Categories
Design

Problem solving is a team’ sport.

Designers do not solve problems alone. They first identify the root cause of the problem and then work with cross-functional teams to facilitate its solution.

Arturo Ríos
Categories
Photography Photojournalism Street Photography

Quba Pose

Visitors take photos at Quba Mosque, Madina, Saudi Arabia (2019).

Categories
Photography Photojournalism Street Photography Travel Story

Wildlife Dream

People pose with wildlife giant banner as a background, in Jakarta (2019).
Categories
Photography Photojournalism Street Photography

Rush Hour

Daily view of Stasiun Tanah Abang, Jakarta, especially on rush hour. Well, basically, every hour is a rush hour here.
Categories
General

Kembali (gagal) menulis setiap hari, dan berbuat baik kepada tetangga

Sepertinya resolusi tahun 2020 saya sudah bubar jalan di bulan Januari ini. Tadinya, saya berketetapan hati untuk memaksakan diri menulis setiap hari. Akan tetapi, apa daya? Target itu meleset sangat jauh.

Saya tidak akan melontarkan alasan atau justifikasi apa pun. Saya gagal karena tidak sanggup meluangkan waktu untuk menulis, itu saja.

Di kesempatan ini, saya hanya ingin menyampaikan satu hikmah penting dari peristiwa banjir pada awal tahun ini (ya, saya kebanjiran).

Beberapa saat ketika banjir mulai melanda, di grup WhatsApp mulai berseliweran informasi ini-itu terkait bantuan kondisi darurat dari berbagai lembaga, lengkap dengan nama-nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Namun, tidak sedikit pun terlintas dalam benak saya dan istri untuk menghubungi nomor-nomor itu. Ketika keadaan sudah sangat mendesak bagi kami untuk segera meninggalkan rumah, informasi yang paling melegakan justru datang dari para tetangga yang mempersilakan kami untuk mengungsi ke rumah-rumah mereka (karena rumah mereka lebih tinggi, atau memiliki lantai atas).

Terbayang, jika kami mesti menelepon lembaga A, misalnya, yang entah posisi mereka ada di mana, dan pastinya mereka juga tidak bisa membantu sekian banyak orang yang menelepon mereka. Berapa lama kami harus menunggu bantuan?

Lewat peristiwa ini, saya kembali diingatkan bahwa tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kita. Merekalah yang lebih dahulu bisa membantu kita di saat darurat; bukan pemerintah, bahkan bukan saudara kita. Ajaran Islam untuk berbuat baik kepada tetangga pun kian menempel erat dalam sanubari saya.

Categories
General

(Kembali) Menulis Setiap Hari

Terinspirasi Ivan Lanin, saya juga memutuskan untuk mencoba (kembali) menulis setiap hari.

Sejak “banting setir” ke dunia desain, praktis saya tidak terlalu banyak menulis, paling sekadar membuat UX wording untuk website atau aplikasi. Padahal, menulis itu ibarat pisau; jika tidak diasah, ia akan tumpul.

Saya juga akan lebih banyak menulis dalam bahasa Indonesia saja, karena sepertinya pemirsa blog ini juga sebagian besar—jika tidak bisa dibilang seluruhnya—adalah pengguna bahasa Indonesia. Terkait hal itu, saya akan mempertimbangkan pula untuk mengubah seluruh menu ke dalam bahasa Indonesia.

Semoga saya juga bisa istikamah, seperti Uda Ivan 🙂

Categories
Photography Photojournalism Travel Story

Queuing

Parang Gombong, Purwakarta, Firman Firdaus
Sheeps are queuing to water source, at Parang Gombong Dam, Purwakarta Regency, West Java, Indonesia, Saturday (Oct 19, 2019). Most of Indonesian regions are having long drought season this year.
Categories
Design

Logo Gojek dan referensi visual

Kemarin, startup ride-hailing Gojek meluncurkan logo baru, dan langsung mendapat perhatian dari berbagai media dan, tentu saja, netizen.

Dalam keterangan resminya, pihak Gojek menjelaskan tentang logo baru ini:

Kenalin logo baru Gojek: Solv

Solv berangkat dari mimpi Gojek yang ingin membantu memudahkan kehidupan orang banyak melalui teknologi. 

Solv menjadi simbol yang mengingatkan kita semua kalau Gojek punya berbagai solusi, untuk setiap situasi. Memberikan kamu power untuk melewati keribetan sehari-hari. Pengingat bahwa di balik setiap tantangan, pasti ada solusi untuk melewatinya.

Gojek

Peluncuran logo baru ini juga dibarengi kampanye #pastiadajalan, yang hendak menegaskan bahwa mereka menyediakan berbagai solusi dalam beragam situasi yang dihadapi masyarakat.

Sebagaimana lazimnya peluncuran logo sebuah perusahaan besar, logo baru ini juga mengundang komentar—positif, negatif, atau biasa-biasa saja—dari banyak pihak. Yang biasanya terjadi, orang akan menghubung-hubungkannya dengan logo lain yang sudah lebih dahulu established. Tidak terkecuali dengan logo baru Gojek.

Saya pribadi langsung teringat logo Target, sebuah jaringan peritel besar asal Amerika Serikat, yang langsung saya post dalam IG stories dan mendapat respons serupa dari rekan-rekan saya.

Sebagian orang menyandingkannya dengan logo lama sebuah produk clothing yang ngetren pada era 1990-an, Ouval Research (yang saat ini sudah berganti logo dan merek). Sementara orang-orang yang “geeky” langsung teringat pada sebuah perusahaan software Circleci.

Logo Circleci

Tentu saja komentar-komentar tersebut sah-sah saja, siapa yang bisa melarang? Di sisi lain, pihak Gojek juga memiliki hak penuh untuk menyusun argumen (rationale, filosofi) di balik logo mereka.

Akan tetapi, hal yang menarik buat saya dalam setiap diluncurkannya sebuah logo, redesain logo, atau rebranding, adalah bagaimana proses yang terjadi mulai dari awal brainstorming, riset, ideation, hingga akhirnya sampai pada keputusan akhir. Bagaimana tim dalam perusahaan terlibat dan sejauh mana pertarungan serta tarik-menarik argumen yang terjadi.

Meski kental unsur subjektivitas, mendesain logo—apalagi untuk perusahaan besar—tidak bisa hanya mengandalkan ego atau kreativitas sang desainer (atau timnya). Ia butuh mendapat banyak insight dari berbagai pihak, karena “sebuah logo adalah representasi atau simbol yang (diharapkan) bertahan lama, sebuah monumen visual yang mewakili esensi perusahaan menjadi penanda grafis tunggal yang indah, fleksibel, dan mudah diingat,” kata John Brownlee.

Artinya, wajah perusahaan (atau orang-orang penting yang ada di belakangnya) bisa langsung tergambar atau terwakili lewat citra logonya. Coba dipikir-pikir, hal pertama yang “nyantol” dalam pikiran kita saat sebuah perusahaan atau produk terdengar di telinga kemungkinan adalah logo perusahaan itu.

Sang desainer juga perlu mempelajari core values yang dianut oleh perusahaan yang bersangkutan, untuk mendapatkan ruh yang pada akhirnya membantunya membuat formulasi visual yang mewakili perusahaan.

Namun, itu saja tidak cukup. Selain “melihat ke dalam”, desainer juga mesti memperbanyak referensi visual, melakukan riset yang mendalam untuk menghindari visual repetition atau kesamaan substansial dengan logo yang sudah lebih dahulu eksis. Ingat, citra sebuah logo bakal mengisi relung memori seseorang.

Saya tidak tahu pasti, dalam kasus Gojek, apakah desainernya sudah melakukan langkah ini. Pasalnya, ketika pertama kali melihat logo baru ini, memori yang pertama kali dipanggil oleh otak saya adalah logo Target, yang sudah lebih dahulu melegenda. Harap dicatat, saya tidak bilang logo baru Gojek ini jelek atau buruk dari segi visual. Sebagai penganut minimalisme garis keras, saya justru suka. Akan tetapi, logo ini gagal mengisi relung memori saya dengan citra yang baru dan segar.

Pada titik ini, referensi visual menjadi krusial dan menjadi semacam rambu bagi seorang desainer untuk menciptakan imaji yang “distingtif”, yang mampu memperkaya pengalaman visual audiens sekaligus memenuhi misi logo itu sendiri: menjadi monumen yang indah, fleksibel, dan mudah diingat.

Categories
Photography Travel Story

PDF download: Travel Photography Essentials

Saat masih bekerja di NatGeo, saya kerap diminta untuk berbagi tentang jurnalisme, fotografi, atau lebih spesifik lagi; fotografi perjalanan (travel photography).

Dari beberapa kali sesi berbagi dan tanya-jawab (baik formal maupun informal), akhirnya saya membuat semacam outline atau template yang biasanya saya gunakan sebagai bahan presentasi, dengan penyesuaian di sana-sini, tergantung audiens yang akan saya hadapi. Responsnya sangat positif.

Nah, daripada berkas ini mengendap di hardisk—yang saya sendiri tidak bisa menjamin bakal bertahan berama lama—saya bagikan saja di sini untuk diunduh oleh kawan-kawan.

Bagi yang berminat, silakan unduh file pdf di tautan ini. Sebagai info, jangan berharap salindia (slide) presentasi ini berisi penjelasan panjang lebar. Saat memberi presentasi, saya lebih suka bercerita ketimbang “membaca ulang” apa yang ada pada salindia. Jadi, biasanya saya hanya menampilkan poin-poin pada salindia.

Semoga bermanfaat!

Catatan: semua foto dalam salindia tersebut adalah karya asli saya, saya membebaskan kawan-kawan untuk menggunakannya tanpa perlu izin. Asal jangan dipakai buat produksi iklan ya 🙂

Categories
Photography Photostory Street Photography Travel Story

The Many Faces of Istanbul (+Bursa)

Istanbul, as Alex Webb pointed out, is another kind of border—between East and West, Islam and secularism, ancient and modern. I visited the city in February 2019, and the scents of the many entities (religion, culture, history, economy, technology, modernity, etc) merged in a natural way, and apparently will continue to thrive.  

Formerly known as Byzantium and Constantinople, it is the most populous city in Turkey and the country’s economic, cultural and historic center. Istanbul is a transcontinental city in Eurasia, straddling the Bosporus Strait (which separates Europe and Asia) between the Sea of Marmara and the Black Sea. Its commercial and historical center lies on the European side and about a third of its population lives in suburbs on the Asian side of the Bosporus. (Wikipedia)

In this short visit, i managed to capture a glimpse of people’s life in Istanbul, as well as Bursa, a large city located in northwestern Anatolia, within the Marmara Region. It is the fourth most populous city in Turkey and one of the most industrialized metropolitan centres in the country.

*All photos taken with my cellphone. Kind of sad, that i didn’t bring a proper camera for this trip.

Categories
Photography Street Photography

Stasiun Manggarai

Stasiun Manggarai (MRI) adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Manggarai, Tebet Jakarta Selatan. Stasiun yang terletak pada ketinggian +13 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi I Jakarta dan merupakan stasiun kereta api terbesar di DKI Jakarta.

Stasiun ini hanya melayani KRL Commuter Line tujuan Bogor, Depok, Jatinegara, Jakarta Kota, dan Bekasi. Letak stasiun berada di persimpangan tujuh: ke Jatinegara, Jakarta Kota, Tanah Abang, Bogor, dipo KRL Bukit Duri, Pengawas Urusan Kereta, serta Balai Yasa Manggarai.

Stasiun Manggarai mempunyai 10 jalur kereta api. Tujuh jalur digunakan untuk pemberhentian KRL Commuter Line, sedangkan tiga sisanya digunakan untuk langsiran menuju Pengawas Urusan Kereta, Dipo Bukit Duri, maupun ke Balai Yasa Manggarai. Jalur 1 dan 2 digunakan untuk pemberhentian KA Commuter Line Jakarta Kota–Bekasi dan KA Commuter Loopline. Jalur 3 dan 4 digunakan sebagai sepur lurus untuk kereta api jarak jauh serta untuk pemberhentian KA Commuter Line Jakarta Kota–Bekasi. Jalur 5, 6, dan 7 digunakan untuk pemberhentian KA Commuter Line Jakarta Kota–Bogor dan KA Commuter Loopline.

Saat ini stasiun tersebut sudah menmiliki underpass seperti di Stasiun Pasar Senen, supaya memudahkan untuk mencapai peron dan tak ketinggalan kereta api. Tidak ada kereta api jarak jauh berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi persilangan atau persusulan antarkereta api.

Sumber: Wikipedia

Categories
Travel Story

Cycling connects people

“It connects people. Having a conversation with somebody who rides a bike is so easy. Strangers can become friends, anywhere in the world. That’s my favourite thing about cycling.”

Duke Agyapong
Categories
Photography Photojournalism Photostory

“Home” Project by FUJIFILM and Magnum Photos

I love everything about this project. And, don’t missed out the featured videos of each photographer, describing their perspectives about “home”. This one by Jonas Bendiksen is my fave.

FUJIFILM & Magnum Photos Collaborative Project “HOME”. An exhibition of the work will tour to seven cities around the world starting in March 2018, and be accompanied by a photobook.

16 Magnum Photographers will explore the theme of “HOME” for the project. Known for their wide range of approaches, Magnum Photos members produce documentary photography that encompasses art and photojournalism. Sharing the agency’s legacy for humanistic photography, associated with its founding in 1947, Magnum’s contemporary practitioners are united by a curiosity about the world. This project invites them to explore a universal subject familiar to us all.

“Home” is not only defined as a space for physical living. It holds various other associations that are emotional, biological, cultural and societal. These 16 photographers have been given an open brief to explore the subject through their own individual practices, the resulting work reflecting their personal take on a subject that we all record photographically.

Categories
Photojournalism Photostory Travel Story

Orang-orang di Tepian

Tepian adalah sebuah desa di Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Dihuni oleh mayoritas suku asli Tidung, desa yang bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam perjalanan speedboat dari Kota Tarakan ini bisa dikatakan belum tersentuh pembangunan.

Categories
Photography Tips

Jadikan karya Anda sebagai legenda pribadi Anda

Pada 1967, William Christenberry memotret bagian depan sebuah kafe. Sebuah foto yang sederhana. Empat tahun kemudian, ia kembali memotret subjek yang sama, di lokasi yang sama. Lalu, ia mengulanginya lagi pada 1978, dan 1980.

Categories
Design

The eye of the designer

“It is not the hand that makes the designer, it’s the eye. Learning to design is learning to see. Naturally, what designers learn to see as they improve their skills is usually related to design. Doctors don’t see web sites in the same way as web designers, just as web designers don’t see radiographs as doctors do. Our experience sharpens our eyes to certain perceptions and shapes what we expect to see, just as what we expect to see shapes our experience. Our reality is perspectival. Although we don’t perceive and sense things that a more experienced practitioner can, we can learn, and it’s very exciting and rewarding to do so.”

Oliver Reichenstein
Categories
Photography

Foto-foto menarik seputar Asian Games 2018 di Jakarta

Event olahraga bergengsi se-Asia Asian Games 2018 telah usai. Indonesia dinilai sukses sebagai panitia. Berbagai pujian pun terlontar dari seantero media di dunia. 

Categories
Uncategorized

Work/life balance is BS

For me the concept of work/life balance is bullshit. The fact that we call it work/life balance automatically implies that one of the two is negative and we need to balance it with the other.

It usually implies that you have work on the evil side, and life on the other. It makes it look like these two things are competing for your attention and well being.

But work and life are not separate. They are the same, there is only one thing, it’s called LIFE. Work is part of my life, it’s not competing against it.

Family is important, friends are important. But work is a huge part of who I am as a person. I believe work is one of the most important things in ones life.

Tobias van Schneider
Categories
Photography Photojournalism Street Photography

Kalimalang Traffic

Cars lining up in a massive traffic jam in Halim-Cawang area, Jakarta, Indonesia. People have to deal with a worse traffic jam due to belated infrastructure development carried by the government.

Categories
Uncategorized

I’m leaving NatGeo Indonesia

Bulan Juni ini adalah bulan terakhir saya bekerja untuk National Geographic Indonesia (NGI). Setelah bekerja sekitar 10 tahun delapan bulan, saya mengundurkan diri dari NGI dengan mekanisme “voluntary separation”, atau pensiun dini.

Categories
Photo Review Photography

Menelisik sisi terdalam kehidupan subjek foto dengan ‘environmental portrait’

Pekerjaan mengurasi foto di Fotokita adalah saat-saat yang selalu menyenangkan sekaligus mendebarkan buat saya. Para FK-wan pengunggah foto kerap kali menghadirkan kejutan lewat imaji yang mereka bagi di situs ini.

Categories
Photo Review

Informasi geografis dalam frame

Di Fotokita.net, kami memilih foto-foto dengan berbagai pertimbangan; bukan hanya dari aspek visual, melainkan juga konten dan cerita yang dikandung dalam frame, di antaranya informasi geografis.

Categories
Photo Review

Kampung bernama Indonesia, dari balik lensa Stefano Romano

Indonesia, negeri dengan beragam warna budaya dan lekuk lanskap, telah lama menarik minat bangsa asing. Nusantara bahkan pada akhirnya terpaksa merasakan penderitaan penjajahan akibat melimpahnya kekayaan yang dimiliki.

Categories
Photography Photostory Travel Story

Imaji pesona Australia Barat

Saat menyertai tim #NGTravelMate menjelajahi Australia Barat pada 5-10 April lalu, saya diberi kesempatan menggunakan Samsung NX1 untuk mengabadikan lekuk-lekuk negeri Australia Barat yang memesona. Mulai dari denyut kota Perth hingga kawasan Swan Valley yang merupakan sentra produksi makanan dan anggur di negara bagian itu.

Berikut adalah beberapa imaji yang sempat terekam.

Nikmati pula sajian khusus Australia Barat dalam National Geographic Traveler edisi Juni 2016.

Categories
Travel Story

Menanti Momen Gerhana hingga Nyaris Tertinggal Pesawat

Saya menerima undangan untuk meliput gerhana matahari total pada Minggu (6/3) dari Angkasa Pura I (AP I), untuk berangkat pada Selasa (8/3). Lokasinya, Balikpapan. Untuk sebuah liputan yang membutuhkan persiapan khusus, tentu saja itu waktu yang agak mepet. Apalagi, pihak AP I tidak langsung menyampaikan rincian kegiatan di lapangan (itinerary).

Tetapi, mengingat ini momen langka, redaksi National Geographic Indonesia, yang membawahi Fotokita.net tempat saya bernaung, tetap menerima undangan tersebut. Saya pun segera melakukan riset kecil-kecilan seputar lokasi yang akan diliput.

Dari hasil riset, saya mendapatkan dua tempat/spot yang mungkin akan saya kunjungi di Balikpapan, yakni Lapangan Merdeka dan Pantai Manggar. Lapangan Merdeka berjarak lima menit naik motor dari hotel tempat saya menginap, sementara Pantai Manggar sekitar 15-20 menit dengan motor (jika dengan mobil bisa setengah jam).

Sehari sebelum keberangkatan, pihak pengundang barulah mengirimkan itinerary; di situ tertulis bahwa liputan gerhana dilakukan pada pukul 7.00-9.00 di sekitar kawasan bandara (yang hanya bisa dimasuki oleh internal AP I), tetapi pukul 9.30 harus segera kembali ke bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS), Sepinggan, untuk terbang ke Berau.

Lokasi ini tidak sesuai rencana saya, karena saya ingin menangkap suasana dan ekspresi masyarakat umum saat menyambut gerhana. Akhirnya saya meminta izin untuk tetap meliput sesuai rencana yang sudah saya susun, dengan risiko saya harus bisa mengatur waktu sendiri.

Saya pun memutar otak agar proses peliputan sesuai dengan alokasi waktu. Akhirnya, saya putuskan untuk berangkat dari hotel pada Rabu (9/3) pagi ke Lapangan Merdeka saja, dan melupakan target Pantai Manggar karena khawatir tidak terkejar waktunya.

Pukul 5.00 pagi, setelah check-out dari hotel, saya berangkat menumpang ojek ke Lapangan Merdeka. Suasana masih gelap dan melompong, tetapi di kawasan Pantai Kilang Mandiri di seberang Lapangan Merdeka, warga sudah berbondong-bondong mem-booking tempat paling strategis untuk menyaksikan momen yang langka ini.

Saya berpesan pada tukang ojek—yang lupa saya tanyakan namanya—untuk menjemput saya di tempat yang sama pada pukul 8.00, karena setidaknya pukul 9.00 saya sudah harus berada di bandara Sepinggan kembali. Lama perjalanan dari Lapangan Merdeka ke bandara sekitar 15-20 menit; dalam keadaan normal. Hal yang kemudian luput saya antisipasi.

“Saran saya, bapak titip saja tas pakaian sama saya, daripada repot bawa-bawa dua tas kayak gitu,” ujar tukang ojek saya. “Ya, itu kalau bapak percaya sama saya,” tambahnya. Saya pikir, itu ide bagus. Akhirnya saya titipkan tas pakaian saya pada tukang ojek yang baik itu.

Tidak sampai hitungan jam, kawasan Pantai Kilang Mandiri di Lapangan Merdeka sudah dipenuhi warga, hingga menutupi jalan raya. Saya asyik berkeliling, mengobrol sana-sini dengan beberapa pengunjung, memotret tingkah polah yang unik dan menarik. Hingga saya lupa waktu.

Sekitar pukul 8.20 WITA (saat itu totalitas gerhana sudah lewat) saya baru ingat bahwa saya harus segera menuju bandara. Saya telepon tukang ojek, ternyata dia masih terjebak macet entah di mana. Saya menunggu dengan rasa cemas.

Saya keluar kawasan pantai dan menuju ke jalan raya Lapangan Merdeka dan mendapati bahwa para pengunjung secara serentak hendak bubar. Keadaan kacau balau. Jalanan penuh dengan mobil, motor, dan pejalan kaki. Mampet. Saya tidak yakin tukang ojek saya bisa mencapai tempat ini tepat waktu. Saya berpikir, saya pasti ketinggalan pesawat.

Namun, seorang wartawan harus memiliki naluri yang kuat untuk keluar dari persoalan sepelik apa pun. Naluri wartawan saya berkata, saya harus cari orang lain di sini yang bisa mengantar saya ke bandara, jadi saya tidak perlu menunggu tukang ojek yang tidak pasti kapan akan tiba. Artinya, saya harus rela untuk tidak membawa tas pakaian ganti—yang saya titipkan di tukang ojek—dalam perjalanan ke Berau. Toh saya bakal kembali ke Balikpapan tanggal 11 Maret untuk pulang ke Jakarta.

Saya melihat seorang anak muda bermotor yang sepertinya hendak siap-siap keluar dari area parkir. Saya memberanikan diri menghampirinya.

“Dik, bisa antara saya ke bandara? Saya harus mengejar pesawat. Tukang ojek pesanan saya sepertinya terjebak macet entah di mana,” kata saya, dengan tetap berusaha tenang. Saya janjikan sejumlah uang sebagai iming-iming.

Tetapi, sepertinya dia tidak terlalu tertarik dengan uang. Dia bingung. “Macet begini, Bang?” katanya, dengan wajah agak panik. Terus terang, saya merasa bersalah telah melibatkan dia dalam persoalan saya. Tetapi, apa boleh buat?

Saya terus membujuk. “Tidak apa, yang penting kita jalan sekarang. Kalau tidak terkejar, ya nasib. Tetapi setidaknya kita berusaha,” kata saya. Dia menoleh ke kiri, ke kanan, seperti mencari-cari jalan. “Oke kita coba ya!”

Keluar dari area Lapangan Merdeka butuh perjuangan dan kesabaran. Jalanan di mana-mana ditutup. Di salah satu ruas jalan, bahkan berhenti total hampir 10 menit. Padahal, setiap menitnya amat berharga.

“Kita lewat kompleks Pertamina ya Bang, agak jauh, tetapi semoga kosong,” kata pemuda—kali ini saya tidak lupa menanyakan nama—bernama Hayyul itu. Dia orang Bontang, tetapi sedang kuliah jurusan perminyakan di Balikpapan. Saya iyakan saja, lagi pula saya buta daerah sini.

Waktu terus memburu. Hayyul tancap gas. Syukurlah, jalan alternatif yang kami tempuh lancar. Sekitar pukul 9.20 akhirnya kami sampai di bandara SAMS. Saya memberikan uang yang saya janjikan, tetapi Hayyul tegas menolak. Saya memaksa. Akhirnya dia luluh. Tergopoh-gopoh, saya berlari menuju terminal keberangkatan. Rekan-rekan lain sudah menunggu di sana.

Categories
Photography

Sesi berbagi bersama Kadir van Lohuizen: “The Necessity of In-Depth Photojournalism”

Hal yang harus ditekankan kepada setiap fotografer adalah bersikaplah sejujur-jujurnya terhadap narasumber atau contact person. Setiap fotografer mesti menjelaskan maksudnya memotret, atau akan dimuat di mana. Jangan sekali-kali berbohong, karena itu akan membahayakan diri mereka sendiri.

Categories
Photography Tips

Memperkenalkan fotografi kepada anak-anak

Anak-anak (usia 4-13 tahun) memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Pada usia inilah mereka mulai mengenal lingkungan sekitarnya, dan berani mengeksplorasi apa pun, bahkan hal-hal yang mungkin bisa membahayakan mereka.

Categories
Photobook Photography

#iniNegriku: Sebuah Etalase Nusantara

Setelah sukses meluncurkan buku foto NESW pada 2014, 1000kata, sebuah komunitas fotografer profesional, meluncurkan buku foto #iniNegriku–A Visual Journey, Rabu (13/1), di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Berbeda dengan buku sebelumnya yang bertemakan street photography dan hanya menggunakan kamera handphone, foto-foto di buku #iniNegriku–A Visual Journey dijepret menggunakan kamera mirrorless Samsung NX 1 untuk menjelajah daerah tujuan wisata yang ada di tempat-tempat terpencil Nusantara. Daerah tujuan wisata yang dikunjungi oleh sembilan perwarta foto ini juga merupakan rute perintis yang hanya diterbangi oleh Garuda Indonesia.

Buku #iniNegriku–A Visual Journey berawal dari mimpi sederhana sembilan perwarta foto yang berbagi cerita tentang keindahan dan keragaman Indonesia melalui Instagram (IG), masing-masing menvisualisasikan keindahan Indonesia dengan cara yang berbeda. Sebuah foto indah akan menjadi lebih indah bila mempunyai cerita yang melengkapinya.

“Lewat buku ini, kami hanya ingin menyampaikan pesan yang sederhana, bahwa Indonesia adalah negeri yang luar biasa kaya, indah, dan harus dijaga bersama, karena keberagaman Indonesia-lah yang membuat kita sangat kaya dan indah,” kata A. Zamroni, salah satu pendiri 1000kata.

Perjalanan dalam merealisasikan mimpi 1000kata dimulai pada awal Maret 2015. Tujuan pertama adalah Ternate yang dilakukan oleh Dita Alangkara, kemudian Ahmad Zamroni ke Tambulaka-Sumba; Prasetyo Utomo ke Berau; Peksi Cahyo ke Waerebo-Ende; Yuniadhi Agung ke Sibolga-Sumatra Utara; Mast Irham ke Labuan Bajo-Bima; Eddy Poernomo melakukan 2 perjalanan, ke Putusibau-Pontianak dan Banyuwangi; Sumaryanto Bronto ke Sorong-Manokwari, Jayapura; dan di akhir Maret Beawiharta melakukan perjalanan ke Langgur, Saumlaki-Ambon.

“Daerah yang dituju tim 1000kata merupakan rute perintis yang kami baru buka pada awal tahun 2015,” kata Benny S Butarbutar, Corporate Communication Garuda Indonesia. “Melihat potensi alamnya yang kaya dan indah membuat kami membuka rute perintis, agar daerah-daerah tersebut juga dapat dijadikan tujuan wisata lainnya di Indonesia,” tambah Benny.

Indahnya alam dan keragaman budaya Indonesia dapat dinikmati lewat #iniNegriku–A Visual Journey yang terdiri hampir 200 halaman. Narasi visual yang disajikan membuat mata dan rasa begitu dimanjakan dengan hasil foto yang tajam dan Indah.

Support kami dalam proses pembuatan buku #iniNegriku–A Visual Journey merupakan bentuk kecintaan kami pada Indonesia dan upaya kami agar masyarakat Indonesia dapat ikut mencintai keindahan bangsa ini,” kata Vebbyna Kaunang, Marketing Director IT & Mobile Samsung Electronics Indonesia.

Buku #iniNegriku–A Visual Journey tidak menggandeng penerbit mana pun, murni didistribusikan dan dijual secara mandiri. Buku dapat dipesan langsung melalui website1000kata dan akun sosial Twitter serta Instagram @1000kata, dengan harga Rp225.000 (soft cover) dan Rp. 325.000 (hard cover).

Categories
Photography Photojournalism

“Quo vadis” foto jurnalistik dunia?

Pada September 2015, World Press Photo Foundation bersama Reuters Institute for the Study of Journalism, University of Oxford, merilis sebuah laporan penting buat dunia fotografi (dan fotografi dunia), khususnya fotojurnalistik. Laporan setebal 76 halaman tersebut diberi judul “The State of News Photography: the Lives and Livelihoods of Photojournalists in the Digital Age”, disusun oleh Adrian Hadland, David Campbell, dan Paul Lambert.

Categories
Photography Photojournalism Tips

Nasihat dari Director of Photography majalah Sports Illustrated kepada fotografer

Mendapatkan nasihat atau masukan, insight, dari seseorang yang memiliki kredibilitas memang selalu menyenangkan. Kerap kali, nasihat mereka sederhana, tetapi luput dari perhatian kita, atau kita lupakan karena terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang sebenarnya tidak esensial. Termasuk dalam urusan fotografi.

Awal tahun ini, A. A. Productions, sebuah rumah produksi fotografi melakukan wawancara eksklusif dengan Brad Smithdirector of photography majalah olahraga top, Sports Illustrated. Tema besar wawancara singkat tersebut adalah, apa yang dicari seorang editor (majalah)—dalam hal ini Sports Illustrated—dari seorang fotografer yang hendak mengajukan portofolionya untuk dimuat majalah tersebut.

Categories
Travel Story

Tentang Perjumpaan dan Perpisahan

Menghayati perjalanan bersepeda Manado-Makassar.

Lelaki itu berdiri terpaku di bibir dermaga. Sesekali, ia mengusap air mata di pipinya, seakan-akan menyembunyikan kerapuhannya dan berusaha tegar, sebagaimana lelaki seharusnya.

Anaknya, seorang bocah perempuan, menangis meraung-raung di atas buritan kapal. Ia ingin kembali bersama ayahnya. Tangannya meraih-raih, ingin memeluk. “Masih kangen,” kata Lisa, sang ibunda, yang berusaha menenangkan amuk anaknya dengan kesabaran khas seorang ibu. 

Sang ayah, pada senja yang hampir pupus itu hanya bisa pasrah melepas kepergian anak dan istrinya, di Dermaga Pulau Walea Besar, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

Lelaki berbadan kurus namun liat itu harus menetap di Pulau Walea Besar untuk mencari nafkah dengan menanam cengkih, sementara istri dan anak-anaknya harus kembali ke rumah mereka di Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah. Melanjutkan hidup.

Di latar belakang, rumah-rumah apung nelayan yang terbuat dari kayu lamat-lamat terlihat. Aktivitas di dermaga jauh lebih riuh ketimbang di permukiman sana. Tidak setiap hari kapal perintis singgah di pulau kecil ini. 

Sekalinya singgah, tentu saja menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bepergian dengan berbagai tujuan. Utamanya tujuan ekonomi. Atau sekadar melepas rindu seperti yang dilakukan Lisa dan anaknya.

Saya menyaksikan drama itu, reality show yang sebenarnya itu, dari atas Kapal Motor Feri Cengkih Afo. Bersama 50-an orang lainnya, saat itu saya sedang dalam perjalanan menyeberang dari Pelabuhan Marisa di Provinsi Gorontalo, ke Ampana, Sulawesi Tengah, yang merupakan Etape ke-5 dalam perjalanan Jelajah Sepeda Manado-Makassar. 

Perjalanan menyeberang ini—yang menurut jadwal akan memakan waktu 15 jam—serta etape-etape lainnya, pada akhirnya bukan hanya soal meniti rute bersepeda saya, melainkan juga refleksi akan arti perjumpaan dan perpisahan.

***

Inilah perjalanan jelajah sepeda (selanjutnya ditulis “Jelajah” untuk mempersingkat) yang digadang-gadang paling jauh—dan paling berat—dari seluruh perhelatan Jelajah yang sudah menjadi flagship bagi Harian Kompas selama enam tahun belakangan ini. 

Pada 2008, Kompas sudah menyelenggarakan Jelajah, dengan rute Anyer-Panarukan sejauh 1.100 kilometer. Dua tahun kemudian, digelar Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta dengan jarak total 1.000 kilometer. Lalu, pada 2011 tim Jelajah melintasi rute Jakarta-Palembang sejauh 810 kilometer. Jelajah Sepeda Bali-Komodo sejauh 720 kilometer pada 2012 merupakan penyelenggaraan yang keempat.

Tahun lalu, digelar Jelajah Sepeda Sabang-Padang sejauh 1.593 kilometer, dan tahun ini Jelajah Sepeda Manado-Makassar hadir sebagai penyelenggaraan keenam. 

Ambisi Kompas, sebagaimana kerap didengungkan oleh Budiman Tanuredjo, Wakil Pemimpin Redaksi—yang juga mengikuti hampir seluruh etape dalam Jelajah tahun ini—adalah “merajut Nusantara lewat sadel sepeda, melintasi dan melaporkan kondisi terkini, mulai dari infrastruktur, masalah-masalah sosial, hingga potensi pariwisata daerah-daerah yang akan dilalui.”

Melihat jarak saja, bisa dipastikan bahwa Jelajah kali ini adalah yang terjauh dibandingkan perjalanan Jelajah sebelumnya. Namun, bisa jadi, ini juga merupakan Jelajah paling kaya nuansa kuliner. 

Sampai di Sulawesi pada Minggu (17/8) siang, kami langsung menuju Desa Lembean, Kauditan, Minahasa Utara. Tanpa basa-basi sambutan yang berlebihan dari tuan rumah, kami disuguhi keramahan yang orisinil dan aneka kuliner khas Sulawesi.

Berhubung belum terlalu lapar, saya menyambut kue lampu-lampu. Kue lunak yang terbuat dari tepung beras dan berwadah janur kelapa ini mesti dimakan dengan sendok, karena gula di dalamnya bakal meleleh saat kita gigit. Enak sekali. 

Tangan saya tidak berhenti menggerayangi meja makan. Kali ini, saya mencomot kue kuk, kue berwarna merah dengan parutan kelapa di dalamnya. Saatnya menu utama, saya meraih nasi dan sayur pangi. Daun pangi—yang konon hanya ada di Sulawesi—dicacah lalu dimasak dalam bambu, jadilah sayur pangi. Tidak lupa, saya meraih seekor ikan cakalang asap, agar kunjungan ke Sulawesi tidak terkesan sia-sia.

Sejenak, beban berat yang akan dihadapi esok saat harus bersepeda menanjak ke Tomohon pun terlupakan. Ditambah lagi, kami menandaskan menu khas Sulawesi ini sambil berjoget dengan iringan musik kolintang.

***

Kota Manado masih terasa sepi, padahal saat itu hari Senin. Kemarin, warga baru saja merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69. 

Momentum hari kemerdekaan itu menjadi salah satu bahan bakar semangat kami dalam memulai penjelajahan bersepeda, yang akan dimulai dari Manado hingga Makassar; dari ujung utara Sulawesi ke ujung selatannya, melintasi empat provinsi; Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Jarak yang akan kami tempuh kurang lebih sekitar 1.700 kilometer.

Saya memulai etape pertama dengan riang gembira. Jarak yang harus ditempuh hari ini adalah 84 kilometer, yakni dari Manado menuju Amurang, lewat Tomohon. Saya tahu, itu jarak di atas kertas. Saya yakin jarak sebenarnya lebih dari itu.

Rute Manado-Tomohon mengingatkan saya pada lintasan Bogor-Puncak. Menanjak panjang, tetapi udaranya sejuk. Bedanya, rute menuju Tomohon ini lebih sepi dari lalu-lalang kendaraan. Tentu saja. 

Tomohon merupakan sebuah kawasan subur yang berlokasi 22 kilometer sebelah timur Manado. Slogan kota ini adalah “Menyapa Dunia dengan Bunga” karena Tomohon memang dikenali sebagai  penghasil bunga. Saat musimnya tiba, bunga-bunga indah bermekaran di kiri-kanan jalan, hingga di rumah-rumah penduduk. 

Tomohon juga menjadi tuan rumah bagi Tomohon International Flower Festival, festival bunga bertaraf internasional. Sayangnya, kami melintasinya setelah perhelatan akbar itu kelar.

Pada 10 kilometer pertama, jalur menanjak hingga ketinggian 250 meter dari permukaan laut (mdpl). Lumayan. Jantung saya mulai bekerja agak keras pada 10 kilometer berikutnya, yang menanjak hingga ketinggian 800 mdpl. Di sisi kanan, puncak Gunung Lokon menemani saya yang pada kilometer ke 20-an sudah mengayuh sepeda seorang diri karena para peserta mulai tercerai-berai akibat jalan menanjak.

Dingin mulai menyergap di kilometer 30-an, karena kami harus bersepeda dengan kecepatan konstan di ketinggian 851 mdpl. 

Energi yang saya peroleh setelah makan siang di Tomohon langsung digunakan untuk menanjak kembali; Sebelum lokasi Danau Linau yang akan menjadi persinggahan, saya dikagetkan oleh tanjakan pendek namun curam.

Ketika setiap kayuhan mengantarkan saya lebih dekat ke Danau Linau, aroma belerang mulai menguar. Konon, Danau Linau merupakan kawah gunung raksasa yang meletus 2.000 tahun lalu. Danau ini terletak di Kelurahan Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon.

Sebagian besar peserta sibuk berfoto ria. Akan tetapi, saya memilih untuk duduk menghayati ketenangan air danau, sambil menikmati desiran angin sejuk khas daerah puncak. Pohon pinus berjajar menaungi sekeliling danau. Di sisi depan saya, warna permukaan air terlihat hijau, namun di sisi seberang menjelma kuning, di sisi lainnya terlihat kemerahan. Ternyata betul, bahwa Danau Linau selama ini juga dikenal sebagai Danau Tiga Warna.

Menuju Amurang, alias titik finis etape pertama, jalan terus melandai. Disambut gerimis tipis, kami tiba di Amurang sebelum gelap. Benar saja, jarak tempuh hari ini 92 kilometer.

***

Tidak banyak yang saya ingat pada etape kedua, selain jalan yang rolling berpuluh-puluh kilometer, sambutan luar biasa di Desa Ongkaw II, Sinonsayang, Minahasa Selatan, dan…menginap di Asrama Armed 19 Lolak di titik finis.

Ongkaw II adalah sebuah desa sekitar 50-an kilometer dari Amurang, atau kurang lebih 120 kilometer dari Manado. Menjelang pusat desa, saya dan pesepeda lainnya merasa agak khawatir karena di depan kami banyak sekali iring-iringan motor. Mereka sama sekali tidak mau memberi jalan untuk rombongan Jelajah.

Wah rusuh nih,” kata salah seorang peserta. Raungan sirine dari mobil patroli kawal pun diacuhkan. Penasaran, saya mendekat dan bertanya kepada salah seorang di antara pria bermotor itu.

“Mau ke mana, Pak?” tanya saya.

“Kita orang mau sambut!” jawabnya.

Ternyata, mereka mau menyambut rombongan pesepeda. Tanpa sadar, air mata saya menetes. Mereka benar-benar mengiringi kami sekitar dua kilometer menjelang pusat desa!

Di desa, suasana lebih ramai lagi. Masyarakat sudah berkumpul di depan rumah-rumah mereka, dan sebagian besar sudah menunggu sejak pukul 7.30 pagi di balai desa (saat itu sudah pukul 11.00). Di depan balai desa, kami disambut dengan gegap gempita marching band yang di antaranya memainkan lagu-lagu daerah Minahasa. Luar biasa, pikir saya. Ini spontanitas yang mengharukan. Dada saya bergetar.

Dalam sambutannya, Susan Lydia Lumi, seorang hukum tua (lurah) Ongkaw II menyampaikan betapa dirinya dan masyarakat bangga bahwa desa mereka dilintasi oleh tim Jelajah.

Di gedung balai desa yang belum kelar dibangun sudah tersedia aneka penganan dan masakan khas Minahasa: pisang goreng sambal dabu-dabu, aneka masakan olahan ikan, jagung rebus dengan bulir yang kuning jernih dan gemuk-gemuk, aneka kue basah dan manis termasuk kue cucur dan nasi jaha, dan rambutan.

