang mulai menguar. Konon, Danau Linau merupakan kawah gunung raksasa yang meletus 2.000 tahun lalu. Danau ini terletak di Kelurahan Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon.

Sebagian besar peserta sibuk berfoto ria. Akan tetapi, saya memilih untuk duduk menghayati ketenangan air danau, sambil menikmati desiran angin sejuk khas daerah puncak. Pohon pinus berjajar menaungi sekeliling danau. Di sisi depan saya, warna permukaan air terlihat hijau, namun di sisi seberang menjelma kuning, di sisi lainnya terlihat kemerahan. Ternyata betul, bahwa Danau Linau selama ini juga dikenal sebagai Danau Tiga Warna.

Menuju Amurang, alias titik finis etape pertama, jalan terus melandai. Disambut gerimis tipis, kami tiba di Amurang sebelum gelap. Benar saja, jarak tempuh hari ini 92 kilometer.

***

Tidak banyak yang saya ingat pada etape kedua, selain jalan yang rolling berpuluh-puluh kilometer, sambutan luar biasa di Desa Ongkaw II, Sinonsayang, Minahasa Selatan, dan…menginap di Asrama Armed 19 Lolak di titik finis.

Ongkaw II adalah sebuah desa sekitar 50-an kilometer dari Amurang, atau kurang lebih 120 kilometer dari Manado. Menjelang pusat desa, saya dan pesepeda lainnya merasa agak khawatir karena di depan kami banyak sekali iring-iringan motor. Mereka sama sekali tidak mau memberi jalan untuk rombongan Jelajah.

Wah rusuh nih,” kata salah seorang peserta. Raungan sirine dari mobil patroli kawal pun diacuhkan. Penasaran, saya mendekat dan bertanya kepada salah seorang di antara pria bermotor itu.

“Mau ke mana, Pak?” tanya saya.

“Kita orang mau sambut!” jawabnya.

Ternyata, mereka mau menyambut rombongan pesepeda. Tanpa sadar, air mata saya menetes. Mereka benar-benar mengiringi kami sekitar dua kilometer menjelang pusat desa!

Di desa, suasana lebih ramai lagi. Masyarakat sudah berkumpul di depan rumah-rumah mereka, dan sebagian besar sudah menunggu sejak pukul 7.30 pagi di balai desa (saat itu sudah pukul 11.00). Di depan balai desa, kami disambut dengan gegap gempita marching band yang di antaranya memainkan lagu-lagu daerah Minahasa. Luar biasa, pikir saya. Ini spontanitas yang mengharukan. Dada saya bergetar.

Dalam sambutannya, Susan Lydia Lumi, seorang hukum tua (lurah) Ongkaw II menyampaikan betapa dirinya dan masyarakat bangga bahwa desa mereka dilintasi oleh tim Jelajah.

Di gedung balai desa yang belum kelar dibangun sudah tersedia aneka penganan dan masakan khas Minahasa: pisang goreng sambal dabu-dabu, aneka masakan olahan ikan, jagung rebus dengan bulir yang kuning jernih dan gemuk-gemuk, aneka kue basah dan manis termasuk kue cucur dan nasi jaha, dan rambutan.

Ongkaw II juga dikenal sebagai “kampung rambutan” karena pohon ini tumbuh di setiap rumah penduduk. Di sepanjang ruas Trans-Sulawesi menjelang desa ini memang terlihat kedai yang menjual rambutan.

Semua sajian yang berlimpah ini adalah cermin tradisi mapalus, bahasa Minahasa yang berarti ‘gotong-royong’. “Kami menyiapkannya dengan kerelaan hati. Setiap warga menyiapkan apa yang sanggup mereka sajikan, tanpa dibayar atau dimodali siapa pun,” kata Keintjem, pria berusia 67 tahun yang saya temui di sela-sela keriuhan.

Meninggalkan Ongkaw II, kesedihan itu bukan hanya terasa dalam dada saya, melainkan juga di wajah para warga yang melepas kami. Juga pada lambaian tangan mereka yang tak henti. Beberapa anak kecil bahkan ikut berlari mengikuti kami, seakan ingin menyertai kami sejauh mungkin.

Di asrama Markas Besar Batalyon Artileri Medan (Armed) 19/105 Tarik Bogani, Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow Induk, yang menjadi titik finis di etape ini, para peserta tidur dalam dua ruangan aula besar. Namun, beberapa orang memutuskan untuk membuka tenda.

Kebersamaan—yang memang harus terus-menerus dipupuk karena kami akan terus berjalan bersama selama dua minggu—begitu terasa. Suara dengkuran menjadi hal biasa yang sudah dimaklumi oleh masing-masing peserta. Namun, yang tetap harus diperjuangkan adalah kamar mandi dan colokan listrik.

***

Perjalanan etape ketiga dari Lolak ke Baroko (sekitar 90 kilometer) menjadi ujian serius pertama. Di dua puluh kilometer pertama, road captain kami bahkan merasakan kelelahan akibat kepanasan yang berkisar pada 35-37 derajat Celsius.

Pantai pasir putih Maelang di Kecamatan Sangtombolang, Sulawesi Utara pun menjadi perhentian yang ideal. Langitnya masih biru. Angin bertiup lambat, membelai pucuk-pucuk pohon kelapa. Suasana ini bagaikan oasis di padang pasir. Saya segera melumat buah-buahan untuk mengembalikan energi dan cairan setelah 28 kilometer diterpa panas dan jalan turun-naik.

Namun, penyiksaan dilanjutkan selepas Pantai Maelang. Menuju Baroko adalah ujian daya tahan fisik kami. Beberapa peserta pun berguguran dan memutuskan untuk dievakuasi. Saya tetap mengayuh, mengatur napas dan irama kayuhan, menjaga momentum, melatih kesabaran.

