“Quo vadis” foto jurnalistik dunia?

Photo by Julie Johnson on Unsplash

Pada September 2015, World Press Photo Foundation bersama Reuters Institute for the Study of Journalism, University of Oxford, merilis sebuah laporan penting buat dunia fotografi (dan fotografi dunia), khususnya fotojurnalistik. Laporan setebal 76 halaman tersebut diberi judul “The State of News Photography: the Lives and Livelihoods of Photojournalists in the Digital Age”, disusun oleh Adrian Hadland, David Campbell, dan Paul Lambert.

Secara umum, laporan tersebut berisi kondisi terkini, tren, dan masa depan reportase visual secara global. Beberapa temuan penting dari riset ini adalah:

1. Pewarta foto profesional didominasi oleh laki-laki, sebanyak 85% responden penelitian ini adalah laki-laki.

2. Sebanyak 60% dari fotografer yang merespons survei ini adalah fotografer freelance.

3. Secara umum, fotografer memiliki latar pendidikan tinggi. Dalam riset ini, dua pertiga berpendidikan sarjana, meski seperempat dari mereka tidak pernah menjalani pelatihan fotografi yang spesifik.

4. Penggunaan foto tanpa izin (dan tanpa bayar) kian meluas.

5. Fotografer (pewarta foto) dianggap sebagai pekerjaan yang berbahaya; lebih dari 90% merasa bahwa diri mereka rawan terhadap ancaman fisik atau cedera saat melakukan pekerjaannya.

6. Era digital membuat profesi fotografer menjadi semakin kompleks, dan menimbulkan ketidakpastian atas etika profesional mereka. Hampir seluruh fotografer dalam survei ini merasa bahwa pemahaman akan etika ini penting.

7. Manipulasi foto berupa penambahan atau pengurangan konten adalah problem yang serius, setidaknya menurut 76% responden.

8. Sebanyak 36% responden mengaku tidak pernah melakukan “staging” (mengatur adegan, misal meminta subjek untuk berpose, mengulangi aksi, atau meminta subjek untuk menunggu sampai si fotografer siap memotret), 52% mengatakan “kadang-kadang mereka melakukannya”.

9. Hanya 10% fotografer yang menyatakan tidak pernah mengutak-atik berkas asli dari kamera atau file RAW, misalnya dengan mengubah kontras, huetone, atau saturasi. Sementara 51% menyatakan mereka selalu melakukan itu.

10. Terkait urusan online, 63% responden menyatakan website pribadi menjadi bagian yang penting buat pekerjaan mereka. Lebih dari setengah mengatakan sering, atau selalu menggunakan media sosial sebagai bagian dari pekerjaan mereka. Hanya 11% yang tidak pernah menggunakannya.

11. Dalam studi ini, Facebook dianggap sebagai platform media sosial favorit bagi fotografer, sebanyak 62% responden menempatkan Facebook di urutan pertama, 26% lainnya menaruhnya di posisi 2 atau tiga. Instagram dan Twitter mengikuti FB dari sisi popularitas.

12. Sebanyak 75% fotografer yang disurvei mengatakan mereka merasa mendapatkan keuntungan dari media sosial, yang mana 40% mengatakan keuntungan yang didapat bukanlah keuntungan finansial, dan 23% mendapatkan keuntungan finansial.

13. Terlepas soal ganjaran finansial, tantangan industri, dan risiko fisik, survei ini menunjukkan adanya kepuasan kerja, ekspresi kreatif, dan kepuasan personal yang didapatkan para fotografer profesional. Dua pertiga responden mengatakan mereka bahagia dengan pilihan profesi mereka, dan 55% menyatakan positif/optimistis terhadap masa depan mereka.

Temuan-temuan ini dianggap bukan hanya penting buat para pewarta foto, melainkan juga agen, desainer, dan editor yang memiliki keterkaitan langsung dengan profesi pewarta foto, juga buat para mentor yang menggembleng mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *