Nasihat dari Director of Photography majalah Sports Illustrated kepada fotografer

Mendapatkan nasihat atau masukan, insight, dari seseorang yang memiliki kredibilitas memang selalu menyenangkan. Kerap kali, nasihat mereka sederhana, tetapi luput dari perhatian kita, atau kita lupakan karena terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang sebenarnya tidak esensial. Termasuk dalam urusan fotografi.

Awal tahun ini, A. A. Productions, sebuah rumah produksi fotografi melakukan wawancara eksklusif dengan Brad Smithdirector of photography majalah olahraga top, Sports Illustrated. Tema besar wawancara singkat tersebut adalah, apa yang dicari seorang editor (majalah)—dalam hal ini Sports Illustrated—dari seorang fotografer yang hendak mengajukan portofolionya untuk dimuat majalah tersebut.

Menurut Brad Smith, email adalah media yang buruk untuk berhubungan dengan editor karena “amat riskan masuk sebagai spam, dan karena terlalu banyak email yang harus dilihat setiap harinya, sehingga membuat editor kewalahan.” Dirinya merekomendasikan agar fotografer mengirimkan paket portofolio atau semacam deck yang sifatnya lebih personal dan “mengundang editor untuk menyisihkan 15 menit waktunya.”

Selain itu, Anda juga harus berusaha agar editor mudah menemukan informasi lain soal Anda. Semua informasi kontak harus berada dalam satu tempat, dan proposal Anda harus tegas dan lugas (to the point).

Sebelumnya, Photoshelter juga pernah mewawancarai Brad Smith soal fotografer yang diinginkannya.”Saya punya tiga kriteria penting. Pertama, dan yang terpenting, saya akan memilih fotografer yang memiliki konten yang bagus, unik, dan menarik secara visual yang memperlihatkan kedekatan mereka terhadap subjek yang difoto. Saya harus tahu persis bahwa dia memiliki keterampilan fotografi yang mumpuni, bukan soal teknik dan pascaproduksi. Tentu saja dia bergantung pada teknologi tertentu, kamera, pencahayaan, atau Photosop. Itu semua penting, tetapi dia harus memiliki semacam keterikatan yang alamiah dengan subjeknya.

Kedua, bagi Brad Smith, lokasi seorang fotografer. “Jika Anda tinggal di suatu tempat di mana saya tidak memiliki fotografer/koresponden di situ, Anda bisa jadi menarik buat saya. Toh, saya tidak bisa menerbangkan orang ke seluruh dunia,” katanya.

Yang ketiga, kemampuan menyelesaikan masalah. “Sebagai fotografer, Anda harus bisa menyelesaikan beragam masalah, mulai urusan perlengkapan hingga logistik umum. Saya tertarik kepada para pekerja keras, yang mampu mengatasi masalah, dan profesional.

Terkait hal terakhir, saya sebagai editor juga kerap kali menjumpai fotografer yang “manja”, yang sering menelepon saya untuk hal-hal sepele yang bisa mereka selesaikan sendiri, terutama urusan dengan narasumber dan kontak-kontak di lapangan. Sebagai fotografer, Anda harus bisa memecahkan masalah-masalah teknis di lapangan yang tidak terkait langsung dengan urusan kebijakan kantor yang menugaskan Anda. Kecuali jika memang menyangkut hal krusial, dan dibutuhkan “keputusan eksekutif” yang jika tidak dilakukan akan mengancam keberlangsungan liputan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *