Kampung bernama Indonesia, dari balik lensa Stefano Romano

Indonesia, negeri dengan beragam warna budaya dan lekuk lanskap, telah lama menarik minat bangsa asing. Nusantara bahkan pada akhirnya terpaksa merasakan penderitaan penjajahan akibat melimpahnya kekayaan yang dimiliki.

Namun, tidak sedikit para pelancong yang betul-betul jatuh cinta dan mengapresiasi negeri ini dengan cara mereka: lewat penelitian, lukisan, buku-buku, atau…fotografi.

Stefano Romano, fotografer asal Italia, adalah satu dari banyak fotografer luar negeri yang ikut terpincut untuk mengabadikan Indonesia—negara yang begitu dicintainya—dalam bingkai-bingkai foto.

Soal jarak ini ditegaskan Kang Asep Rohman (panggilan setengah kelakar dari sahabat-sahabatnya di sini) dalam pembuka kata pengantar buku fotonya, Kampungku Indonesia, yang diterbitkan Mizan pada Juni 2016. “Mungkinkah seseorang merasakan suatu negeri sebagai kampung halamannya, padahal dia bukan berasal dari sana?” tulisnya.

Kisah cinta Stefano pada Indonesia, terutama pada kampung-kampungnya, ibarat sebuah adegan film-film romantis: cinta pada pandangan pertama. Padahal, ia belum mengunjungi semua pulau Nusantara. “Ini pasti karena cahaya unik yang saya temukan hanya di sana, karena hamparan hijau yang menyapu mata saya, dan di atas itu semua karena orang-orangnya, wajah-wajah mereka, wajah anak-anaknya. Wajah-wajah yang melintas di lensa kamera saya, meski hanya untuk sejenak, tapi takkan pernah dapat saya lupakan,” jelas Stefano.

Buku ini menampilkan foto-foto yang menjadi jendela tentang kecintaan Stefano pada kehidupan kampung di Indonesia, selama kunjungannya pada 2011—2014. Pesan yang disampaikannya adalah kehidupan kampung asli Indonesia yang mulai tergerus oleh arus modernisasi. Dalam pandangannya, kehidupan kampung merupakan cermin kekhasan gaya hidup orang Indonesia yang sejuk dan ramah.

Stefano lahir di Roma pada 1974. Ia menyelesaikan studi pada jurusan Psikologi dan Estetika, Fakultas Sastra dan Filsafat, Universitas La Sapienze, Roma, pada 2001. Mulai bekerja sebagai fotografer sejak 2009, Stefano banyak memotret komunitas migran dari berbagai etnis di Roma, khususnya Bangladesh, Maroko, Filipina, Thailand, dan Indonesia, dan menjadi fotografer resmi Kedutaan Indonesia dan Malaysia di Roma.

Berkonsentrasi pada fotografi potret, foto-fotonya telah diterbitkan di beberapa majalah dan digunakan sebagai ilustrasi buku dan sampul buku. Dia telah mengadakan pameran foto berkolaborasi dengan L’Albero della Vita dan Shoot4Change, di Milan pada Mei 2012. Pameran fotografi pribadinya yang berjudul “Children of the World-Children Save Me”, berlangsung pada November 2011 dengan dukungan dari Roma Capital-City Hall VI.

Pada 2012, pameran fotografinya yang dikuratori oleh Occhio dell’Arte menampilkan beberapa foto yang diambil di Indonesia. Salah satu fotonya terpilih untuk kartu anggota tahunan Amnesty Internasional Italy 2014 dan 3 fotonya digunakan dalam Kalender 2015 edisi peringatan 40 tahun Amnesty International.

Sejak 2013 hingga kini, Stefano menjadi jurnalis lepas untuk Frontiere News, dan mengajar kursus fotografi pada berbagai lembaga di Italia dan Indonesia, dan satu tahun terakhir di Piuculture. Peraih penghargaan Knight of Rizal dari Pemerintah Filipina pada 2015 ini bisa berbahasa Inggris, Tagalog, dan Indonesia.

Melihat buku Kampungku Indonesia seperti menyelami dalamnya samudra kearifan di berbagai daerah di Indonesia; anak-anak Bekasi yang bermain bola sambil mandi hujan, ibu-ibu yang mencuci pakaian di sungai di daerah Batu Jaya, Karawang, kelas kecil pelajaran mengaji di Slipi, dan banyak lagi. Porsi yang besar diberikan pada anak-anak, yang—sebagaimana kutipan yang dibubuhkannya pada halaman 131—merupakan generasi yang bakal meneruskan pengetahuan, dari masa ke masa.

SPESIFIKASI BUKU
Jumlah halaman: 172
Ukuran: 21 x 27 cm
Sampul: Hard cover
ISBN: 978-979-433-945-9
Jadwal Terbit: Juli, 2016
Harga: Rp199.000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *