Categories
Photography Photojournalism Street Photography

Quba Pose

Visitors take photos at Quba Mosque, Madina, Saudi Arabia (2019).

Categories
Photography Photojournalism Street Photography Travel Story

Wildlife Dream

People pose with wildlife giant banner as a background, in Jakarta (2019).
Categories
Photography Photojournalism Street Photography

Rush Hour

Daily view of Stasiun Tanah Abang, Jakarta, especially on rush hour. Well, basically, every hour is a rush hour here.
Categories
Photography Photojournalism Travel Story

Queuing

Parang Gombong, Purwakarta, Firman Firdaus
Sheeps are queuing to water source, at Parang Gombong Dam, Purwakarta Regency, West Java, Indonesia, Saturday (Oct 19, 2019). Most of Indonesian regions are having long drought season this year.
Categories
Photography Travel Story

PDF download: Travel Photography Essentials

Saat masih bekerja di NatGeo, saya kerap diminta untuk berbagi tentang jurnalisme, fotografi, atau lebih spesifik lagi; fotografi perjalanan (travel photography).

Dari beberapa kali sesi berbagi dan tanya-jawab (baik formal maupun informal), akhirnya saya membuat semacam outline atau template yang biasanya saya gunakan sebagai bahan presentasi, dengan penyesuaian di sana-sini, tergantung audiens yang akan saya hadapi. Responsnya sangat positif.

Nah, daripada berkas ini mengendap di hardisk—yang saya sendiri tidak bisa menjamin bakal bertahan berama lama—saya bagikan saja di sini untuk diunduh oleh kawan-kawan.

Bagi yang berminat, silakan unduh file pdf di tautan ini. Sebagai info, jangan berharap salindia (slide) presentasi ini berisi penjelasan panjang lebar. Saat memberi presentasi, saya lebih suka bercerita ketimbang “membaca ulang” apa yang ada pada salindia. Jadi, biasanya saya hanya menampilkan poin-poin pada salindia.

Semoga bermanfaat!

Catatan: semua foto dalam salindia tersebut adalah karya asli saya, saya membebaskan kawan-kawan untuk menggunakannya tanpa perlu izin. Asal jangan dipakai buat produksi iklan ya 🙂

Categories
Photography Photostory Street Photography Travel Story

The Many Faces of Istanbul (+Bursa)

Istanbul, as Alex Webb pointed out, is another kind of border—between East and West, Islam and secularism, ancient and modern. I visited the city in February 2019, and the scents of the many entities (religion, culture, history, economy, technology, modernity, etc) merged in a natural way, and apparently will continue to thrive.  

Formerly known as Byzantium and Constantinople, it is the most populous city in Turkey and the country’s economic, cultural and historic center. Istanbul is a transcontinental city in Eurasia, straddling the Bosporus Strait (which separates Europe and Asia) between the Sea of Marmara and the Black Sea. Its commercial and historical center lies on the European side and about a third of its population lives in suburbs on the Asian side of the Bosporus. (Wikipedia)

In this short visit, i managed to capture a glimpse of people’s life in Istanbul, as well as Bursa, a large city located in northwestern Anatolia, within the Marmara Region. It is the fourth most populous city in Turkey and one of the most industrialized metropolitan centres in the country.

*All photos taken with my cellphone. Kind of sad, that i didn’t bring a proper camera for this trip.

Categories
Photography Street Photography

Stasiun Manggarai

Stasiun Manggarai (MRI) adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Manggarai, Tebet Jakarta Selatan. Stasiun yang terletak pada ketinggian +13 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi I Jakarta dan merupakan stasiun kereta api terbesar di DKI Jakarta.

Stasiun ini hanya melayani KRL Commuter Line tujuan Bogor, Depok, Jatinegara, Jakarta Kota, dan Bekasi. Letak stasiun berada di persimpangan tujuh: ke Jatinegara, Jakarta Kota, Tanah Abang, Bogor, dipo KRL Bukit Duri, Pengawas Urusan Kereta, serta Balai Yasa Manggarai.

Stasiun Manggarai mempunyai 10 jalur kereta api. Tujuh jalur digunakan untuk pemberhentian KRL Commuter Line, sedangkan tiga sisanya digunakan untuk langsiran menuju Pengawas Urusan Kereta, Dipo Bukit Duri, maupun ke Balai Yasa Manggarai. Jalur 1 dan 2 digunakan untuk pemberhentian KA Commuter Line Jakarta Kota–Bekasi dan KA Commuter Loopline. Jalur 3 dan 4 digunakan sebagai sepur lurus untuk kereta api jarak jauh serta untuk pemberhentian KA Commuter Line Jakarta Kota–Bekasi. Jalur 5, 6, dan 7 digunakan untuk pemberhentian KA Commuter Line Jakarta Kota–Bogor dan KA Commuter Loopline.

Saat ini stasiun tersebut sudah menmiliki underpass seperti di Stasiun Pasar Senen, supaya memudahkan untuk mencapai peron dan tak ketinggalan kereta api. Tidak ada kereta api jarak jauh berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi persilangan atau persusulan antarkereta api.

Sumber: Wikipedia

Categories
Photography Photojournalism Photostory

“Home” Project by FUJIFILM and Magnum Photos

I love everything about this project. And, don’t missed out the featured videos of each photographer, describing their perspectives about “home”. This one by Jonas Bendiksen is my fave.

FUJIFILM & Magnum Photos Collaborative Project “HOME”. An exhibition of the work will tour to seven cities around the world starting in March 2018, and be accompanied by a photobook.

16 Magnum Photographers will explore the theme of “HOME” for the project. Known for their wide range of approaches, Magnum Photos members produce documentary photography that encompasses art and photojournalism. Sharing the agency’s legacy for humanistic photography, associated with its founding in 1947, Magnum’s contemporary practitioners are united by a curiosity about the world. This project invites them to explore a universal subject familiar to us all.

“Home” is not only defined as a space for physical living. It holds various other associations that are emotional, biological, cultural and societal. These 16 photographers have been given an open brief to explore the subject through their own individual practices, the resulting work reflecting their personal take on a subject that we all record photographically.

Categories
Photojournalism Photostory Travel Story

Orang-orang di Tepian

Tepian adalah sebuah desa di Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Dihuni oleh mayoritas suku asli Tidung, desa yang bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam perjalanan speedboat dari Kota Tarakan ini bisa dikatakan belum tersentuh pembangunan.

Categories
Photography Tips

Jadikan karya Anda sebagai legenda pribadi Anda

Pada 1967, William Christenberry memotret bagian depan sebuah kafe. Sebuah foto yang sederhana. Empat tahun kemudian, ia kembali memotret subjek yang sama, di lokasi yang sama. Lalu, ia mengulanginya lagi pada 1978, dan 1980.

Categories
Photography

Foto-foto menarik seputar Asian Games 2018 di Jakarta

Event olahraga bergengsi se-Asia Asian Games 2018 telah usai. Indonesia dinilai sukses sebagai panitia. Berbagai pujian pun terlontar dari seantero media di dunia. 

Categories
Photography Photojournalism Street Photography

Kalimalang Traffic

Cars lining up in a massive traffic jam in Halim-Cawang area, Jakarta, Indonesia. People have to deal with a worse traffic jam due to belated infrastructure development carried by the government.

Categories
Photo Review Photography

Menelisik sisi terdalam kehidupan subjek foto dengan ‘environmental portrait’

Pekerjaan mengurasi foto di Fotokita adalah saat-saat yang selalu menyenangkan sekaligus mendebarkan buat saya. Para FK-wan pengunggah foto kerap kali menghadirkan kejutan lewat imaji yang mereka bagi di situs ini.

Categories
Photo Review

Informasi geografis dalam frame

Di Fotokita.net, kami memilih foto-foto dengan berbagai pertimbangan; bukan hanya dari aspek visual, melainkan juga konten dan cerita yang dikandung dalam frame, di antaranya informasi geografis.

Categories
Photo Review

Kampung bernama Indonesia, dari balik lensa Stefano Romano

Indonesia, negeri dengan beragam warna budaya dan lekuk lanskap, telah lama menarik minat bangsa asing. Nusantara bahkan pada akhirnya terpaksa merasakan penderitaan penjajahan akibat melimpahnya kekayaan yang dimiliki.

Categories
Photography Photostory Travel Story

Imaji pesona Australia Barat

Saat menyertai tim #NGTravelMate menjelajahi Australia Barat pada 5-10 April lalu, saya diberi kesempatan menggunakan Samsung NX1 untuk mengabadikan lekuk-lekuk negeri Australia Barat yang memesona. Mulai dari denyut kota Perth hingga kawasan Swan Valley yang merupakan sentra produksi makanan dan anggur di negara bagian itu.

Berikut adalah beberapa imaji yang sempat terekam.

Nikmati pula sajian khusus Australia Barat dalam National Geographic Traveler edisi Juni 2016.

Categories
Photography

Sesi berbagi bersama Kadir van Lohuizen: “The Necessity of In-Depth Photojournalism”

Hal yang harus ditekankan kepada setiap fotografer adalah bersikaplah sejujur-jujurnya terhadap narasumber atau contact person. Setiap fotografer mesti menjelaskan maksudnya memotret, atau akan dimuat di mana. Jangan sekali-kali berbohong, karena itu akan membahayakan diri mereka sendiri.

Categories
Photography Tips

Memperkenalkan fotografi kepada anak-anak

Anak-anak (usia 4-13 tahun) memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Pada usia inilah mereka mulai mengenal lingkungan sekitarnya, dan berani mengeksplorasi apa pun, bahkan hal-hal yang mungkin bisa membahayakan mereka.

Categories
Photobook Photography

#iniNegriku: Sebuah Etalase Nusantara

Setelah sukses meluncurkan buku foto NESW pada 2014, 1000kata, sebuah komunitas fotografer profesional, meluncurkan buku foto #iniNegriku–A Visual Journey, Rabu (13/1), di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Berbeda dengan buku sebelumnya yang bertemakan street photography dan hanya menggunakan kamera handphone, foto-foto di buku #iniNegriku–A Visual Journey dijepret menggunakan kamera mirrorless Samsung NX 1 untuk menjelajah daerah tujuan wisata yang ada di tempat-tempat terpencil Nusantara. Daerah tujuan wisata yang dikunjungi oleh sembilan perwarta foto ini juga merupakan rute perintis yang hanya diterbangi oleh Garuda Indonesia.

Buku #iniNegriku–A Visual Journey berawal dari mimpi sederhana sembilan perwarta foto yang berbagi cerita tentang keindahan dan keragaman Indonesia melalui Instagram (IG), masing-masing menvisualisasikan keindahan Indonesia dengan cara yang berbeda. Sebuah foto indah akan menjadi lebih indah bila mempunyai cerita yang melengkapinya.

“Lewat buku ini, kami hanya ingin menyampaikan pesan yang sederhana, bahwa Indonesia adalah negeri yang luar biasa kaya, indah, dan harus dijaga bersama, karena keberagaman Indonesia-lah yang membuat kita sangat kaya dan indah,” kata A. Zamroni, salah satu pendiri 1000kata.

Perjalanan dalam merealisasikan mimpi 1000kata dimulai pada awal Maret 2015. Tujuan pertama adalah Ternate yang dilakukan oleh Dita Alangkara, kemudian Ahmad Zamroni ke Tambulaka-Sumba; Prasetyo Utomo ke Berau; Peksi Cahyo ke Waerebo-Ende; Yuniadhi Agung ke Sibolga-Sumatra Utara; Mast Irham ke Labuan Bajo-Bima; Eddy Poernomo melakukan 2 perjalanan, ke Putusibau-Pontianak dan Banyuwangi; Sumaryanto Bronto ke Sorong-Manokwari, Jayapura; dan di akhir Maret Beawiharta melakukan perjalanan ke Langgur, Saumlaki-Ambon.

“Daerah yang dituju tim 1000kata merupakan rute perintis yang kami baru buka pada awal tahun 2015,” kata Benny S Butarbutar, Corporate Communication Garuda Indonesia. “Melihat potensi alamnya yang kaya dan indah membuat kami membuka rute perintis, agar daerah-daerah tersebut juga dapat dijadikan tujuan wisata lainnya di Indonesia,” tambah Benny.

Indahnya alam dan keragaman budaya Indonesia dapat dinikmati lewat #iniNegriku–A Visual Journey yang terdiri hampir 200 halaman. Narasi visual yang disajikan membuat mata dan rasa begitu dimanjakan dengan hasil foto yang tajam dan Indah.

Support kami dalam proses pembuatan buku #iniNegriku–A Visual Journey merupakan bentuk kecintaan kami pada Indonesia dan upaya kami agar masyarakat Indonesia dapat ikut mencintai keindahan bangsa ini,” kata Vebbyna Kaunang, Marketing Director IT & Mobile Samsung Electronics Indonesia.

Buku #iniNegriku–A Visual Journey tidak menggandeng penerbit mana pun, murni didistribusikan dan dijual secara mandiri. Buku dapat dipesan langsung melalui website1000kata dan akun sosial Twitter serta Instagram @1000kata, dengan harga Rp225.000 (soft cover) dan Rp. 325.000 (hard cover).

Categories
Photography Photojournalism

“Quo vadis” foto jurnalistik dunia?

Pada September 2015, World Press Photo Foundation bersama Reuters Institute for the Study of Journalism, University of Oxford, merilis sebuah laporan penting buat dunia fotografi (dan fotografi dunia), khususnya fotojurnalistik. Laporan setebal 76 halaman tersebut diberi judul “The State of News Photography: the Lives and Livelihoods of Photojournalists in the Digital Age”, disusun oleh Adrian Hadland, David Campbell, dan Paul Lambert.

Categories
Photography Photojournalism Tips

Nasihat dari Director of Photography majalah Sports Illustrated kepada fotografer

Mendapatkan nasihat atau masukan, insight, dari seseorang yang memiliki kredibilitas memang selalu menyenangkan. Kerap kali, nasihat mereka sederhana, tetapi luput dari perhatian kita, atau kita lupakan karena terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang sebenarnya tidak esensial. Termasuk dalam urusan fotografi.

Awal tahun ini, A. A. Productions, sebuah rumah produksi fotografi melakukan wawancara eksklusif dengan Brad Smithdirector of photography majalah olahraga top, Sports Illustrated. Tema besar wawancara singkat tersebut adalah, apa yang dicari seorang editor (majalah)—dalam hal ini Sports Illustrated—dari seorang fotografer yang hendak mengajukan portofolionya untuk dimuat majalah tersebut.

Categories
Photostory Travel Story

Pulau Weh: Sunyi di Bulan Suci

Lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” tiba-tiba mengiang di telinga saya. Keras. Seketika saya merasa sedang menjadi bagian dari sejarah perjalanan negeri ini. Saya hendak menuju Sabang, kota yang namanya diabadikan dalam lagu tersebut. Inilah kota di Pulau Weh, yang menjadi batas paling barat wilayah kepulauan Nusantara.

Ada dua kekhawatiran saya ketika ditugaskan untuk mengunjungi Sabang (dan Pulau Weh, secara umum). Pertama, dalam kunjungan singkat ini—satu setengah hari—saya tidak akan menyelam atau ber-snorkeling, karena satu dan lain hal. Kedua, saya pergi dalam keadaan berpuasa.

Kenapa dua kekhawatiran itu muncul? Pulau Weh, yang terletak di Laut Andaman, dikenal luas sebagai salah satu surga bagi para peselam. Ada beberapa divespot unggulan di sini, sebut saja Pulau Iboih yang paling terkenal, atau Pulau Gapang, Pulau Rubiah, Pulau Rondo, dan banyak lagi, yang mengandung keanekaragaman spesies ikan dan terumbu karang nan menggoda mata. Karenanya, mengunjungi Pulau Weh tanpa menyelam atau ber-snorkeling membuat saya harus berpikir keras bagaimana mengisahkan perjalanan saya.

Kekhawatiran kedua muncul karena Sabang, dan hampir seluruh daerah Aceh (sebagaimana daerah lain dengan nuansa Melayu yang kental), juga dikenal sebagai nirwana bagi para pemburu kuliner. Dalam keadaan berpuasa, pada siang hari saya akan banyak melewatkan ragam masakan khas Aceh yang pedas asam, citarasa yang paling saya suka (dan terbiasa dengannya, karena istri saya kerap membuat masakan Aceh). Tentu saja, saya masih bisa menikmatinya kala berbuka puasa, tetapi saya merasa tetap ada nuansa yang hilang.

Dalam kunjungan beberapa tahun sebelumnya ke Banda Aceh, misalnya saja, saya bisa menghabiskan hari hanya dengan duduk-duduk santai di kedai kopi: menyaksikan tingkah-polah para lelaki dewasa yang berdebat soal politik, sepak bola, dan hal-hal remeh lainnya. Ditemani kopi Ulee Kareng dengan penganan pulut panggang atau timpan srikaya, satu hari itu saja saya bisa bercerita soal banyak hal.

Walhasil, pertanyaan pertama saya ketika bertemu Bahri, seorang warga lokal yang mengantar saya ke penginapan, adalah: apa yang bisa saya tulis soal Pulau Weh selain soal pantai dan terumbu karang?

Dengan senyum yang terbilang “manis” untuk ukuran seorang lelaki berkulit gelap dan berperawakan besar, Bahri menjawab, “Tidak tahu bang, di sini sepi, apalagi sedang Ramadhan.”

Tentu saja jawaban Bahri tidak membantu saya. Tetapi, saya harus berterima kasih kepadanya karena ia memberikan ide buat saya: saya akan menceritakan betapa Sabang menjelma jadi “kota mati” saat siang hari pada Bulan Ramadhan.

Saya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, sekitar pukul 11.00. Dan, dalam perjalanan dari bandara ke Pelabuhan Ulee Lheue (pelabuhan penyeberangan feri ke Pulau Weh) sepertinya saya bisa menghitung berapa banyak orang yang saya jumpai di jalan. “Kalau hari biasa, nggak sesepi ini bang,” ujar Bahri dengan logat Aceh yang khas.

Sesuai perkiraan saya sejak sebelum berangkat, hampir semua warung makan dan restoran—bahkan warung kecil penjual rokok—tutup. Hanya bengkel, toko pakaian, dan toko-toko lain yang tidak ada kaitannya dengan makananlah yang tetap mengais rezeki pada siang hari di bulan suci bagi umat Islam ini.


Di pelabuhan feri Ulee Lheue siang itu, geliat kehidupan barulah mulai terasa, walau kesan sepi sulit dihindari. Apalagi buat saya, yang sehari-hari terbiasa dengan kemacetan dan antrean manusia di ibu kota. Saya hanya melihat beberapa rombongan kecil, mungkin keluarga, yang membawa gembolan seperti orang yang hendak mudik. Sebagian dari mereka berpakaian bagus dan berwarna-warni. Juga ada beberapa warga Sabang yang memang rutin menyeberang ke Banda Aceh untuk berniaga. Tidak ada hiruk-pikuk yang berarti.

Butuh waktu dua jam dengan kapal feri lambat untuk menyeberang dari Ulee Lheue ke Pelabuhan Balohan di Pulau Weh. Karena kendala jadwal, kami tidak bisa menggunakan kapal cepat. Padahal, dengan kapal cepat, waktu penyeberangan jadi terpangkas hanya satu jam.

Setelah menginjak Sabang, suasana sunyi yang saya jumpai sebelumnya di Banda Aceh seakan tidak berarti. Di beberapa ruas jalan utama di Sabang, beberapa kali saya berada dalam suasana di mana sama sekali tidak ada orang atau kendaraan yang melintas, atau suara yang terdengar, kecuali gesekan dedaunan di pohon. Momen ini, mungkin saja, cocok bagi para pejalan yang ingin mendapatkan suasana yang syahdu dan ingin melarikan diri dari kepenatan hidup.

Sebagai bagian dari provinsi yang sejak lama memiliki julukan Serambi Mekah—karena dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran agama Islam, dan memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam ke Asia Tenggara—dan telah memberlakukan sistem hukum berdasarkan syariat Islam sejak 2001, pemerintah daerah memang melarang tempat-tempat makan untuk buka pada siang hari sepanjang Ramadhan.

Banyak selebaran yang ditempelkan di beberapa sudut kota, yang berisi larangan tersebut. Selebaran ini ditandatangani oleh seluruh perangkat musyawarah pimpinan daerah setempat.

“Di Aceh, sepanjang bulan Ramadhan ada larangan formal bagi pedagang makanan untuk membuka kedai, toko, atau lapak mereka mulai pukul 5.00 hingga pukul 17.00,” Ali Taufik menjelaskan. Pria ramah ini adalah sekretaris di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang. Saya menjumpainya di kantornya yang sederhana di Jalan Diponegoro, Kota Sabang. Banyak sekali brosur wisata di meja tamu kantornya.

Aktivitas perekonomian secara umum juga mengendur. Pasar tradisional yang semenjak pagi biasanya riuh dengan penjual ikan juga tidak terlihat menggeliat.

“Nanti sore saja ke Jalan Perdagangan, itu pusat penjualan penganan berbuka puasa,” Ali memberi saran. Pada bulan-bulan di luar Ramadhan, lanjut Ali, pemerintah melarang masyarakat untuk seenaknya berjualan makanan atau membuka warung di pinggir-pinggir jalan. “Tapi Ramadhan adalah bulan kebebasan. Free. Di mana pun masyarakat diperbolehkan untuk berjualan. Saya lihat banyak wisatawan luar yang menganggap ini sebagai hal yang menarik,” ujarnya.

Sambil menunggu sore, saya menyempatkan berbincang soal pariwisata di Pulau Weh dengan Ali. Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir, tingkat kunjungan wisatawan ke Pulau Weh masih cenderung meningkat. Hanya saja, kata Ali, pariwisata di mana pun sangat vulnerable (rapuh), misalnya terhadap kondisi alam dan cuaca.

“Biasanya, hanya ada dua kapal cepat yang beroperasi di pelabuhan penyeberangan. Nah, liburan kemarin kami sudah menyiapkan lima kapal cepat untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung. Tetapi, karena angin kencang, akhirnya kunjungan berkurang,” Ali menjelaskan. Ke depan, untuk menjaga tingkat kunjungan wisatawan, pihaknya akan memperkenalkan satu objek wisata baru setiap tahunnya.

Menurutnya, salah satu batu sandungan terbesar untuk mengembangkan pariwisata di Sabang adalah faktor politik. “Kebijakan politik masih belum mengarah ke pariwisata, misalnya tercermin dari alokasi anggaran, yang hanya sekitar dua persen,” katanya. Ali Taufik mengemukakan analogi yang menarik: mengembangkan pariwisata itu mirip menyekolahkan anak. Investasinya besar sekali, tetapi kita tidak tahu kapan hasilnya. “Yang jelas, pasti akan terasa.”


Lantunan azan Ashar terdengar lamat-lamat di kejauhan, bersahut-sahutan dari beberapa masjid. Saya menunggu sejenak untuk segera menuju Jalan Perdagangan, tempat yang dikatakan Ali Taufik sebagai pusat penganan berbuka puasa. Sekitar setengah jam setelah azan, saya pun menuju tempat yang dimaksud.

Lanskap Pulau Weh sangat berbukit-berbukit dan Jalan Perdagangan seperti terletak di bagian lembahnya. Di sepanjang jalan ini, masih banyak bangunan bergaya hindia bekas peninggalan Belanda. Salah satunya gedung Bioskop Rex (Rex Bioscoop).

Gedung yang didirikan sebelum tahun 1900 ini merupakan fasilitas hiburan dari pemerintah kolonial bagi masyarakat Sabang. Dulunya, bioskop ini menayangkan film-film yang sebelumnya telah melewati seleksi sebuah komite, mungkin sejenis lembaga sensor film masa itu. Komite inilah yang memutuskan film apa yang akan diputar, termasuk film anak-anak.

Bioskop ini juga menjadi hiburan bagi para pasien rumah sakit jiwa (KZG). Setiap hari Sabtu, mereka akan berbondong-bondong secara teratur menuju bioskop ini.

Sayangnya, kondisi Bioskop Rex saat ini sangat mengenaskan. Sempat dijadikan Gedung Kesenian Kota Sabang selama beberapa tahun, kini gedung yang sebetulnya terlihat masih kokoh ini terbengkalai dan menjadi sarang lumut. Bagian depan bioskop pun akhirnya digunakan warga yang menjajakan penganan berbuka puasa.

Seperti kata Ali, sepanjang Jalan Perdagangan memang menjadi pusat takjil alias penganan berbuka. Sebetulnya, pasar dadakan di Jalan Perdagangan ini tidak jauh berbeda dengan pasar-pasar tumpah yang banyak bermunculan ketika bulan Ramadhan. Tetapi, saya menemukan beberapa penganan unik yang tidak saya jumpai di Jakarta, misalnya sate gurita.

Sayang, saat saya datang ke lokasi, si penjual masih bersiap-siap untuk menggelar dagangannya. Kesempatan mencicipi sate gurita pun harus tertunda (lagi pula, waktu berbuka belum tiba, dan saya masih ragu apakah ini termasuk jenis makanan yang lestari atau tidak). Sekilas, potongan-potongan dagingnya mirip sate ayam. Tetapi jika dilihat lebih teliti, akan terlihat potongan bentuk khas lengan gurita dengan bulatan-bulatan cekung.

Di sebelah sate gurita, seorang wanita muda berjilbab mengajak saja mampir ke lapaknya. “Dipilih saja bang, ini pepes ikan bakar, ini pepes udang bakar,” katanya. Saya katakan kepadanya bahwa saya datang dari Jakarta, dan ingin mencicipi masakan yang sulit dijumpai di Jakarta. Dia pun langsung mengambil plastik, lalu memasukkan beberapa pepes udang bakar yang terbungkus daun pisang. “Ini nggak ada di Jakarta,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Bukan hanya pedagang penganan kecil dan lauk-pauk yang memenuhi pinggiran Jalan Perdagangan. Ada pula pedagang sayur-mayur yang mencoba peruntungannya di sisa hari. Saya pun teringat pesanan istri tercinta untuk membelikannya asam sunti, bumbu penting untuk masakan-masakan Aceh.

Belum lama mengitari Kota Sabang, saya sudah bisa merasakan keramahan warga Sabang terhadap orang asing atau pendatang. “Masyarakat Sabang lebih heterogen dibandingkan Aceh pada umumnya, sehingga lebih terbuka terhadap pendatang,” ungkap Ali. Itu salah satu sebab saat ini pariwisata Sabang lebih maju dibandingkan daerah-daerah lain di Aceh. “Memang, ada beberapa gampong [kampung] yang belum bisa terbuka terhadap pendatang, tapi secara umum masyarakat sangat terbuka.”

Selain dari sikap para penjaja takjil, keramahan itu bisa segera saya rasakan dari Eka, perempuan berusia 45 tahun yang energik, yang saat saya temui sedang memilih-milih kue di depan Bioskop Rex. “Sabang ini tempat untuk melepas stress,” ujarnya dengan wajah ceria. Sambil memegang-megang kue yang hendak dibelinya, ia bercerita tentang seorang pendatang dari Jakarta yang kakinya lumpuh karena terserang stroke akibat stress.

“Dia sudah berobat ke mana-mana, akhirnya dibawa ke sini. Setelah beberapa tahun tinggal dan beli rumah di sini, akhirnya sekarang sudah bisa jalan normal lagi,” Eka mengisahkan. Saya tidak tahu apakah itu kisah nyata atau sekadar isapan jempol. Yang jelas, suasana tenteram memang terasa di sini.

Menyinggung soal aturan-aturan syariah terkait kegiatan pariwisata, Ali menuturkan bahwa di Sabang hampir tidak ada hambatan atau benturan. “Bahkan beberapa kegiatan syariah malah dianggap menarik oleh wisatawan dan dijadikan tontonan,” katanya diringi tawa. Ia menyebut soal penjudi yang dihukum cambuk baru-baru ini, yang mendapat perhatian dari para wisatawan asing.


Di ujung senja, angin sepoi-sepoi menemani saya dan dua orang rekan perjalanan berkeliling pulau. Jalan utama di Pulau Weh bagus sekali. Berkendara di pulau ini mirip dengan berkendara di kawasan Puncak, Jawa Barat. Bedanya, di sini jauh lebih sepi dan jauh dari riuhnya kemacetan.

Di sepanjang perjalanan, saya sempatkan menepi untuk sekadar menikmati debur ombak di pantai. Walaupun tidak menyelam, setidaknya saya cukup terhibur hanya dengan memandangi panorama pantainya.

Di pantai Sumur Tiga, sepasang wisatawan asing dengan santainya menikmati matahari terbenam di atas sebuah kursi panjang di tepi pantai berpasir putih. Sementara di pantai Anoi Itam yang karang-karangnya mirip gergasi yang seakan-akan menjaga pantai, tiga orang warga terlihat sedang memancing sambil bersenda gurau.

Menjelang Iboih, tempat saya menghabiskan hari di Sabang yang permai, suara azan Maghrib pun berkumandang. Saatnya berbuka.