“Tangan Tuhan” di Pulau Seribu Obat

Sebagai seorang remaja tanggung dengan energi yang meletup-letup, Dede, warga Nabire, gemar bermain bola. Namun, suatu hari, kejadian nahas menimpanya. Ia terjatuh saat mengolah si kulit bundar. Tulang kering kaki kanannya patah. 

Lebih nahas lagi, punggung, tangan, dan kaki kirinya sama sekali tidak bisa digerakkan. Ia pun dinyatakan lumpuh permanen oleh dokter dan harus menerima kenyataan bahwa dirinya hanya bisa berbaring di tempat tidur sepanjang sisa usianya.

Setahun kemudian, kakaknya yang menikah dengan orang Ternate memberikan informasi bahwa ada seorang tabib patah tulang di Tidore yang mungkin bisa membantu. Berbekal semangat hidup dan ongkos kapal laut, orang tua Dede membawanya menyeberang ke Tidore.

Sang tabib menerima Dede, dan meminta agar orang tua Dede menginap saja di rumah perawatan itu karena tabib itu tidak punya pembantu.

Ajaib. Dalam dua minggu perawatan (dengan diurut saja), Dede sudah bisa berjalan. “Saya dipaksa jalan. Waktu diurut sakitnya luar biasa,” ujarnya, dengan wajah meringis tetapi menyiratkan api semangat.

Nama tabib itu adalah Ibrahim Jafar, tetapi seantero Maluku mengenalnya dengan Ko (abang) Baim. Pertama kali mendengar soal Ko Baim, yang pertama terbayang dalam benak saya adalah sosok orang tua berikat kepala, dengan busana hitam-hitam, dan serangkaian sosok yang biasa muncul dalam sinetron-sinetron kita saat menggambarkan seorang “dukun”.

Nyatanya tidak. Saat saya temui di rumahnya sekaligus tempat praktiknya di Jl Sultan Mansyur, Kelurahan Indonesiana, daerah dengan latar belakang perbukitan hijau, sekitar 100 meter dari kantor wali kota, pria berbadan gemuk ini hanya mengenakan kaus oblong berwarna cokelat muda dan celana pendek longgar.

Wajah dan senyumnya sekilas mengingatkan saya pada wajah A. M. Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara. Ada rona letih pada matanya. “Nanti sore akan datang pasien lagi,” katanya. Saya tidak tahu apakah dia bergembira atau berkeluh saat mengatakan itu.

Pasalnya, Ko Baim tidak pernah (dan tidak mau) menarik biaya dari setiap pasiennya. Benar-benar gratis. Selama turun-temurun, praktik keluarga Ko Baim memang dikenal bebas biaya. “Tujuan saya cuma mau membantu orang, itu saja. Kalau mengharap balasan, pekerjaan ini malah jadi berat,” ujarnya sambil tersenyum.

Ko Baim adalah generasi keempat dalam keluarganya yang secara turun-temurun mewarisi kemampuan menyembuhkan patah tulang. Sebelumnya, ia dan keluarganya tinggal dan berpraktik di Kelurahan Gurabati, yang hingga saat ini pun dikenal sebagai kampung para tabib patah tulang. Namun, sudah lebih dari setahun Ko Baim pindah ke lokasi sekarang.

Di rumahnya yang cukup besar, dengan tiga kamar perawatan di bagian belakang, saya menemui beberapa pasien lainnya. Bambang, 44 tahun, yang terbang dari tanah Jawa, Surabaya, terjatuh dari motor dan tulang bagian selangkangan kanannya patah dan terputar. Selama tiga bulan ia tidak bisa jalan, dokter pun menyerah. Di tangan Ko Baim, cukup dua minggu perawatan dan dia pun kini sudah bisa berjalan.

Mistisisme Tidore rupanya juga menitis ke tangan Ko Baim. “Saya hanya mengurut, disertai doa-doa, minyak kelapa, air liur, dan ramuan khusus khas Tidore. Tanamannya bisa ditemui di pinggir-pinggir jalan di Tidore ini, kok,” kata Ko Baim, menolak memerinci nama tumbuhan dimaksud. 

Ko Baim yang sudah mulai mengobati orang sejak usianya 12 tahun mengatakan, Tidore yang tanahnya subur kaya sekali akan tumbuh-tumbuhan obat. Sampai sekarang, masih banyak warga yang lari ke gunung atau ke kebun untuk memetik daun-daunan obat jika ada keluarga atau kerabat yang sakit.

Menurut pria beranak empat ini, kemampuannya adalah titipan, jadi harus dijaga. “Yang penting jangan takabur, jaga bicara,” katanya dengan tutur-kata yang lembut. Ia mengatakan bahwa dirinya malu jika selalu disebut-sebut orang.

“Kamar perawatan di belakang rumah ini, itu bantuan dari Wali Kota. Saya tidak pernah meminta kepada beliau, walaupun saya memang butuh kamar tambahan karena pasien semakin banyak. Malu sekali menerimanya,” ungkapnya.

Untuk menghidupi keluarganya, sekaligus memenuhi kebutuhan pasien-pasiennya, Ko Baim mengaku bekerja apa saja, serabutan. Mulai dari berkebun sampai jadi buruh bangunan.” Meski demikian, Ko Baim mengakui kadang ia merasa letih juga. “Saya kurang tidur. Kadang-kadang pasien datang tengah malam, waktu subuh. Tidak kenal waktu,” katanya. Akan tetapi, ia tidak bisa menolak karena tidak tega. 

Proses perawatan pasien Ko Baim dilakukan dengan cara diurut secara rutin pada pagi dan sore hari. Siapa pun boleh melihatnya, asalkan kuat dan tega mendengar jeritan dan melihat wajah meringis pasien. Ko Baim melakukannya di mana saja, bisa di kamar, bisa di ruang tamu, yang penting beralas tikar dan bantal.

Suatu ketika, pernah ia mendapatkan pasien dengan kasus sangat berat, dan sangat mengerikan sehingga engganlah saya menceritakannya di sini. Menghadapi pasien itu, Ko Baim pun salat Tahajud untuk meminta petunjuk. Akhirnya, ia pun menemukan jalan dan si pasien bisa sembuh total dalam 4-5 bulan perawatan. Ko Baim yakin betul bahwa Tuhan sudah menyediakan obat bagi segala penyakit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *