Categories
Photography Photojournalism Street Photography Travel Story

Wildlife Dream

People pose with wildlife giant banner as a background, in Jakarta (2019).
Categories
Photography Photojournalism Travel Story

Queuing

Parang Gombong, Purwakarta, Firman Firdaus
Sheeps are queuing to water source, at Parang Gombong Dam, Purwakarta Regency, West Java, Indonesia, Saturday (Oct 19, 2019). Most of Indonesian regions are having long drought season this year.
Categories
Photography Travel Story

PDF download: Travel Photography Essentials

Saat masih bekerja di NatGeo, saya kerap diminta untuk berbagi tentang jurnalisme, fotografi, atau lebih spesifik lagi; fotografi perjalanan (travel photography).

Dari beberapa kali sesi berbagi dan tanya-jawab (baik formal maupun informal), akhirnya saya membuat semacam outline atau template yang biasanya saya gunakan sebagai bahan presentasi, dengan penyesuaian di sana-sini, tergantung audiens yang akan saya hadapi. Responsnya sangat positif.

Nah, daripada berkas ini mengendap di hardisk—yang saya sendiri tidak bisa menjamin bakal bertahan berama lama—saya bagikan saja di sini untuk diunduh oleh kawan-kawan.

Bagi yang berminat, silakan unduh file pdf di tautan ini. Sebagai info, jangan berharap salindia (slide) presentasi ini berisi penjelasan panjang lebar. Saat memberi presentasi, saya lebih suka bercerita ketimbang “membaca ulang” apa yang ada pada salindia. Jadi, biasanya saya hanya menampilkan poin-poin pada salindia.

Semoga bermanfaat!

Catatan: semua foto dalam salindia tersebut adalah karya asli saya, saya membebaskan kawan-kawan untuk menggunakannya tanpa perlu izin. Asal jangan dipakai buat produksi iklan ya 🙂

Categories
Photography Photostory Street Photography Travel Story

The Many Faces of Istanbul (+Bursa)

Istanbul, as Alex Webb pointed out, is another kind of border—between East and West, Islam and secularism, ancient and modern. I visited the city in February 2019, and the scents of the many entities (religion, culture, history, economy, technology, modernity, etc) merged in a natural way, and apparently will continue to thrive.  

Formerly known as Byzantium and Constantinople, it is the most populous city in Turkey and the country’s economic, cultural and historic center. Istanbul is a transcontinental city in Eurasia, straddling the Bosporus Strait (which separates Europe and Asia) between the Sea of Marmara and the Black Sea. Its commercial and historical center lies on the European side and about a third of its population lives in suburbs on the Asian side of the Bosporus. (Wikipedia)

In this short visit, i managed to capture a glimpse of people’s life in Istanbul, as well as Bursa, a large city located in northwestern Anatolia, within the Marmara Region. It is the fourth most populous city in Turkey and one of the most industrialized metropolitan centres in the country.

*All photos taken with my cellphone. Kind of sad, that i didn’t bring a proper camera for this trip.

Categories
Travel Story

Cycling connects people

“It connects people. Having a conversation with somebody who rides a bike is so easy. Strangers can become friends, anywhere in the world. That’s my favourite thing about cycling.”

Duke Agyapong
Categories
Photojournalism Photostory Travel Story

Orang-orang di Tepian

Tepian adalah sebuah desa di Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Dihuni oleh mayoritas suku asli Tidung, desa yang bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam perjalanan speedboat dari Kota Tarakan ini bisa dikatakan belum tersentuh pembangunan.

Categories
Photography Photostory Travel Story

Imaji pesona Australia Barat

Saat menyertai tim #NGTravelMate menjelajahi Australia Barat pada 5-10 April lalu, saya diberi kesempatan menggunakan Samsung NX1 untuk mengabadikan lekuk-lekuk negeri Australia Barat yang memesona. Mulai dari denyut kota Perth hingga kawasan Swan Valley yang merupakan sentra produksi makanan dan anggur di negara bagian itu.

Berikut adalah beberapa imaji yang sempat terekam.

Nikmati pula sajian khusus Australia Barat dalam National Geographic Traveler edisi Juni 2016.

Categories
Travel Story

Menanti Momen Gerhana hingga Nyaris Tertinggal Pesawat

Saya menerima undangan untuk meliput gerhana matahari total pada Minggu (6/3) dari Angkasa Pura I (AP I), untuk berangkat pada Selasa (8/3). Lokasinya, Balikpapan. Untuk sebuah liputan yang membutuhkan persiapan khusus, tentu saja itu waktu yang agak mepet. Apalagi, pihak AP I tidak langsung menyampaikan rincian kegiatan di lapangan (itinerary).

Tetapi, mengingat ini momen langka, redaksi National Geographic Indonesia, yang membawahi Fotokita.net tempat saya bernaung, tetap menerima undangan tersebut. Saya pun segera melakukan riset kecil-kecilan seputar lokasi yang akan diliput.

Dari hasil riset, saya mendapatkan dua tempat/spot yang mungkin akan saya kunjungi di Balikpapan, yakni Lapangan Merdeka dan Pantai Manggar. Lapangan Merdeka berjarak lima menit naik motor dari hotel tempat saya menginap, sementara Pantai Manggar sekitar 15-20 menit dengan motor (jika dengan mobil bisa setengah jam).

Sehari sebelum keberangkatan, pihak pengundang barulah mengirimkan itinerary; di situ tertulis bahwa liputan gerhana dilakukan pada pukul 7.00-9.00 di sekitar kawasan bandara (yang hanya bisa dimasuki oleh internal AP I), tetapi pukul 9.30 harus segera kembali ke bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS), Sepinggan, untuk terbang ke Berau.

Lokasi ini tidak sesuai rencana saya, karena saya ingin menangkap suasana dan ekspresi masyarakat umum saat menyambut gerhana. Akhirnya saya meminta izin untuk tetap meliput sesuai rencana yang sudah saya susun, dengan risiko saya harus bisa mengatur waktu sendiri.

Saya pun memutar otak agar proses peliputan sesuai dengan alokasi waktu. Akhirnya, saya putuskan untuk berangkat dari hotel pada Rabu (9/3) pagi ke Lapangan Merdeka saja, dan melupakan target Pantai Manggar karena khawatir tidak terkejar waktunya.

Pukul 5.00 pagi, setelah check-out dari hotel, saya berangkat menumpang ojek ke Lapangan Merdeka. Suasana masih gelap dan melompong, tetapi di kawasan Pantai Kilang Mandiri di seberang Lapangan Merdeka, warga sudah berbondong-bondong mem-booking tempat paling strategis untuk menyaksikan momen yang langka ini.

Saya berpesan pada tukang ojek—yang lupa saya tanyakan namanya—untuk menjemput saya di tempat yang sama pada pukul 8.00, karena setidaknya pukul 9.00 saya sudah harus berada di bandara Sepinggan kembali. Lama perjalanan dari Lapangan Merdeka ke bandara sekitar 15-20 menit; dalam keadaan normal. Hal yang kemudian luput saya antisipasi.

“Saran saya, bapak titip saja tas pakaian sama saya, daripada repot bawa-bawa dua tas kayak gitu,” ujar tukang ojek saya. “Ya, itu kalau bapak percaya sama saya,” tambahnya. Saya pikir, itu ide bagus. Akhirnya saya titipkan tas pakaian saya pada tukang ojek yang baik itu.

Tidak sampai hitungan jam, kawasan Pantai Kilang Mandiri di Lapangan Merdeka sudah dipenuhi warga, hingga menutupi jalan raya. Saya asyik berkeliling, mengobrol sana-sini dengan beberapa pengunjung, memotret tingkah polah yang unik dan menarik. Hingga saya lupa waktu.

Sekitar pukul 8.20 WITA (saat itu totalitas gerhana sudah lewat) saya baru ingat bahwa saya harus segera menuju bandara. Saya telepon tukang ojek, ternyata dia masih terjebak macet entah di mana. Saya menunggu dengan rasa cemas.

Saya keluar kawasan pantai dan menuju ke jalan raya Lapangan Merdeka dan mendapati bahwa para pengunjung secara serentak hendak bubar. Keadaan kacau balau. Jalanan penuh dengan mobil, motor, dan pejalan kaki. Mampet. Saya tidak yakin tukang ojek saya bisa mencapai tempat ini tepat waktu. Saya berpikir, saya pasti ketinggalan pesawat.

Namun, seorang wartawan harus memiliki naluri yang kuat untuk keluar dari persoalan sepelik apa pun. Naluri wartawan saya berkata, saya harus cari orang lain di sini yang bisa mengantar saya ke bandara, jadi saya tidak perlu menunggu tukang ojek yang tidak pasti kapan akan tiba. Artinya, saya harus rela untuk tidak membawa tas pakaian ganti—yang saya titipkan di tukang ojek—dalam perjalanan ke Berau. Toh saya bakal kembali ke Balikpapan tanggal 11 Maret untuk pulang ke Jakarta.

Saya melihat seorang anak muda bermotor yang sepertinya hendak siap-siap keluar dari area parkir. Saya memberanikan diri menghampirinya.

“Dik, bisa antara saya ke bandara? Saya harus mengejar pesawat. Tukang ojek pesanan saya sepertinya terjebak macet entah di mana,” kata saya, dengan tetap berusaha tenang. Saya janjikan sejumlah uang sebagai iming-iming.

Tetapi, sepertinya dia tidak terlalu tertarik dengan uang. Dia bingung. “Macet begini, Bang?” katanya, dengan wajah agak panik. Terus terang, saya merasa bersalah telah melibatkan dia dalam persoalan saya. Tetapi, apa boleh buat?

Saya terus membujuk. “Tidak apa, yang penting kita jalan sekarang. Kalau tidak terkejar, ya nasib. Tetapi setidaknya kita berusaha,” kata saya. Dia menoleh ke kiri, ke kanan, seperti mencari-cari jalan. “Oke kita coba ya!”

Keluar dari area Lapangan Merdeka butuh perjuangan dan kesabaran. Jalanan di mana-mana ditutup. Di salah satu ruas jalan, bahkan berhenti total hampir 10 menit. Padahal, setiap menitnya amat berharga.

“Kita lewat kompleks Pertamina ya Bang, agak jauh, tetapi semoga kosong,” kata pemuda—kali ini saya tidak lupa menanyakan nama—bernama Hayyul itu. Dia orang Bontang, tetapi sedang kuliah jurusan perminyakan di Balikpapan. Saya iyakan saja, lagi pula saya buta daerah sini.

Waktu terus memburu. Hayyul tancap gas. Syukurlah, jalan alternatif yang kami tempuh lancar. Sekitar pukul 9.20 akhirnya kami sampai di bandara SAMS. Saya memberikan uang yang saya janjikan, tetapi Hayyul tegas menolak. Saya memaksa. Akhirnya dia luluh. Tergopoh-gopoh, saya berlari menuju terminal keberangkatan. Rekan-rekan lain sudah menunggu di sana.

Categories
Travel Story

Tentang Perjumpaan dan Perpisahan

Menghayati perjalanan bersepeda Manado-Makassar.

Lelaki itu berdiri terpaku di bibir dermaga. Sesekali, ia mengusap air mata di pipinya, seakan-akan menyembunyikan kerapuhannya dan berusaha tegar, sebagaimana lelaki seharusnya.

Anaknya, seorang bocah perempuan, menangis meraung-raung di atas buritan kapal. Ia ingin kembali bersama ayahnya. Tangannya meraih-raih, ingin memeluk. “Masih kangen,” kata Lisa, sang ibunda, yang berusaha menenangkan amuk anaknya dengan kesabaran khas seorang ibu. 

Sang ayah, pada senja yang hampir pupus itu hanya bisa pasrah melepas kepergian anak dan istrinya, di Dermaga Pulau Walea Besar, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

Lelaki berbadan kurus namun liat itu harus menetap di Pulau Walea Besar untuk mencari nafkah dengan menanam cengkih, sementara istri dan anak-anaknya harus kembali ke rumah mereka di Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah. Melanjutkan hidup.

Di latar belakang, rumah-rumah apung nelayan yang terbuat dari kayu lamat-lamat terlihat. Aktivitas di dermaga jauh lebih riuh ketimbang di permukiman sana. Tidak setiap hari kapal perintis singgah di pulau kecil ini. 

Sekalinya singgah, tentu saja menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bepergian dengan berbagai tujuan. Utamanya tujuan ekonomi. Atau sekadar melepas rindu seperti yang dilakukan Lisa dan anaknya.

Saya menyaksikan drama itu, reality show yang sebenarnya itu, dari atas Kapal Motor Feri Cengkih Afo. Bersama 50-an orang lainnya, saat itu saya sedang dalam perjalanan menyeberang dari Pelabuhan Marisa di Provinsi Gorontalo, ke Ampana, Sulawesi Tengah, yang merupakan Etape ke-5 dalam perjalanan Jelajah Sepeda Manado-Makassar. 

Perjalanan menyeberang ini—yang menurut jadwal akan memakan waktu 15 jam—serta etape-etape lainnya, pada akhirnya bukan hanya soal meniti rute bersepeda saya, melainkan juga refleksi akan arti perjumpaan dan perpisahan.

***

Inilah perjalanan jelajah sepeda (selanjutnya ditulis “Jelajah” untuk mempersingkat) yang digadang-gadang paling jauh—dan paling berat—dari seluruh perhelatan Jelajah yang sudah menjadi flagship bagi Harian Kompas selama enam tahun belakangan ini. 

Pada 2008, Kompas sudah menyelenggarakan Jelajah, dengan rute Anyer-Panarukan sejauh 1.100 kilometer. Dua tahun kemudian, digelar Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta dengan jarak total 1.000 kilometer. Lalu, pada 2011 tim Jelajah melintasi rute Jakarta-Palembang sejauh 810 kilometer. Jelajah Sepeda Bali-Komodo sejauh 720 kilometer pada 2012 merupakan penyelenggaraan yang keempat.

Tahun lalu, digelar Jelajah Sepeda Sabang-Padang sejauh 1.593 kilometer, dan tahun ini Jelajah Sepeda Manado-Makassar hadir sebagai penyelenggaraan keenam. 

Ambisi Kompas, sebagaimana kerap didengungkan oleh Budiman Tanuredjo, Wakil Pemimpin Redaksi—yang juga mengikuti hampir seluruh etape dalam Jelajah tahun ini—adalah “merajut Nusantara lewat sadel sepeda, melintasi dan melaporkan kondisi terkini, mulai dari infrastruktur, masalah-masalah sosial, hingga potensi pariwisata daerah-daerah yang akan dilalui.”

Melihat jarak saja, bisa dipastikan bahwa Jelajah kali ini adalah yang terjauh dibandingkan perjalanan Jelajah sebelumnya. Namun, bisa jadi, ini juga merupakan Jelajah paling kaya nuansa kuliner. 

Sampai di Sulawesi pada Minggu (17/8) siang, kami langsung menuju Desa Lembean, Kauditan, Minahasa Utara. Tanpa basa-basi sambutan yang berlebihan dari tuan rumah, kami disuguhi keramahan yang orisinil dan aneka kuliner khas Sulawesi.

Berhubung belum terlalu lapar, saya menyambut kue lampu-lampu. Kue lunak yang terbuat dari tepung beras dan berwadah janur kelapa ini mesti dimakan dengan sendok, karena gula di dalamnya bakal meleleh saat kita gigit. Enak sekali. 

Tangan saya tidak berhenti menggerayangi meja makan. Kali ini, saya mencomot kue kuk, kue berwarna merah dengan parutan kelapa di dalamnya. Saatnya menu utama, saya meraih nasi dan sayur pangi. Daun pangi—yang konon hanya ada di Sulawesi—dicacah lalu dimasak dalam bambu, jadilah sayur pangi. Tidak lupa, saya meraih seekor ikan cakalang asap, agar kunjungan ke Sulawesi tidak terkesan sia-sia.

Sejenak, beban berat yang akan dihadapi esok saat harus bersepeda menanjak ke Tomohon pun terlupakan. Ditambah lagi, kami menandaskan menu khas Sulawesi ini sambil berjoget dengan iringan musik kolintang.

***

Kota Manado masih terasa sepi, padahal saat itu hari Senin. Kemarin, warga baru saja merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69. 

Momentum hari kemerdekaan itu menjadi salah satu bahan bakar semangat kami dalam memulai penjelajahan bersepeda, yang akan dimulai dari Manado hingga Makassar; dari ujung utara Sulawesi ke ujung selatannya, melintasi empat provinsi; Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Jarak yang akan kami tempuh kurang lebih sekitar 1.700 kilometer.

Saya memulai etape pertama dengan riang gembira. Jarak yang harus ditempuh hari ini adalah 84 kilometer, yakni dari Manado menuju Amurang, lewat Tomohon. Saya tahu, itu jarak di atas kertas. Saya yakin jarak sebenarnya lebih dari itu.

Rute Manado-Tomohon mengingatkan saya pada lintasan Bogor-Puncak. Menanjak panjang, tetapi udaranya sejuk. Bedanya, rute menuju Tomohon ini lebih sepi dari lalu-lalang kendaraan. Tentu saja. 

Tomohon merupakan sebuah kawasan subur yang berlokasi 22 kilometer sebelah timur Manado. Slogan kota ini adalah “Menyapa Dunia dengan Bunga” karena Tomohon memang dikenali sebagai  penghasil bunga. Saat musimnya tiba, bunga-bunga indah bermekaran di kiri-kanan jalan, hingga di rumah-rumah penduduk. 

Tomohon juga menjadi tuan rumah bagi Tomohon International Flower Festival, festival bunga bertaraf internasional. Sayangnya, kami melintasinya setelah perhelatan akbar itu kelar.

Pada 10 kilometer pertama, jalur menanjak hingga ketinggian 250 meter dari permukaan laut (mdpl). Lumayan. Jantung saya mulai bekerja agak keras pada 10 kilometer berikutnya, yang menanjak hingga ketinggian 800 mdpl. Di sisi kanan, puncak Gunung Lokon menemani saya yang pada kilometer ke 20-an sudah mengayuh sepeda seorang diri karena para peserta mulai tercerai-berai akibat jalan menanjak.

Dingin mulai menyergap di kilometer 30-an, karena kami harus bersepeda dengan kecepatan konstan di ketinggian 851 mdpl. 

Energi yang saya peroleh setelah makan siang di Tomohon langsung digunakan untuk menanjak kembali; Sebelum lokasi Danau Linau yang akan menjadi persinggahan, saya dikagetkan oleh tanjakan pendek namun curam.

Ketika setiap kayuhan mengantarkan saya lebih dekat ke Danau Linau, aroma belerang mulai menguar. Konon, Danau Linau merupakan kawah gunung raksasa yang meletus 2.000 tahun lalu. Danau ini terletak di Kelurahan Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon.

Sebagian besar peserta sibuk berfoto ria. Akan tetapi, saya memilih untuk duduk menghayati ketenangan air danau, sambil menikmati desiran angin sejuk khas daerah puncak. Pohon pinus berjajar menaungi sekeliling danau. Di sisi depan saya, warna permukaan air terlihat hijau, namun di sisi seberang menjelma kuning, di sisi lainnya terlihat kemerahan. Ternyata betul, bahwa Danau Linau selama ini juga dikenal sebagai Danau Tiga Warna.

Menuju Amurang, alias titik finis etape pertama, jalan terus melandai. Disambut gerimis tipis, kami tiba di Amurang sebelum gelap. Benar saja, jarak tempuh hari ini 92 kilometer.

***

Tidak banyak yang saya ingat pada etape kedua, selain jalan yang rolling berpuluh-puluh kilometer, sambutan luar biasa di Desa Ongkaw II, Sinonsayang, Minahasa Selatan, dan…menginap di Asrama Armed 19 Lolak di titik finis.

Ongkaw II adalah sebuah desa sekitar 50-an kilometer dari Amurang, atau kurang lebih 120 kilometer dari Manado. Menjelang pusat desa, saya dan pesepeda lainnya merasa agak khawatir karena di depan kami banyak sekali iring-iringan motor. Mereka sama sekali tidak mau memberi jalan untuk rombongan Jelajah.

Wah rusuh nih,” kata salah seorang peserta. Raungan sirine dari mobil patroli kawal pun diacuhkan. Penasaran, saya mendekat dan bertanya kepada salah seorang di antara pria bermotor itu.

“Mau ke mana, Pak?” tanya saya.

“Kita orang mau sambut!” jawabnya.

Ternyata, mereka mau menyambut rombongan pesepeda. Tanpa sadar, air mata saya menetes. Mereka benar-benar mengiringi kami sekitar dua kilometer menjelang pusat desa!

Di desa, suasana lebih ramai lagi. Masyarakat sudah berkumpul di depan rumah-rumah mereka, dan sebagian besar sudah menunggu sejak pukul 7.30 pagi di balai desa (saat itu sudah pukul 11.00). Di depan balai desa, kami disambut dengan gegap gempita marching band yang di antaranya memainkan lagu-lagu daerah Minahasa. Luar biasa, pikir saya. Ini spontanitas yang mengharukan. Dada saya bergetar.

Dalam sambutannya, Susan Lydia Lumi, seorang hukum tua (lurah) Ongkaw II menyampaikan betapa dirinya dan masyarakat bangga bahwa desa mereka dilintasi oleh tim Jelajah.

Di gedung balai desa yang belum kelar dibangun sudah tersedia aneka penganan dan masakan khas Minahasa: pisang goreng sambal dabu-dabu, aneka masakan olahan ikan, jagung rebus dengan bulir yang kuning jernih dan gemuk-gemuk, aneka kue basah dan manis termasuk kue cucur dan nasi jaha, dan rambutan.

Ongkaw II juga dikenal sebagai “kampung rambutan” karena pohon ini tumbuh di setiap rumah penduduk. Di sepanjang ruas Trans-Sulawesi menjelang desa ini memang terlihat kedai yang menjual rambutan.

Semua sajian yang berlimpah ini adalah cermin tradisi mapalus, bahasa Minahasa yang berarti ‘gotong-royong’. “Kami menyiapkannya dengan kerelaan hati. Setiap warga menyiapkan apa yang sanggup mereka sajikan, tanpa dibayar atau dimodali siapa pun,” kata Keintjem, pria berusia 67 tahun yang saya temui di sela-sela keriuhan.

Meninggalkan Ongkaw II, kesedihan itu bukan hanya terasa dalam dada saya, melainkan juga di wajah para warga yang melepas kami. Juga pada lambaian tangan mereka yang tak henti. Beberapa anak kecil bahkan ikut berlari mengikuti kami, seakan ingin menyertai kami sejauh mungkin.

Di asrama Markas Besar Batalyon Artileri Medan (Armed) 19/105 Tarik Bogani, Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow Induk, yang menjadi titik finis di etape ini, para peserta tidur dalam dua ruangan aula besar. Namun, beberapa orang memutuskan untuk membuka tenda.

Kebersamaan—yang memang harus terus-menerus dipupuk karena kami akan terus berjalan bersama selama dua minggu—begitu terasa. Suara dengkuran menjadi hal biasa yang sudah dimaklumi oleh masing-masing peserta. Namun, yang tetap harus diperjuangkan adalah kamar mandi dan colokan listrik.

***

Perjalanan etape ketiga dari Lolak ke Baroko (sekitar 90 kilometer) menjadi ujian serius pertama. Di dua puluh kilometer pertama, road captain kami bahkan merasakan kelelahan akibat kepanasan yang berkisar pada 35-37 derajat Celsius.

Pantai pasir putih Maelang di Kecamatan Sangtombolang, Sulawesi Utara pun menjadi perhentian yang ideal. Langitnya masih biru. Angin bertiup lambat, membelai pucuk-pucuk pohon kelapa. Suasana ini bagaikan oasis di padang pasir. Saya segera melumat buah-buahan untuk mengembalikan energi dan cairan setelah 28 kilometer diterpa panas dan jalan turun-naik.

Namun, penyiksaan dilanjutkan selepas Pantai Maelang. Menuju Baroko adalah ujian daya tahan fisik kami. Beberapa peserta pun berguguran dan memutuskan untuk dievakuasi. Saya tetap mengayuh, mengatur napas dan irama kayuhan, menjaga momentum, melatih kesabaran.

Saya mencoba melampaui lintasan yang berkelok-kelok mengitari sisi bukit dengan mengubah-ubah kombinasi gear agar tidak terlalu menguras tenaga, tetapi juga tidak jauh tertinggal dari rombongan bertenaga kuda di depan. Untungnya, pemandangan laut di sisi kanan bisa menjadi pelipur letih.

***

Lanskap Sulawesi yang berbukit-bukit memang menjadikan rute Jelajah ini lebih menantang ketimbang jelajah-jelajah sebelumnya. Di etape keempat dan kelima (Boroko-Gorontalo-Marisa), tanjakan dan turunan itu masih terus dijumpai. Cuaca panas menjadi “bonus penderitaan” bagi para peserta. Tidak sedikit yang akhirnya menyerah dan memilih dievakuasi.

Menyeberang dari Marisa ke Ampana juga bukan perkara yang menyenangkan, setidaknya buat saya. Sulit bagi saya untuk beristirahat dalam keadaan bergoyang-goyang di laut. Ditambah lagi, kapal harus singgah di dua pulau kecil terlebih dahulu. Hal yang luput diantisipasi oleh panitia.

Alhasil, baru menjelang subuh kami berlabuh di Ampana. Dengan kepala berat karena kurang tidur, saya harus bersepeda dalam kegelapan dini hari dan angin dingin menuju penginapan di Ampana. 

Namun, persinggahan di Pulau Walea Besar, di mana saya menjumpai Lisa dan anaknya yang meraung-raung, justru menjadi salah satu momentum penting yang memberi makna pada perjalanan ini.

Sejak awal perhelatan Jelajah Kompas berlangsung, saya tidak punya sedikit pun ketertarikan untuk mengikutinya. Saya merasa, bersepeda bersama rombongan besar—dengan waktu yang diatur ketat—bukanlah kegiatan yang menyenangkan.

Sampai akhirnya waktu penyelenggaraan Jelajah ini kian dekat, seorang teman menyarankan agar saya ikut. “Ini kesempatan sekali seumur hidup. Kamu akan mendapatkan pengalaman bersepeda yang berbeda. Buat apa setiap hari kamu gowes bike to work kalau belum pernah merasakan ikut Jelajah?” kira-kira begitu sarannya.

Kesan pertama yang saya dapatkan dalam Jelajah adalah begitu banyak hal, pengetahuan, dan wawasan baru yang saya dapat dari rekan-rekan satu tim karena begitu beragamnya latar belakang para peserta: dokter, pegawai swasta, pengacara, pengusaha, jenderal aktif, dan lain-lain. Para peserta pun tidak butuh waktu lama untuk bisa cair, melebur, saling bercanda. Itulah hebatnya sepeda. 

Bersepeda, khususnya dalam Jelajah ini, menjadikan warna kulit, suku, agama, ras, dan latar belakang personal menjadi kabur, berganti dengan semangat kolektif agar kita semua bisa menyelesaikan penjelajahan Bumi Celebes dengan selamat, tanpa kurang satu apa pun.

Etape Manado-Tomohon-Amurang, yang digadang-gadang bakal membuat kaget peserta pun—karena langsung disajikan tanjakan—bisa dilalui dengan penuh senyum. Semua karena dorongan mental dari rekan-rekan satu tim.

Etape-etape selanjutnya memang lebih berat, tetapi berkat kebersamaan yang telah terjalin secara pelan-pelan, tantangan demi tantangan pun berhasil kami lewati. Tidak jarang, rekan penggowes lain memberikan makanan atau minuman ketika tim logistik masih jauh, atau tidak terlihat di belakang. Itu membuat saya terharu, dan menjadi suntikan tenaga yang tidak sedikit.

Soal lintasan, Trans-Sulawesi tidak perlu diragukan lagi. Tidak salah bila naturalis Alfred Russell Wallace menganggap lanskap Sulawesi unik. Semua jenis bentangan alam tersedia di sini: hutan-hutan hijau, sawah-sawah dengan padi menguning, pantai-pantai dengan air sejernih kaca, danau-danau yang menenteramkan jiwa, serta bukit-bukit dengan kicauan aneka satwa di dalam tajuk hutannya. 

Tentu saja, Sulawesi juga kaya akan keragaman budaya dan produk kuliner. Sepanjang perjalanan, hampir tidak ada hidangan yang gagal (kecuali satu, di perbatasan Sulawesi Tengah-Sulawesi Selatan, di mana kami akhirnya terpaksa memesan mi instan karena nasi yang terlalu keras.)

Kekhawatiran saya soal perjalanan bersama dengan aturan waktu yang ketat pun seperti mendapat jawabannya. Sepanjang Jelajah, saya merasa diajari soal bagaimana mendisiplinkan diri, bangun di awal hari, rapi dalam berkemas, setia terhadap batas waktu, dan mengikuti instruksi dari road captain

Perihal kebersamaan, saya juga menemukan bahwa Jelajah merupakan momentum yang pas untuk belajar soal kesetiakawanan, bagaimana mengalahkan ego, tidak bersikap jumawa, mau bekerja sama, menjaga perasaan rekan satu tim, dan saling menjaga.

Terus terang saja, saya merasa mendapat banyak sahabat baru, bahkan keluarga baru, yang selama dua minggu sama-sama mencecap kesenangan dan penderitaan, tawa dan (mungkin) tangis. Dari Lisa dan keluarganya di Dermaga Pasokan, saya diajari bahwa perjumpaan dan perpisahan adalah sebuah keniscayaan, dan hidup harus terus berlanjut.

Categories
Photostory Travel Story

Pulau Weh: Sunyi di Bulan Suci

Lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” tiba-tiba mengiang di telinga saya. Keras. Seketika saya merasa sedang menjadi bagian dari sejarah perjalanan negeri ini. Saya hendak menuju Sabang, kota yang namanya diabadikan dalam lagu tersebut. Inilah kota di Pulau Weh, yang menjadi batas paling barat wilayah kepulauan Nusantara.

Ada dua kekhawatiran saya ketika ditugaskan untuk mengunjungi Sabang (dan Pulau Weh, secara umum). Pertama, dalam kunjungan singkat ini—satu setengah hari—saya tidak akan menyelam atau ber-snorkeling, karena satu dan lain hal. Kedua, saya pergi dalam keadaan berpuasa.

Kenapa dua kekhawatiran itu muncul? Pulau Weh, yang terletak di Laut Andaman, dikenal luas sebagai salah satu surga bagi para peselam. Ada beberapa divespot unggulan di sini, sebut saja Pulau Iboih yang paling terkenal, atau Pulau Gapang, Pulau Rubiah, Pulau Rondo, dan banyak lagi, yang mengandung keanekaragaman spesies ikan dan terumbu karang nan menggoda mata. Karenanya, mengunjungi Pulau Weh tanpa menyelam atau ber-snorkeling membuat saya harus berpikir keras bagaimana mengisahkan perjalanan saya.

Kekhawatiran kedua muncul karena Sabang, dan hampir seluruh daerah Aceh (sebagaimana daerah lain dengan nuansa Melayu yang kental), juga dikenal sebagai nirwana bagi para pemburu kuliner. Dalam keadaan berpuasa, pada siang hari saya akan banyak melewatkan ragam masakan khas Aceh yang pedas asam, citarasa yang paling saya suka (dan terbiasa dengannya, karena istri saya kerap membuat masakan Aceh). Tentu saja, saya masih bisa menikmatinya kala berbuka puasa, tetapi saya merasa tetap ada nuansa yang hilang.

Dalam kunjungan beberapa tahun sebelumnya ke Banda Aceh, misalnya saja, saya bisa menghabiskan hari hanya dengan duduk-duduk santai di kedai kopi: menyaksikan tingkah-polah para lelaki dewasa yang berdebat soal politik, sepak bola, dan hal-hal remeh lainnya. Ditemani kopi Ulee Kareng dengan penganan pulut panggang atau timpan srikaya, satu hari itu saja saya bisa bercerita soal banyak hal.

Walhasil, pertanyaan pertama saya ketika bertemu Bahri, seorang warga lokal yang mengantar saya ke penginapan, adalah: apa yang bisa saya tulis soal Pulau Weh selain soal pantai dan terumbu karang?

Dengan senyum yang terbilang “manis” untuk ukuran seorang lelaki berkulit gelap dan berperawakan besar, Bahri menjawab, “Tidak tahu bang, di sini sepi, apalagi sedang Ramadhan.”

Tentu saja jawaban Bahri tidak membantu saya. Tetapi, saya harus berterima kasih kepadanya karena ia memberikan ide buat saya: saya akan menceritakan betapa Sabang menjelma jadi “kota mati” saat siang hari pada Bulan Ramadhan.

Saya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, sekitar pukul 11.00. Dan, dalam perjalanan dari bandara ke Pelabuhan Ulee Lheue (pelabuhan penyeberangan feri ke Pulau Weh) sepertinya saya bisa menghitung berapa banyak orang yang saya jumpai di jalan. “Kalau hari biasa, nggak sesepi ini bang,” ujar Bahri dengan logat Aceh yang khas.

Sesuai perkiraan saya sejak sebelum berangkat, hampir semua warung makan dan restoran—bahkan warung kecil penjual rokok—tutup. Hanya bengkel, toko pakaian, dan toko-toko lain yang tidak ada kaitannya dengan makananlah yang tetap mengais rezeki pada siang hari di bulan suci bagi umat Islam ini.


Di pelabuhan feri Ulee Lheue siang itu, geliat kehidupan barulah mulai terasa, walau kesan sepi sulit dihindari. Apalagi buat saya, yang sehari-hari terbiasa dengan kemacetan dan antrean manusia di ibu kota. Saya hanya melihat beberapa rombongan kecil, mungkin keluarga, yang membawa gembolan seperti orang yang hendak mudik. Sebagian dari mereka berpakaian bagus dan berwarna-warni. Juga ada beberapa warga Sabang yang memang rutin menyeberang ke Banda Aceh untuk berniaga. Tidak ada hiruk-pikuk yang berarti.

Butuh waktu dua jam dengan kapal feri lambat untuk menyeberang dari Ulee Lheue ke Pelabuhan Balohan di Pulau Weh. Karena kendala jadwal, kami tidak bisa menggunakan kapal cepat. Padahal, dengan kapal cepat, waktu penyeberangan jadi terpangkas hanya satu jam.

Setelah menginjak Sabang, suasana sunyi yang saya jumpai sebelumnya di Banda Aceh seakan tidak berarti. Di beberapa ruas jalan utama di Sabang, beberapa kali saya berada dalam suasana di mana sama sekali tidak ada orang atau kendaraan yang melintas, atau suara yang terdengar, kecuali gesekan dedaunan di pohon. Momen ini, mungkin saja, cocok bagi para pejalan yang ingin mendapatkan suasana yang syahdu dan ingin melarikan diri dari kepenatan hidup.

Sebagai bagian dari provinsi yang sejak lama memiliki julukan Serambi Mekah—karena dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran agama Islam, dan memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam ke Asia Tenggara—dan telah memberlakukan sistem hukum berdasarkan syariat Islam sejak 2001, pemerintah daerah memang melarang tempat-tempat makan untuk buka pada siang hari sepanjang Ramadhan.

Banyak selebaran yang ditempelkan di beberapa sudut kota, yang berisi larangan tersebut. Selebaran ini ditandatangani oleh seluruh perangkat musyawarah pimpinan daerah setempat.

“Di Aceh, sepanjang bulan Ramadhan ada larangan formal bagi pedagang makanan untuk membuka kedai, toko, atau lapak mereka mulai pukul 5.00 hingga pukul 17.00,” Ali Taufik menjelaskan. Pria ramah ini adalah sekretaris di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang. Saya menjumpainya di kantornya yang sederhana di Jalan Diponegoro, Kota Sabang. Banyak sekali brosur wisata di meja tamu kantornya.

Aktivitas perekonomian secara umum juga mengendur. Pasar tradisional yang semenjak pagi biasanya riuh dengan penjual ikan juga tidak terlihat menggeliat.

“Nanti sore saja ke Jalan Perdagangan, itu pusat penjualan penganan berbuka puasa,” Ali memberi saran. Pada bulan-bulan di luar Ramadhan, lanjut Ali, pemerintah melarang masyarakat untuk seenaknya berjualan makanan atau membuka warung di pinggir-pinggir jalan. “Tapi Ramadhan adalah bulan kebebasan. Free. Di mana pun masyarakat diperbolehkan untuk berjualan. Saya lihat banyak wisatawan luar yang menganggap ini sebagai hal yang menarik,” ujarnya.

Sambil menunggu sore, saya menyempatkan berbincang soal pariwisata di Pulau Weh dengan Ali. Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir, tingkat kunjungan wisatawan ke Pulau Weh masih cenderung meningkat. Hanya saja, kata Ali, pariwisata di mana pun sangat vulnerable (rapuh), misalnya terhadap kondisi alam dan cuaca.

“Biasanya, hanya ada dua kapal cepat yang beroperasi di pelabuhan penyeberangan. Nah, liburan kemarin kami sudah menyiapkan lima kapal cepat untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung. Tetapi, karena angin kencang, akhirnya kunjungan berkurang,” Ali menjelaskan. Ke depan, untuk menjaga tingkat kunjungan wisatawan, pihaknya akan memperkenalkan satu objek wisata baru setiap tahunnya.

Menurutnya, salah satu batu sandungan terbesar untuk mengembangkan pariwisata di Sabang adalah faktor politik. “Kebijakan politik masih belum mengarah ke pariwisata, misalnya tercermin dari alokasi anggaran, yang hanya sekitar dua persen,” katanya. Ali Taufik mengemukakan analogi yang menarik: mengembangkan pariwisata itu mirip menyekolahkan anak. Investasinya besar sekali, tetapi kita tidak tahu kapan hasilnya. “Yang jelas, pasti akan terasa.”


Lantunan azan Ashar terdengar lamat-lamat di kejauhan, bersahut-sahutan dari beberapa masjid. Saya menunggu sejenak untuk segera menuju Jalan Perdagangan, tempat yang dikatakan Ali Taufik sebagai pusat penganan berbuka puasa. Sekitar setengah jam setelah azan, saya pun menuju tempat yang dimaksud.

Lanskap Pulau Weh sangat berbukit-berbukit dan Jalan Perdagangan seperti terletak di bagian lembahnya. Di sepanjang jalan ini, masih banyak bangunan bergaya hindia bekas peninggalan Belanda. Salah satunya gedung Bioskop Rex (Rex Bioscoop).

Gedung yang didirikan sebelum tahun 1900 ini merupakan fasilitas hiburan dari pemerintah kolonial bagi masyarakat Sabang. Dulunya, bioskop ini menayangkan film-film yang sebelumnya telah melewati seleksi sebuah komite, mungkin sejenis lembaga sensor film masa itu. Komite inilah yang memutuskan film apa yang akan diputar, termasuk film anak-anak.

Bioskop ini juga menjadi hiburan bagi para pasien rumah sakit jiwa (KZG). Setiap hari Sabtu, mereka akan berbondong-bondong secara teratur menuju bioskop ini.

Sayangnya, kondisi Bioskop Rex saat ini sangat mengenaskan. Sempat dijadikan Gedung Kesenian Kota Sabang selama beberapa tahun, kini gedung yang sebetulnya terlihat masih kokoh ini terbengkalai dan menjadi sarang lumut. Bagian depan bioskop pun akhirnya digunakan warga yang menjajakan penganan berbuka puasa.

Seperti kata Ali, sepanjang Jalan Perdagangan memang menjadi pusat takjil alias penganan berbuka. Sebetulnya, pasar dadakan di Jalan Perdagangan ini tidak jauh berbeda dengan pasar-pasar tumpah yang banyak bermunculan ketika bulan Ramadhan. Tetapi, saya menemukan beberapa penganan unik yang tidak saya jumpai di Jakarta, misalnya sate gurita.

Sayang, saat saya datang ke lokasi, si penjual masih bersiap-siap untuk menggelar dagangannya. Kesempatan mencicipi sate gurita pun harus tertunda (lagi pula, waktu berbuka belum tiba, dan saya masih ragu apakah ini termasuk jenis makanan yang lestari atau tidak). Sekilas, potongan-potongan dagingnya mirip sate ayam. Tetapi jika dilihat lebih teliti, akan terlihat potongan bentuk khas lengan gurita dengan bulatan-bulatan cekung.

Di sebelah sate gurita, seorang wanita muda berjilbab mengajak saja mampir ke lapaknya. “Dipilih saja bang, ini pepes ikan bakar, ini pepes udang bakar,” katanya. Saya katakan kepadanya bahwa saya datang dari Jakarta, dan ingin mencicipi masakan yang sulit dijumpai di Jakarta. Dia pun langsung mengambil plastik, lalu memasukkan beberapa pepes udang bakar yang terbungkus daun pisang. “Ini nggak ada di Jakarta,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Bukan hanya pedagang penganan kecil dan lauk-pauk yang memenuhi pinggiran Jalan Perdagangan. Ada pula pedagang sayur-mayur yang mencoba peruntungannya di sisa hari. Saya pun teringat pesanan istri tercinta untuk membelikannya asam sunti, bumbu penting untuk masakan-masakan Aceh.

Belum lama mengitari Kota Sabang, saya sudah bisa merasakan keramahan warga Sabang terhadap orang asing atau pendatang. “Masyarakat Sabang lebih heterogen dibandingkan Aceh pada umumnya, sehingga lebih terbuka terhadap pendatang,” ungkap Ali. Itu salah satu sebab saat ini pariwisata Sabang lebih maju dibandingkan daerah-daerah lain di Aceh. “Memang, ada beberapa gampong [kampung] yang belum bisa terbuka terhadap pendatang, tapi secara umum masyarakat sangat terbuka.”

Selain dari sikap para penjaja takjil, keramahan itu bisa segera saya rasakan dari Eka, perempuan berusia 45 tahun yang energik, yang saat saya temui sedang memilih-milih kue di depan Bioskop Rex. “Sabang ini tempat untuk melepas stress,” ujarnya dengan wajah ceria. Sambil memegang-megang kue yang hendak dibelinya, ia bercerita tentang seorang pendatang dari Jakarta yang kakinya lumpuh karena terserang stroke akibat stress.

“Dia sudah berobat ke mana-mana, akhirnya dibawa ke sini. Setelah beberapa tahun tinggal dan beli rumah di sini, akhirnya sekarang sudah bisa jalan normal lagi,” Eka mengisahkan. Saya tidak tahu apakah itu kisah nyata atau sekadar isapan jempol. Yang jelas, suasana tenteram memang terasa di sini.

Menyinggung soal aturan-aturan syariah terkait kegiatan pariwisata, Ali menuturkan bahwa di Sabang hampir tidak ada hambatan atau benturan. “Bahkan beberapa kegiatan syariah malah dianggap menarik oleh wisatawan dan dijadikan tontonan,” katanya diringi tawa. Ia menyebut soal penjudi yang dihukum cambuk baru-baru ini, yang mendapat perhatian dari para wisatawan asing.


Di ujung senja, angin sepoi-sepoi menemani saya dan dua orang rekan perjalanan berkeliling pulau. Jalan utama di Pulau Weh bagus sekali. Berkendara di pulau ini mirip dengan berkendara di kawasan Puncak, Jawa Barat. Bedanya, di sini jauh lebih sepi dan jauh dari riuhnya kemacetan.

Di sepanjang perjalanan, saya sempatkan menepi untuk sekadar menikmati debur ombak di pantai. Walaupun tidak menyelam, setidaknya saya cukup terhibur hanya dengan memandangi panorama pantainya.

Di pantai Sumur Tiga, sepasang wisatawan asing dengan santainya menikmati matahari terbenam di atas sebuah kursi panjang di tepi pantai berpasir putih. Sementara di pantai Anoi Itam yang karang-karangnya mirip gergasi yang seakan-akan menjaga pantai, tiga orang warga terlihat sedang memancing sambil bersenda gurau.

Menjelang Iboih, tempat saya menghabiskan hari di Sabang yang permai, suara azan Maghrib pun berkumandang. Saatnya berbuka.

Categories
Travel Story

Sawahlunto: Bekas Kota Hantu yang Mulai Menggeliat

Sawahlunto merupakan salah satu kota yang terbilang sukses melakukan transformasi dari kota yang hanya berorientasi pada kegiatan tambang batu bara hingga menjadi kota dengan visi pariwisata yang tajam dan kreatif.

Riwayat Sawahlunto agak berbeda dengan sejumlah kota lain yang terletak di kawasan Bukit Barisan di Sumatra Barat. Kota seperti Bukittinggi, Batusangkar, Payakumbuh, Padang Panjang, atau Solok terbentuk oleh perkembangan budaya komunitas Minang, sementara Sawahlunto dibangun oleh usaha tambang. 

Sejak sekitar abad ke-19, saat seorang insinyur Belanda bernama de Greeve menemukan batu bara di kota yang berjarak sekitar 92 kilometer arah Timur Laut Kota Padang ini, roda kehidupan Sawahlunto dan masyarakatnya praktis hanya seputar batu bara, batu bara, dan batu bara. 

Uang sebesar 5,5 juta gulden ditanam oleh Belanda untuk pembangunan fisik kota, itu pun difokuskan bagi infrastruktur yang bisa mendukung kegiatan tambang. Contohnya, pembangunan jalur kereta api dari Padang menuju Sawahlunto pada masa itu ditujukan sebagai transportasi untuk mengangkut batu bara dari Sawahlunto ke Pelabuhan Emmahaven (sekarang Teluk Bayur). Untuk menunjang distribusi batu bara, pemerintah kolonial bahkan rela memindahkan aliran Sungai Lunto dan menggantinya dengan pembangunan jalur kereta api sekaligus stasiunnya pada 1912 di Kampung Teleng. 

Pertambangan terus berjalan hingga masa sesudah kemerdekaan. Namun, sejak tahun 1940 sampai akhir tahun 70-an produksi batu bara Ombilin sempat merosot, hanya puluhan ribu ton per tahun. Dengan menambah beberapa fasilitas, perubahan manajemen, dan penerapan teknologi baru, usaha penambangan meningkat kembali sejak awal tahun 80-an, bahkan produknya terus meningkat melampaui 1 juta ton per tahun pada akhir tahun 90-an.  

Titik baliknya adalah masa Reformasi pada 1998. “Jika di Jakarta (pada saat itu) terjadi penjarahan mal, di Sawahlunto terjadi penjarahan tambang,” ujar Medi Iswandi, Kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto, kepada saya.

Pria yang memiliki tutur kata sopan ini menjelaskan, penjarahan itu merupakan pelampiasan rasa kesal masyarakat yang merasa dulunya tanah mereka dirampas dan hak mereka ditekan oleh penjajah Belanda. Hal itu juga sejalan dengan berakhirnya kegiatan tambang terbuka di Sawahlunto. Tanah-tanah tambang diambil alih oleh masyarakat dan cadangan tambang terbuka habis. “Cadangan tambang dalam masih ada, tetapi PT Bukit Asam belum siap melakukan alih teknologi. Selain itu, pada waktu itu harga batu bara belum ekonomis untuk ditambang melalui metode tambang bawah tanah karena biayanya besar,” Medi memaparkan.

Akibatnya, pada periode itu terjadi pengurangan pegawai PT Bukit Asam—perusahaan tambang batu bara milik negara—dari 2.000 orang menjadi sekitar 100-an orang. Penduduk juga melakukan eksodus besar-besaran. “Sekitar 7.000 jiwa pindah dan menyebar ke berbagai kota seperti Padang, Solok, atau ke tempat asal mereka,” imbuh Medi.

Bertahun-tahun, Sawahlunto pun menjelma kota hantu. Jalan-jalan sepi, tidak ada aktivitas ekonomi dan sosial yang signifikan. Akhirnya, pada 2001, dengan dibantu UNDP (lembaga PBB untuk pembangunan) pemerintah daerah bersama masyarakat merumuskan masa depan kota ini. “Sekitar 400 orang pemangku kepentingan kota, mulai dari tokoh masyarakat, pemuka agama, pemuka adat, tokoh pemuda, berkumpul untuk berdiskusi kota ini mau diapakan,” jelas Medi.

Hasil pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan yang akhirnya menjadi penentu utama bangkitnya Sawahlunto saat ini: menjadikan kota bersejarah tersebut sebagai kota wisata tambang yang berbudaya.

Pertimbangannya, di Sawahlunto banyak bangunan tua bersejarah yang merupakan bekas bangunan kolonial yang berfungsi mendukung aktivitas pertambangan saat itu. Sebut saja Kantor UPO (PT Bukit Asam) yang merupakan pusat operasi kegiatan penambangan, Gedung Socitet yang dulunya menjadi tempat para pejabat tambang  berkumpul dan berdansa (semacam klub), gudang ransum sebagai dapur umum untuk ribuan pekerja tambang, stasiun kereta api, silo, dan banyak lagi bangunan tua lainnya yang dianggap potensial sebagai objek wisata heritage.

Memang, kesepakatan tersebut tidak langsung beroleh hasil. Kehidupan masih stagnan, kegiatan tambang liar masyarakat pun tetap marak. Hingga pada 2003 (di bawah kepemimpinan Amran Nur) pemerintah kota mulai melakukan langkah-langkah yang lebih strategis dan lebih detail. 

Para penambang liar yang awalnya amat sulit untuk ditertibkan dengan cara represif, mulai dialihkan untuk bercocok tanam. Pemerintah menyediakan bibit tanaman kebun (cokelat, karet, dan lain-lain), dan pupuk secara gratis. Warga miskin diberi Rp1.100 bagi setiap lubang tanaman hidup yang mereka buat. Tidak tanggung-tanggung, dana sebesar 1,5-2 miliar rupiah digelontorkan pemerintah daerah untuk program insentif ini.

Setelah “ekonomi baru” ini terbentuk, barulah pemerintah kota berfokus merevitalisasi Sawahlunto. Infrastruktur dibangun, bangunan-bangunan dan kawasan bersejarah seperti Lapangan Segitiga dan pusat kebudayaan pun diperbaiki. Objek-objek wisata baru yang bersifat massal dan rekreatif juga dibangun seperti waterboom yang dibuka pada 2007. “Kolam renang waterboom ini dulunya bekas kolam pemandian orang-orang Belanda,” kata Medi.

Di utara kota, di atas lahan seluas 350 hektare, dibangun Resor Wisata Kandi yang memiliki pacuan kuda berstandar nasional (sekelas Pulomas di Jakarta), sirkuit road-race yang juga berstandar nasional, sirkuit motorcross, taman satwa, dan taman wisata air yang pengunjungnya mencapai 300.000 orang per tahun.

Dengan pembangunan wahana-wahana tersebut, Sawahlunto kini menjadi tuan rumah bagi event-event nasional, bahkan regional seperti balap sepeda Tour de Singkarak yang akhirnya memancing wisatawan untuk berkunjung. “Setiap Desember juga ada event Sawahlunto Derby, lomba pacuan kuda nasional dengan hadiah terbesar di Indonesia,” Medi memerinci.

Untuk fasilitas akomodasi pengunjung, saat ini sudah ada dua hotel di Sawahlunto yang pengelolaannya kini diserahkan kepada pihak swasta. “Akan tetapi, yang menggembirakan sebenarnya adalah munculnya sekitar 70 homestay baru dengan jumlah kamar 140-an— yang merupakan rumah masyarakat biasa—yang bertarif Rp100.000/orang/malam, termasuk sarapan dan makan malam,” ujar Medi setengah berpromosi. Para pemilik rumah yang berminat menjadikan rumahnya sebagai homestay akan dibimbing oleh sebuah kelompok swadaya masyarakat soal bagaimana mengelola homestay. 

Jika sewaktu-waktu Anda berminat untuk menginap di homestay Sawahlunto, carilah rumah yang memiliki label kuning khusus di depannya.

Dengan upaya-upaya revitalisasi itu, pada 2011 tingkat kunjungan ke Sawahlunto mencapai 735.000 orang. Padahal, 8-9 tahun lalu hanya ribuan orang, itu pun bukan untuk berwisata melainkan seminar atau rapat karena memang belum ada tempat wisata. “Jika ditanyakan berapa persen pertumbuhannya, saya agak kesulitan menghitungnya,” kata Medi disusul tawanya yang lepas. ***

Categories
Travel Story

“Tangan Tuhan” di Pulau Seribu Obat

Sebagai seorang remaja tanggung dengan energi yang meletup-letup, Dede, warga Nabire, gemar bermain bola. Namun, suatu hari, kejadian nahas menimpanya. Ia terjatuh saat mengolah si kulit bundar. Tulang kering kaki kanannya patah.