I’m leaving NatGeo Indonesia

Bulan Juni ini adalah bulan terakhir saya bekerja untuk National Geographic Indonesia (NGI). Setelah bekerja sekitar 10 tahun delapan bulan, saya mengundurkan diri dari NGI dengan mekanisme “voluntary separation”, atau pensiun dini.

Saya adalah pembaca setia NG (berbahasa Inggris), sejak usia SMP. Majalah ini menjadi satu-satunya bacaan yang bisa memaksa saya mojok sendirian di perpustakaan. Seakan-akan, majalah ini menjadi “pintu Doraemon” yang bisa membawa saya ke mana saja. Di kampus, saya sering menyobek beberapa bagian artikel/foto yang menjadi favorit saya. Jadi, jangan heran jika di perpustakaan kampus FMIPA UI ada majalah NG yang halamannya hilang 🙂

Majalah ini pula yang dulu menginspirasi saya untuk mendaftar menjadi pencinta alam di sekolah menengah atas, dan kemudian jadi orang yang sering keluyuran. Namun, hasrat bertualang itu harus saya tahan ketika kuliah (pada masa kuliah, frekuensi naik gunung dan jalan-jalan menurun drastis). Keinginan untuk mendaftar di MAPALA UI pun harus ditekan karena khawatir mengganggu kuliah.

Ketika pertama kali mendengar kabar bahwa kelompok Kompas Gramedia membeli lisensi NGI dari Washington, saya sudah mulai bersiap menanti-nanti lowongan. Koran Kompas Sabtu-Minggu yang memuat lowongan kerja selalu saya lahap.

Saya selalu senang menceritakan hal ini kepada anak-anak muda—dan kadang orang yang lebih tua daripada saya—yang saya temui, yang kerap bertanya bagaimana caranya bekerja di NGI.

Ketika muncul lowongan pertama kali pada 2005, saya tidak membuang kesempatan. Lamaran pun dikirim. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, tidak ada kabar. Lalu sebulan, dua bulan, tiga bulan. Ah, kayaknya gagal, pikir saya. Akhirnya, saya harus memupus harapan.

Setahun kemudian, saat sedang iseng-iseng baca Kompas edisi Sabtu, saya kembali menemukan lowongan NGI! Harapan saya pun membunga kembali. Tetapi, kali ini saya berpikir keras bagaimana caranya agar menarik perhatian tim rekrutmen.

Akhirnya, saya baca-baca majalah NGI yang terbit dalam setahun dan menemukan berbagai masalah editorial di dalamnya. Saya fotokopi halaman-halaman yang “bermasalah” lalu saya coret-coret menggunakan Stabilo dan bolpen untuk memberi penjelasan. Lalu saya kompilasi dan saya tambahkan sampul dengan tulisan besar: “ANDA BUTUH EDITOR BARU”. Itulah lamaran saya, tanpa cover letter yang berbunga-bunga, tanpa curriculum vitae.

Strategi “setengah putus asa” ini ternyata berhasil. Saya dipanggil wawancara. Hal yang saya ingat, ketika pertama kali masuk ke ruang wawancara, orang-orang di dalamnya berkata keras, “Oooh, ini orangnya…” Hahaha…

Begitulah, sampai akhirnya nama saya tercantum dalam masthead (susunan redaksi) NGI.

Bekerja di NGI adalah bekerja dengan talenta-talenta luar biasa. Saya mesti beradaptasi dengan orang-orang yang memiliki hasrat yang jauh lebih besar daripada saya terhadap kotak kuning. Selama ini, saya pikir saya sudah paling memahami dan menguasai NG. Ternyata tidak. Saya dipaksa untuk “raise the bar”, meningkatkan standar dan belajar lebih keras lagi, mengejar ketertinggalan.

Saya beruntung, dalam kurun waktu 10 tahun lebih, saya sempat dibimbing oleh para pemimpin redaksi yang hebat dan inspiratif, mulai Tantyo Bangun, Yunas Santhani Aziz, hingga yang terakhir Didi Kaspi Kasim, yang juga kawan saya dalam bersepeda. Dari tangan dingin mereka saya banyak belajar bagaimana melampaui batas-batas personal, terutama dalam mengejar kualitas pekerjaan dan memberikan inspirasi buat banyak orang.

Tentu saja, selama 10 tahun bersama banyak juga dukanya, tetapi saya memilih untuk membakar kenangan-kenangan buruk dan menjaga ingatan bahagia.

Saya percaya, NGI ke depan akan lebih baik lagi dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Lalu, selanjutnya apa? Saya masih diminta untuk membantu NGI sebagai editor freelance (associate editor/contributing editor), yang dengan senang hati saya terima. Sebagian besar waktu saya akan saya gunakan untuk mengurusi proyek-proyek dialog.id, sebuah konsultan editorial dan desain yang saya dirikan awal bulan ini, meski embrionya sudah saya rintis sejak lama.

Sisanya, dengan status free-transfer, saya terbuka untuk segala peluang kerja sama. Jangan sungkan juga menghubungi saya jika ada hal yang bisa saya bantu seputar editorial design dan content strategy, via email hello [at] firmanfirdaus [dot] com atau hello [at] dialog [dot] id.

Sekadar undangan ngopi atau gowes bareng pun saya terima. 😉

UPDATE:

Agustus 2017: Saya kini bergabung dengan tim Katadata.co.id, sebagai web/UI designer.

2 Replies to “I’m leaving NatGeo Indonesia”

  1. wah, saya baru tau ini ceritanya mas Daus gabung ke NGI.. menarik!

    btw, kesan NGI ini begitu lekat di kepala saya, saat saya mulai kenal mas Daus dari blog daus.trala.la (iya, ini lama sekali). dan pas sempet sekantor di KG (meski beda divisi), salah satu orang yang pertama kali ingin saya temui adalah mas Daus, loh..

    sukses terus, mas! meski tempat tinggal kita ternyata dekat, tapi kita belum sempet ketemu ngopi-ngopi..

    Reply

    1. Wahaha jadi tersanjung, hehe. Sama-sama, dirimu juga sukses terus yaa…

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *