Categories
Design

Problem solving is a team’ sport.

Designers do not solve problems alone. They first identify the root cause of the problem and then work with cross-functional teams to facilitate its solution.

Arturo Ríos
Categories
Design

Logo Gojek dan referensi visual

Kemarin, startup ride-hailing Gojek meluncurkan logo baru, dan langsung mendapat perhatian dari berbagai media dan, tentu saja, netizen.

Dalam keterangan resminya, pihak Gojek menjelaskan tentang logo baru ini:

Kenalin logo baru Gojek: Solv

Solv berangkat dari mimpi Gojek yang ingin membantu memudahkan kehidupan orang banyak melalui teknologi. 

Solv menjadi simbol yang mengingatkan kita semua kalau Gojek punya berbagai solusi, untuk setiap situasi. Memberikan kamu power untuk melewati keribetan sehari-hari. Pengingat bahwa di balik setiap tantangan, pasti ada solusi untuk melewatinya.

Gojek

Peluncuran logo baru ini juga dibarengi kampanye #pastiadajalan, yang hendak menegaskan bahwa mereka menyediakan berbagai solusi dalam beragam situasi yang dihadapi masyarakat.

Sebagaimana lazimnya peluncuran logo sebuah perusahaan besar, logo baru ini juga mengundang komentar—positif, negatif, atau biasa-biasa saja—dari banyak pihak. Yang biasanya terjadi, orang akan menghubung-hubungkannya dengan logo lain yang sudah lebih dahulu established. Tidak terkecuali dengan logo baru Gojek.

Saya pribadi langsung teringat logo Target, sebuah jaringan peritel besar asal Amerika Serikat, yang langsung saya post dalam IG stories dan mendapat respons serupa dari rekan-rekan saya.

Sebagian orang menyandingkannya dengan logo lama sebuah produk clothing yang ngetren pada era 1990-an, Ouval Research (yang saat ini sudah berganti logo dan merek). Sementara orang-orang yang “geeky” langsung teringat pada sebuah perusahaan software Circleci.

Logo Circleci

Tentu saja komentar-komentar tersebut sah-sah saja, siapa yang bisa melarang? Di sisi lain, pihak Gojek juga memiliki hak penuh untuk menyusun argumen (rationale, filosofi) di balik logo mereka.

Akan tetapi, hal yang menarik buat saya dalam setiap diluncurkannya sebuah logo, redesain logo, atau rebranding, adalah bagaimana proses yang terjadi mulai dari awal brainstorming, riset, ideation, hingga akhirnya sampai pada keputusan akhir. Bagaimana tim dalam perusahaan terlibat dan sejauh mana pertarungan serta tarik-menarik argumen yang terjadi.

Meski kental unsur subjektivitas, mendesain logo—apalagi untuk perusahaan besar—tidak bisa hanya mengandalkan ego atau kreativitas sang desainer (atau timnya). Ia butuh mendapat banyak insight dari berbagai pihak, karena “sebuah logo adalah representasi atau simbol yang (diharapkan) bertahan lama, sebuah monumen visual yang mewakili esensi perusahaan menjadi penanda grafis tunggal yang indah, fleksibel, dan mudah diingat,” kata John Brownlee.

Artinya, wajah perusahaan (atau orang-orang penting yang ada di belakangnya) bisa langsung tergambar atau terwakili lewat citra logonya. Coba dipikir-pikir, hal pertama yang “nyantol” dalam pikiran kita saat sebuah perusahaan atau produk terdengar di telinga kemungkinan adalah logo perusahaan itu.

Sang desainer juga perlu mempelajari core values yang dianut oleh perusahaan yang bersangkutan, untuk mendapatkan ruh yang pada akhirnya membantunya membuat formulasi visual yang mewakili perusahaan.

Namun, itu saja tidak cukup. Selain “melihat ke dalam”, desainer juga mesti memperbanyak referensi visual, melakukan riset yang mendalam untuk menghindari visual repetition atau kesamaan substansial dengan logo yang sudah lebih dahulu eksis. Ingat, citra sebuah logo bakal mengisi relung memori seseorang.

Saya tidak tahu pasti, dalam kasus Gojek, apakah desainernya sudah melakukan langkah ini. Pasalnya, ketika pertama kali melihat logo baru ini, memori yang pertama kali dipanggil oleh otak saya adalah logo Target, yang sudah lebih dahulu melegenda. Harap dicatat, saya tidak bilang logo baru Gojek ini jelek atau buruk dari segi visual. Sebagai penganut minimalisme garis keras, saya justru suka. Akan tetapi, logo ini gagal mengisi relung memori saya dengan citra yang baru dan segar.

Pada titik ini, referensi visual menjadi krusial dan menjadi semacam rambu bagi seorang desainer untuk menciptakan imaji yang “distingtif”, yang mampu memperkaya pengalaman visual audiens sekaligus memenuhi misi logo itu sendiri: menjadi monumen yang indah, fleksibel, dan mudah diingat.

Categories
Design

The eye of the designer

“It is not the hand that makes the designer, it’s the eye. Learning to design is learning to see. Naturally, what designers learn to see as they improve their skills is usually related to design. Doctors don’t see web sites in the same way as web designers, just as web designers don’t see radiographs as doctors do. Our experience sharpens our eyes to certain perceptions and shapes what we expect to see, just as what we expect to see shapes our experience. Our reality is perspectival. Although we don’t perceive and sense things that a more experienced practitioner can, we can learn, and it’s very exciting and rewarding to do so.”

Oliver Reichenstein