Jadikan karya Anda sebagai legenda pribadi Anda

William Christenberry

Pada 1967, William Christenberry memotret bagian depan sebuah kafe. Sebuah foto yang sederhana. Empat tahun kemudian, ia kembali memotret subjek yang sama, di lokasi yang sama. Lalu, ia mengulanginya lagi pada 1978, dan 1980.

Apa yang ingin dicapainya? Teju Cole menafsirkannya sebagai upaya menjadikan fotografi, atau foto, sebuah saksi atas waktu. Bahwa waktu mengubah segalanya.

Saya tidak ingin mengulas lebih dalam soal itu, karena sudah dilakukan Cole. Saya hanya tertarik pada betapa fotografi bisa memberikan berjuta kemungkinan kepada siapa pun untuk menghasilkan suatu karya. William Christenberry membutuhkan sekitar 13 tahun hanya untuk memotret wajah sebuah kafe kecil di pojokan desa di Amerika. Sementara, kita, di sini, memiliki begitu banyak hal untuk diceritakan.

Kita terlalu sering dicekoki ide-ide rumit yang membuat proses kreatif untuk memotret mandek. Berapa banyak ide kecil yang akhirnya tenggelam hanya karena kita atau teman kita, atau atasan kita, menganggapnya “recehan”, tidak menarik, kurang spektakuler, minim share of voice, dan pendapat sejenisnya. 

Saya termasuk satu di antara orang yang sempat menjadi hakim yang menyebalkan dalam hal ini. Saat menjadi editor di National Geographic Indonesia, saya sering menolak ide-ide fotografi sebagai “tidak kuat”, “klise”, “monoton”, “tidak menarik”, dan sebagainya. Padahal, bisa jadi, ide itu hanya tidak cocok di majalah saya, tetapi bisa kuat di tempat lain. Atau, ide itu, beserta contoh visualnya, tidak sesuai dengan selera saya?

Pada titik ini, saya hanya ingin mengatakan, memotretlah. Perbanyak referensi visual. Jadikan ia sebagai legenda pribadi Anda. Media bukanlah penentu bagus-tidaknya karya Anda. Andalah yang menentukan, dengan reasoningAnda sendiri, apakah foto Anda kuat atau tidak.

Catatan ini berlaku juga untuk saya sendiri.

Salam. 

3 Replies to “Jadikan karya Anda sebagai legenda pribadi Anda”

  1. saya sekarang belajar mendokumentasikan di instagram, mas. rupanya tidak mudah untuk terus jeli melihat dan mencoba mengabadikannya dalam sebuah foto. saya coba bikin #1day1pic untuk “memaksa” saja masih sering bolong dan keteteran, kesulitan mencari “ide” yang bisa difoto.

    Reply

    1. Itu udah bener Zam. Intinya sih learning by doing, klise, memang begitu adanya. Tetap memotret!

      Reply

    2. Oh iya soal ide, sebenarnya tidak perlu “dicari”. Dalam fotografi, semakin kita sering melihat “ke luar” ide itu datang dengan sendirinya. Bahkan dari halaman rumah sendiri.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *