Memperkenalkan fotografi kepada anak-anak

Foto Kelly Sikkema on Unsplash

Anak-anak (usia 4-13 tahun) memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Pada usia inilah mereka mulai mengenal lingkungan sekitarnya, dan berani mengeksplorasi apa pun, bahkan hal-hal yang mungkin bisa membahayakan mereka.

Tidak heran, banyak orang tua mengajarkan hal-hal esensial pada anak usia ini, seperti berkata-kata, berjalan, dan pengembangan saraf sensorik dan motorik dasar lainnya. Namun, sedikit yang berpikir untuk menambahnya dengan keterampilan lain. Memotret, misalnya.

Fotografi sangat cocok buat anak-anak saat mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar. Keasyikan melirik viewfinder atau layar LCD, atau menekan tombol shutter pasti menjadi daya tarik yang luar biasa buat mereka. Saya mempraktikkannya pada anak pertama saya, hingga ia akhirnya memiliki photoblog sendiri.

Bagaimanakah langkah-langkah memperkenalkan fotografi pada anak? Tentu saja banyak cara. Bahkan, ada sebuah kursus online yang secara serius membuat kurikulum tentang hal ini. Tetapi, pada umumnya, hal-hal berikut ini bisa diterapkan oleh orang tua mana pun.

1. Pilih kamera saku yang kecil, bisa juga kamera ponsel
Tentu saja, jangan berikan anak Anda sebuah kamera SLR, karena berat dan berisiko terjatuh saat digenggam. Saat ini banyak kamera ponsel seharga di bawah satu juta yang memiliki kamera yang cukup baik untuk belajar.

2. Perkenalkan fungsi dasar kamera
Meski kamera ponsel biasanya tidak memiliki banyak fitur—praktis tinggal tekan tombol shutter—perkenalan soal prinsip cahaya, exposure, dan ISO tidak ada salahnya disampaikan, meski harus dengan bahasa dan analogi yang sesederhana mungkin.

3. Ajari tentang komposisi
Anak-anak biasanya senang memotret apa pun yang menarik perhatian mereka (kita juga begitu, bukan?), sehingga kerap kali mengabaikan soal komposisi. Perkenalkanlah prinsip dasar soal angle dan komposisi, seperti memilih dan menempatkan point of interestframing, atau prinsip sepertiga. Sekali lagi, gunakan bahasa sederhana.

4. Mulai memotret apa?
Setelah memahami prinsip dasar, mulailah praktik. Pertama kali, mintalah anak Anda memotret apa pun yang ada di dalam rumah: perabotan, orang (anggota keluarga), mainan mereka, apa pun. Dengan cahaya yang minim di dalam ruang, ingatkan kembali soal prinsip ISO dan exposure.

5. Menjelajah ke luar rumah
Setelah memotret di dalam, mulailah beri tantangan untuk memotret apa pun yang ada di luar rumah, sekaligus mengajari mereka tentang available natural lightgolden hoursshadow, dan lain-lain. Mintalah anak memotret rumah Anda dari berbagai sisi, lalu minta ia membandingkan mana hasil yang paling bagus. Dengan begitu, ia belajar tentang arah cahaya dan shadow. Tantang juga mereka memotret bunga atau tanaman, hewan-hewan di sekitar rumah (kucing/anjing/peliharaan lain, kalau ada).

6. Evaluasi dan apresiasi
Setelah puas memotret, jangan lupa untuk mengecek hasilnya, dan mencocokkan dengan apa yang sudah dipelajari. Terakhir, berikan ia apresiasi atas segala upayanya untuk belajar.

Pada prinsipnya, anak-anak tetap menyukai kebebasan. Jadi, jangan terlalu memaksakan kehendak Anda, atau terlalu berambisi untuk menjadikan anak Anda fotografer hebat, atau menetapkan standar yang tinggi. Toh, aktivitas ini bisa dijadikan momen untuk bersenang-senang dan meluangkan waktu bersama anak-anak Anda, bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *