Pulau Weh: Sunyi di Bulan Suci

Lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” tiba-tiba mengiang di telinga saya. Keras. Seketika saya merasa sedang menjadi bagian dari sejarah perjalanan negeri ini. Saya hendak menuju Sabang, kota yang namanya diabadikan dalam lagu tersebut. Inilah kota di Pulau Weh, yang menjadi batas paling barat wilayah kepulauan Nusantara.

Ada dua kekhawatiran saya ketika ditugaskan untuk mengunjungi Sabang (dan Pulau Weh, secara umum). Pertama, dalam kunjungan singkat ini—satu setengah hari—saya tidak akan menyelam atau ber-snorkeling, karena satu dan lain hal. Kedua, saya pergi dalam keadaan berpuasa.

Kenapa dua kekhawatiran itu muncul? Pulau Weh, yang terletak di Laut Andaman, dikenal luas sebagai salah satu surga bagi para peselam. Ada beberapa divespot unggulan di sini, sebut saja Pulau Iboih yang paling terkenal, atau Pulau Gapang, Pulau Rubiah, Pulau Rondo, dan banyak lagi, yang mengandung keanekaragaman spesies ikan dan terumbu karang nan menggoda mata. Karenanya, mengunjungi Pulau Weh tanpa menyelam atau ber-snorkeling membuat saya harus berpikir keras bagaimana mengisahkan perjalanan saya.

Kekhawatiran kedua muncul karena Sabang, dan hampir seluruh daerah Aceh (sebagaimana daerah lain dengan nuansa Melayu yang kental), juga dikenal sebagai nirwana bagi para pemburu kuliner. Dalam keadaan berpuasa, pada siang hari saya akan banyak melewatkan ragam masakan khas Aceh yang pedas asam, citarasa yang paling saya suka (dan terbiasa dengannya, karena istri saya kerap membuat masakan Aceh). Tentu saja, saya masih bisa menikmatinya kala berbuka puasa, tetapi saya merasa tetap ada nuansa yang hilang.

Dalam kunjungan beberapa tahun sebelumnya ke Banda Aceh, misalnya saja, saya bisa menghabiskan hari hanya dengan duduk-duduk santai di kedai kopi: menyaksikan tingkah-polah para lelaki dewasa yang berdebat soal politik, sepak bola, dan hal-hal remeh lainnya. Ditemani kopi Ulee Kareng dengan penganan pulut panggang atau timpan srikaya, satu hari itu saja saya bisa bercerita soal banyak hal.

Walhasil, pertanyaan pertama saya ketika bertemu Bahri, seorang warga lokal yang mengantar saya ke penginapan, adalah: apa yang bisa saya tulis soal Pulau Weh selain soal pantai dan terumbu karang?

Dengan senyum yang terbilang “manis” untuk ukuran seorang lelaki berkulit gelap dan berperawakan besar, Bahri menjawab, “Tidak tahu bang, di sini sepi, apalagi sedang Ramadhan.”

Tentu saja jawaban Bahri tidak membantu saya. Tetapi, saya harus berterima kasih kepadanya karena ia memberikan ide buat saya: saya akan menceritakan betapa Sabang menjelma jadi “kota mati” saat siang hari pada Bulan Ramadhan.

Saya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, sekitar pukul 11.00. Dan, dalam perjalanan dari bandara ke Pelabuhan Ulee Lheue (pelabuhan penyeberangan feri ke Pulau Weh) sepertinya saya bisa menghitung berapa banyak orang yang saya jumpai di jalan. “Kalau hari biasa, nggak sesepi ini bang,” ujar Bahri dengan logat Aceh yang khas.

Sesuai perkiraan saya sejak sebelum berangkat, hampir semua warung makan dan restoran—bahkan warung kecil penjual rokok—tutup. Hanya bengkel, toko pakaian, dan toko-toko lain yang tidak ada kaitannya dengan makananlah yang tetap mengais rezeki pada siang hari di bulan suci bagi umat Islam ini.


Di pelabuhan feri Ulee Lheue siang itu, geliat kehidupan barulah mulai terasa, walau kesan sepi sulit dihindari. Apalagi buat saya, yang sehari-hari terbiasa dengan kemacetan dan antrean manusia di ibu kota. Saya hanya melihat beberapa rombongan kecil, mungkin keluarga, yang membawa gembolan seperti orang yang hendak mudik. Sebagian dari mereka berpakaian bagus dan berwarna-warni. Juga ada beberapa warga Sabang yang memang rutin menyeberang ke Banda Aceh untuk berniaga. Tidak ada hiruk-pikuk yang berarti.

Butuh waktu dua jam dengan kapal feri lambat untuk menyeberang dari Ulee Lheue ke Pelabuhan Balohan di Pulau Weh. Karena kendala jadwal, kami tidak bisa menggunakan kapal cepat. Padahal, dengan kapal cepat, waktu penyeberangan jadi terpangkas hanya satu jam.

Setelah menginjak Sabang, suasana sunyi yang saya jumpai sebelumnya di Banda Aceh seakan tidak berarti. Di beberapa ruas jalan utama di Sabang, beberapa kali saya berada dalam suasana di mana sama sekali tidak ada orang atau kendaraan yang melintas, atau suara yang terdengar, kecuali gesekan dedaunan di pohon. Momen ini, mungkin saja, cocok bagi para pejalan yang ingin mendapatkan suasana yang syahdu dan ingin melarikan diri dari kepenatan hidup.

Sebagai bagian dari provinsi yang sejak lama memiliki julukan Serambi Mekah—karena dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran agama Islam, dan memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam ke Asia Tenggara—dan telah memberlakukan sistem hukum berdasarkan syariat Islam sejak 2001, pemerintah daerah memang melarang tempat-tempat makan untuk buka pada siang hari sepanjang Ramadhan.

Banyak selebaran yang ditempelkan di beberapa sudut kota, yang berisi larangan tersebut. Selebaran ini ditandatangani oleh seluruh perangkat musyawarah pimpinan daerah setempat.

“Di Aceh, sepanjang bulan Ramadhan ada larangan formal bagi pedagang makanan untuk membuka kedai, toko, atau lapak mereka mulai pukul 5.00 hingga pukul 17.00,” Ali Taufik menjelaskan. Pria ramah ini adalah sekretaris di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang. Saya menjumpainya di kantornya yang sederhana di Jalan Diponegoro, Kota Sabang. Banyak sekali brosur wisata di meja tamu kantornya.

Aktivitas perekonomian secara umum juga mengendur. Pasar tradisional yang semenjak pagi biasanya riuh dengan penjual ikan juga tidak terlihat menggeliat.

“Nanti sore saja ke Jalan Perdagangan, itu pusat penjualan penganan berbuka puasa,” Ali memberi saran. Pada bulan-bulan di luar Ramadhan, lanjut Ali, pemerintah melarang masyarakat untuk seenaknya berjualan makanan atau membuka warung di pinggir-pinggir jalan. “Tapi Ramadhan adalah bulan kebebasan. Free. Di mana pun masyarakat diperbolehkan untuk berjualan. Saya lihat banyak wisatawan luar yang menganggap ini sebagai hal yang menarik,” ujarnya.

Sambil menunggu sore, saya menyempatkan berbincang soal pariwisata di Pulau Weh dengan Ali. Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir, tingkat kunjungan wisatawan ke Pulau Weh masih cenderung meningkat. Hanya saja, kata Ali, pariwisata di mana pun sangat vulnerable (rapuh), misalnya terhadap kondisi alam dan cuaca.

“Biasanya, hanya ada dua kapal cepat yang beroperasi di pelabuhan penyeberangan. Nah, liburan kemarin kami sudah menyiapkan lima kapal cepat untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung. Tetapi, karena angin kencang, akhirnya kunjungan berkurang,” Ali menjelaskan. Ke depan, untuk menjaga tingkat kunjungan wisatawan, pihaknya akan memperkenalkan satu objek wisata baru setiap tahunnya.

Menurutnya, salah satu batu sandungan terbesar untuk mengembangkan pariwisata di Sabang adalah faktor politik. “Kebijakan politik masih belum mengarah ke pariwisata, misalnya tercermin dari alokasi anggaran, yang hanya sekitar dua persen,” katanya. Ali Taufik mengemukakan analogi yang menarik: mengembangkan pariwisata itu mirip menyekolahkan anak. Investasinya besar sekali, tetapi kita tidak tahu kapan hasilnya. “Yang jelas, pasti akan terasa.”


Lantunan azan Ashar terdengar lamat-lamat di kejauhan, bersahut-sahutan dari beberapa masjid. Saya menunggu sejenak untuk segera menuju Jalan Perdagangan, tempat yang dikatakan Ali Taufik sebagai pusat penganan berbuka puasa. Sekitar setengah jam setelah azan, saya pun menuju tempat yang dimaksud.

Lanskap Pulau Weh sangat berbukit-berbukit dan Jalan Perdagangan seperti terletak di bagian lembahnya. Di sepanjang jalan ini, masih banyak bangunan bergaya hindia bekas peninggalan Belanda. Salah satunya gedung Bioskop Rex (Rex Bioscoop).

Gedung yang didirikan sebelum tahun 1900 ini merupakan fasilitas hiburan dari pemerintah kolonial bagi masyarakat Sabang. Dulunya, bioskop ini menayangkan film-film yang sebelumnya telah melewati seleksi sebuah komite, mungkin sejenis lembaga sensor film masa itu. Komite inilah yang memutuskan film apa yang akan diputar, termasuk film anak-anak.

Bioskop ini juga menjadi hiburan bagi para pasien rumah sakit jiwa (KZG). Setiap hari Sabtu, mereka akan berbondong-bondong secara teratur menuju bioskop ini.

Sayangnya, kondisi Bioskop Rex saat ini sangat mengenaskan. Sempat dijadikan Gedung Kesenian Kota Sabang selama beberapa tahun, kini gedung yang sebetulnya terlihat masih kokoh ini terbengkalai dan menjadi sarang lumut. Bagian depan bioskop pun akhirnya digunakan warga yang menjajakan penganan berbuka puasa.

Seperti kata Ali, sepanjang Jalan Perdagangan memang menjadi pusat takjil alias penganan berbuka. Sebetulnya, pasar dadakan di Jalan Perdagangan ini tidak jauh berbeda dengan pasar-pasar tumpah yang banyak bermunculan ketika bulan Ramadhan. Tetapi, saya menemukan beberapa penganan unik yang tidak saya jumpai di Jakarta, misalnya sate gurita.

Sayang, saat saya datang ke lokasi, si penjual masih bersiap-siap untuk menggelar dagangannya. Kesempatan mencicipi sate gurita pun harus tertunda (lagi pula, waktu berbuka belum tiba, dan saya masih ragu apakah ini termasuk jenis makanan yang lestari atau tidak). Sekilas, potongan-potongan dagingnya mirip sate ayam. Tetapi jika dilihat lebih teliti, akan terlihat potongan bentuk khas lengan gurita dengan bulatan-bulatan cekung.

Di sebelah sate gurita, seorang wanita muda berjilbab mengajak saja mampir ke lapaknya. “Dipilih saja bang, ini pepes ikan bakar, ini pepes udang bakar,” katanya. Saya katakan kepadanya bahwa saya datang dari Jakarta, dan ingin mencicipi masakan yang sulit dijumpai di Jakarta. Dia pun langsung mengambil plastik, lalu memasukkan beberapa pepes udang bakar yang terbungkus daun pisang. “Ini nggak ada di Jakarta,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Bukan hanya pedagang penganan kecil dan lauk-pauk yang memenuhi pinggiran Jalan Perdagangan. Ada pula pedagang sayur-mayur yang mencoba peruntungannya di sisa hari. Saya pun teringat pesanan istri tercinta untuk membelikannya asam sunti, bumbu penting untuk masakan-masakan Aceh.

Belum lama mengitari Kota Sabang, saya sudah bisa merasakan keramahan warga Sabang terhadap orang asing atau pendatang. “Masyarakat Sabang lebih heterogen dibandingkan Aceh pada umumnya, sehingga lebih terbuka terhadap pendatang,” ungkap Ali. Itu salah satu sebab saat ini pariwisata Sabang lebih maju dibandingkan daerah-daerah lain di Aceh. “Memang, ada beberapa gampong [kampung] yang belum bisa terbuka terhadap pendatang, tapi secara umum masyarakat sangat terbuka.”

Selain dari sikap para penjaja takjil, keramahan itu bisa segera saya rasakan dari Eka, perempuan berusia 45 tahun yang energik, yang saat saya temui sedang memilih-milih kue di depan Bioskop Rex. “Sabang ini tempat untuk melepas stress,” ujarnya dengan wajah ceria. Sambil memegang-megang kue yang hendak dibelinya, ia bercerita tentang seorang pendatang dari Jakarta yang kakinya lumpuh karena terserang stroke akibat stress.

“Dia sudah berobat ke mana-mana, akhirnya dibawa ke sini. Setelah beberapa tahun tinggal dan beli rumah di sini, akhirnya sekarang sudah bisa jalan normal lagi,” Eka mengisahkan. Saya tidak tahu apakah itu kisah nyata atau sekadar isapan jempol. Yang jelas, suasana tenteram memang terasa di sini.

Menyinggung soal aturan-aturan syariah terkait kegiatan pariwisata, Ali menuturkan bahwa di Sabang hampir tidak ada hambatan atau benturan. “Bahkan beberapa kegiatan syariah malah dianggap menarik oleh wisatawan dan dijadikan tontonan,” katanya diringi tawa. Ia menyebut soal penjudi yang dihukum cambuk baru-baru ini, yang mendapat perhatian dari para wisatawan asing.


Di ujung senja, angin sepoi-sepoi menemani saya dan dua orang rekan perjalanan berkeliling pulau. Jalan utama di Pulau Weh bagus sekali. Berkendara di pulau ini mirip dengan berkendara di kawasan Puncak, Jawa Barat. Bedanya, di sini jauh lebih sepi dan jauh dari riuhnya kemacetan.

Di sepanjang perjalanan, saya sempatkan menepi untuk sekadar menikmati debur ombak di pantai. Walaupun tidak menyelam, setidaknya saya cukup terhibur hanya dengan memandangi panorama pantainya.

Di pantai Sumur Tiga, sepasang wisatawan asing dengan santainya menikmati matahari terbenam di atas sebuah kursi panjang di tepi pantai berpasir putih. Sementara di pantai Anoi Itam yang karang-karangnya mirip gergasi yang seakan-akan menjaga pantai, tiga orang warga terlihat sedang memancing sambil bersenda gurau.

Menjelang Iboih, tempat saya menghabiskan hari di Sabang yang permai, suara azan Maghrib pun berkumandang. Saatnya berbuka.

Leave a Reply