Saya mencoba melampaui lintasan yang berkelok-kelok mengitari sisi bukit dengan mengubah-ubah kombinasi gear agar tidak terlalu menguras tenaga, tetapi juga tidak jauh tertinggal dari rombongan bertenaga kuda di depan. Untungnya, pemandangan laut di sisi kanan bisa menjadi pelipur letih.

***

Lanskap Sulawesi yang berbukit-bukit memang menjadikan rute Jelajah ini lebih menantang ketimbang jelajah-jelajah sebelumnya. Di etape keempat dan kelima (Boroko-Gorontalo-Marisa), tanjakan dan turunan itu masih terus dijumpai. Cuaca panas menjadi “bonus penderitaan” bagi para peserta. Tidak sedikit yang akhirnya menyerah dan memilih dievakuasi.

Menyeberang dari Marisa ke Ampana juga bukan perkara yang menyenangkan, setidaknya buat saya. Sulit bagi saya untuk beristirahat dalam keadaan bergoyang-goyang di laut. Ditambah lagi, kapal harus singgah di dua pulau kecil terlebih dahulu. Hal yang luput diantisipasi oleh panitia.

Alhasil, baru menjelang subuh kami berlabuh di Ampana. Dengan kepala berat karena kurang tidur, saya harus bersepeda dalam kegelapan dini hari dan angin dingin menuju penginapan di Ampana. 

Namun, persinggahan di Pulau Walea Besar, di mana saya menjumpai Lisa dan anaknya yang meraung-raung, justru menjadi salah satu momentum penting yang memberi makna pada perjalanan ini.

Sejak awal perhelatan Jelajah Kompas berlangsung, saya tidak punya sedikit pun ketertarikan untuk mengikutinya. Saya merasa, bersepeda bersama rombongan besar—dengan waktu yang diatur ketat—bukanlah kegiatan yang menyenangkan.

Sampai akhirnya waktu penyelenggaraan Jelajah ini kian dekat, seorang teman menyarankan agar saya ikut. “Ini kesempatan sekali seumur hidup. Kamu akan mendapatkan pengalaman bersepeda yang berbeda. Buat apa setiap hari kamu gowes bike to work kalau belum pernah merasakan ikut Jelajah?” kira-kira begitu sarannya.

Kesan pertama yang saya dapatkan dalam Jelajah adalah begitu banyak hal, pengetahuan, dan wawasan baru yang saya dapat dari rekan-rekan satu tim karena begitu beragamnya latar belakang para peserta: dokter, pegawai swasta, pengacara, pengusaha, jenderal aktif, dan lain-lain. Para peserta pun tidak butuh waktu lama untuk bisa cair, melebur, saling bercanda. Itulah hebatnya sepeda. 

Bersepeda, khususnya dalam Jelajah ini, menjadikan warna kulit, suku, agama, ras, dan latar belakang personal menjadi kabur, berganti dengan semangat kolektif agar kita semua bisa menyelesaikan penjelajahan Bumi Celebes dengan selamat, tanpa kurang satu apa pun.

Etape Manado-Tomohon-Amurang, yang digadang-gadang bakal membuat kaget peserta pun—karena langsung disajikan tanjakan—bisa dilalui dengan penuh senyum. Semua karena dorongan mental dari rekan-rekan satu tim.

Etape-etape selanjutnya memang lebih berat, tetapi berkat kebersamaan yang telah terjalin secara pelan-pelan, tantangan demi tantangan pun berhasil kami lewati. Tidak jarang, rekan penggowes lain memberikan makanan atau minuman ketika tim logistik masih jauh, atau tidak terlihat di belakang. Itu membuat saya terharu, dan menjadi suntikan tenaga yang tidak sedikit.

Soal lintasan, Trans-Sulawesi tidak perlu diragukan lagi. Tidak salah bila naturalis Alfred Russell Wallace menganggap lanskap Sulawesi unik. Semua jenis bentangan alam tersedia di sini: hutan-hutan hijau, sawah-sawah dengan padi menguning, pantai-pantai dengan air sejernih kaca, danau-danau yang menenteramkan jiwa, serta bukit-bukit dengan kicauan aneka satwa di dalam tajuk hutannya. 

Tentu saja, Sulawesi juga kaya akan keragaman budaya dan produk kuliner. Sepanjang perjalanan, hampir tidak ada hidangan yang gagal (kecuali satu, di perbatasan Sulawesi Tengah-Sulawesi Selatan, di mana kami akhirnya terpaksa memesan mi instan karena nasi yang terlalu keras.)

Kekhawatiran saya soal perjalanan bersama dengan aturan waktu yang ketat pun seperti mendapat jawabannya. Sepanjang Jelajah, saya merasa diajari soal bagaimana mendisiplinkan diri, bangun di awal hari, rapi dalam berkemas, setia terhadap batas waktu, dan mengikuti instruksi dari road captain

Perihal kebersamaan, saya juga menemukan bahwa Jelajah merupakan momentum yang pas untuk belajar soal kesetiakawanan, bagaimana mengalahkan ego, tidak bersikap jumawa, mau bekerja sama, menjaga perasaan rekan satu tim, dan saling menjaga.

Terus terang saja, saya merasa mendapat banyak sahabat baru, bahkan keluarga baru, yang selama dua minggu sama-sama mencecap kesenangan dan penderitaan, tawa dan (mungkin) tangis. Dari Lisa dan keluarganya di Dermaga Pasokan, saya diajari bahwa perjumpaan dan perpisahan adalah sebuah keniscayaan, dan hidup harus terus berlanjut.

Leave a Reply