Menelisik sisi terdalam kehidupan subjek foto dengan ‘environmental portrait’

Pekerjaan mengurasi foto di Fotokita adalah saat-saat yang selalu menyenangkan sekaligus mendebarkan buat saya. Para FK-wan pengunggah foto kerap kali menghadirkan kejutan lewat imaji yang mereka bagi di situs ini.

Memang, tidak dapat dimungkiri, banyak pula FK-wan yang masih mengirimkan foto “ala kadarnya”, tetapi toh tempat ini memang buat belajar bersama-sama, bukan?

Salah satu foto yang membuat saya terkesan akhir-akhir ini adalah foto potret seorang porter di pegunungan Papua (Carstenz Pyramid).

Foto karya Nurhuda di atas merupakan salah satu contoh paling baik tentang environmental portraitEnvironmental portrait didefinisikan sebagai potret yang memperlihatkan subjek dengan latar lingkungan tempat ia beraktivitas sehari-hari. Kekuatan environmental portrait sebagai subgenre dari fotografi potret—dibanding potret biasa di studio atau potret dengan latar artifisial—adalah kemampuannya untuk menonjolkan karakter alami dari si subjek, sekaligus merefleksikan seluruh cerita dalam perikehidupannya.

Karakter penting dari genre ini adalah menjadikan latar belakang sebagai elemen yang sama pentingnya dengan imaji subjek sendiri. Alhasil, secara teknis, depth of field dari environmental portrait biasanya lebih luas ketimbang foto potret biasa. Penggambaran lingkungan tempat hidup dan beraktivitas subjek kita menjadi semacam jembatan bagi pemirsa untuk memahami cerita yang hendak kita sodorkan selaku fotografer.

(Baca juga: Environmental Portrait: Saidah, 33 tahun, istri pemulung)

Dan, foto Nurhuda ini telah menjalankan tugasnya dengan baik. Kerasnya pegunungan Papua digambarkan dengan tekstur rimba yang—pada banyak sisi—terlihat menakutkan; seperti dalam dunia-dunia dongeng karangan Tim Burton. Kaki subjek yang berlumur lumpur juga memperlihatkan bahwa hutan ini begitu ganas. Penjelasan di caption semakin mengukuhkan kehidupan sang porter; bahwa dia mendaki pegunungan setinggi lebih dari 4.000 meter tersebut hanya dengan perlengkapan seadanya, tanpa jaket tebal atau kantung tidur, bahkan bertelanjang kaki. Hal yang tidak akan dilakukan pendaki profesional sekalipun.

Dari sisi teknis, pencahayaan foto ini juga terbilang baik. Padahal, memotret di lingkungan hutan atau pegunungan kerap kali agak tricky. Postur dan gestur subjek juga bagus. Tatapan matanya tajam, tanpa tendensi yang kentara untuk berpose, walau dalam genre ini disahkan.

Environmental portrait memberikan konteks yang natural tentang kehidupan subjek kita. Kadangkala, Anda bahkan tidak perlu banyak bercerita, karena foto-foto Anda secara sukarela melakukannya. Terus memotret!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *