Categories
General

Kembali (gagal) menulis setiap hari, dan berbuat baik kepada tetangga

Sepertinya resolusi tahun 2020 saya sudah bubar jalan di bulan Januari ini. Tadinya, saya berketetapan hati untuk memaksakan diri menulis setiap hari. Akan tetapi, apa daya? Target itu meleset sangat jauh.

Saya tidak akan melontarkan alasan atau justifikasi apa pun. Saya gagal karena tidak sanggup meluangkan waktu untuk menulis, itu saja.

Di kesempatan ini, saya hanya ingin menyampaikan satu hikmah penting dari peristiwa banjir pada awal tahun ini (ya, saya kebanjiran).

Beberapa saat ketika banjir mulai melanda, di grup WhatsApp mulai berseliweran informasi ini-itu terkait bantuan kondisi darurat dari berbagai lembaga, lengkap dengan nama-nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Namun, tidak sedikit pun terlintas dalam benak saya dan istri untuk menghubungi nomor-nomor itu. Ketika keadaan sudah sangat mendesak bagi kami untuk segera meninggalkan rumah, informasi yang paling melegakan justru datang dari para tetangga yang mempersilakan kami untuk mengungsi ke rumah-rumah mereka (karena rumah mereka lebih tinggi, atau memiliki lantai atas).

Terbayang, jika kami mesti menelepon lembaga A, misalnya, yang entah posisi mereka ada di mana, dan pastinya mereka juga tidak bisa membantu sekian banyak orang yang menelepon mereka. Berapa lama kami harus menunggu bantuan?

Lewat peristiwa ini, saya kembali diingatkan bahwa tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kita. Merekalah yang lebih dahulu bisa membantu kita di saat darurat; bukan pemerintah, bahkan bukan saudara kita. Ajaran Islam untuk berbuat baik kepada tetangga pun kian menempel erat dalam sanubari saya.

Categories
General

(Kembali) Menulis Setiap Hari

Terinspirasi Ivan Lanin, saya juga memutuskan untuk mencoba (kembali) menulis setiap hari.

Sejak “banting setir” ke dunia desain, praktis saya tidak terlalu banyak menulis, paling sekadar membuat UX wording untuk website atau aplikasi. Padahal, menulis itu ibarat pisau; jika tidak diasah, ia akan tumpul.

Saya juga akan lebih banyak menulis dalam bahasa Indonesia saja, karena sepertinya pemirsa blog ini juga sebagian besar—jika tidak bisa dibilang seluruhnya—adalah pengguna bahasa Indonesia. Terkait hal itu, saya akan mempertimbangkan pula untuk mengubah seluruh menu ke dalam bahasa Indonesia.

Semoga saya juga bisa istikamah, seperti Uda Ivan 🙂