Ongkaw II juga dikenal sebagai “kampung rambutan” karena pohon ini tumbuh di setiap rumah penduduk. Di sepanjang ruas Trans-Sulawesi menjelang desa ini memang terlihat kedai yang menjual rambutan.

Semua sajian yang berlimpah ini adalah cermin tradisi mapalus, bahasa Minahasa yang berarti ‘gotong-royong’. “Kami menyiapkannya dengan kerelaan hati. Setiap warga menyiapkan apa yang sanggup mereka sajikan, tanpa dibayar atau dimodali siapa pun,” kata Keintjem, pria berusia 67 tahun yang saya temui di sela-sela keriuhan.

Meninggalkan Ongkaw II, kesedihan itu bukan hanya terasa dalam dada saya, melainkan juga di wajah para warga yang melepas kami. Juga pada lambaian tangan mereka yang tak henti. Beberapa anak kecil bahkan ikut berlari mengikuti kami, seakan ingin menyertai kami sejauh mungkin.

Di asrama Markas Besar Batalyon Artileri Medan (Armed) 19/105 Tarik Bogani, Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow Induk, yang menjadi titik finis di etape ini, para peserta tidur dalam dua ruangan aula besar. Namun, beberapa orang memutuskan untuk membuka tenda.

Kebersamaan—yang memang harus terus-menerus dipupuk karena kami akan terus berjalan bersama selama dua minggu—begitu terasa. Suara dengkuran menjadi hal biasa yang sudah dimaklumi oleh masing-masing peserta. Namun, yang tetap harus diperjuangkan adalah kamar mandi dan colokan listrik.

***

Perjalanan etape ketiga dari Lolak ke Baroko (sekitar 90 kilometer) menjadi ujian serius pertama. Di dua puluh kilometer pertama, road captain kami bahkan merasakan kelelahan akibat kepanasan yang berkisar pada 35-37 derajat Celsius.

Pantai pasir putih Maelang di Kecamatan Sangtombolang, Sulawesi Utara pun menjadi perhentian yang ideal. Langitnya masih biru. Angin bertiup lambat, membelai pucuk-pucuk pohon kelapa. Suasana ini bagaikan oasis di padang pasir. Saya segera melumat buah-buahan untuk mengembalikan energi dan cairan setelah 28 kilometer diterpa panas dan jalan turun-naik.

Namun, penyiksaan dilanjutkan selepas Pantai Maelang. Menuju Baroko adalah ujian daya tahan fisik kami. Beberapa peserta pun berguguran dan memutuskan untuk dievakuasi. Saya tetap mengayuh, mengatur napas dan irama kayuhan, menjaga momentum, melatih kesabaran.

Saya mencoba melampaui lintasan yang berkelok-kelok mengitari sisi bukit dengan mengubah-ubah kombinasi gear agar tidak terlalu menguras tenaga, tetapi juga tidak jauh tertinggal dari rombongan bertenaga kuda di depan. Untungnya, pemandangan laut di sisi kanan bisa menjadi pelipur letih.

***

Lanskap Sulawesi yang berbukit-bukit memang menjadikan rute Jelajah ini lebih menantang ketimbang jelajah-jelajah sebelumnya. Di etape keempat dan kelima (Boroko-Gorontalo-Marisa), tanjakan dan turunan itu masih terus dijumpai. Cuaca panas menjadi “bonus penderitaan” bagi para peserta. Tidak sedikit yang akhirnya menyerah dan memilih dievakuasi.

Menyeberang dari Marisa ke Ampana juga bukan perkara yang menyenangkan, setidaknya buat saya. Sulit bagi saya untuk beristirahat dalam keadaan bergoyang-goyang di laut. Ditambah lagi, kapal harus singgah di dua pulau kecil terlebih dahulu. Hal yang luput diantisipasi oleh panitia.

Alhasil, baru menjelang subuh kami berlabuh di Ampana. Dengan kepala berat karena kurang tidur, saya harus bersepeda dalam kegelapan dini hari dan angin dingin menuju penginapan di Ampana. 

Namun, persinggahan di Pulau Walea Besar, di mana saya menjumpai Lisa dan anaknya yang meraung-raung, justru menjadi salah satu momentum penting yang memberi makna pada perjalanan ini.

Sejak awal perhelatan Jelajah Kompas berlangsung, saya tidak punya sedikit pun ketertarikan untuk mengikutinya. Saya merasa, bersepeda bersama rombongan besar—dengan waktu yang diatur ketat—bukanlah kegiatan yang menyenangkan.

Sampai akhirnya waktu penyelenggaraan Jelajah ini kian dekat, seorang teman menyarankan agar saya ikut. “Ini kesempatan sekali seumur hidup. Kamu akan mendapatkan pengalaman bersepeda yang berbeda. Buat apa setiap hari kamu gowes bike to work kalau belum pernah merasakan ikut Jelajah?” kira-kira begitu sarannya.

Kesan pertama yang saya dapatkan dalam Jelajah adalah begitu banyak hal, pengetahuan, dan wawasan baru yang saya dapat dari rekan-rekan satu tim karena begitu beragamnya latar belakang para peserta: dokter, pegawai swasta, pengacara, pengusaha, jenderal aktif, dan lain-lain. Para peserta pun tidak butuh waktu lama untuk bisa cair, melebur, saling bercanda. Itulah hebatnya sepeda. 

Bersepeda, khususnya dalam Jelajah ini, menjadikan warna kulit, suku, agama, ras, dan latar belakang personal menjadi kabur, berganti dengan semangat kolektif agar kita semua bisa menyelesaikan penjelajahan Bumi Celebes dengan selamat, tanpa kurang satu apa pun.

Etape Manado-Tomohon-Amurang, yang digadang-gadang bakal membuat kaget peserta pun—karena langsung disajikan tanjakan—bisa dilalui dengan penuh senyum. Semua karena dorongan mental dari rekan-rekan satu tim.

Etape-etape selanjutnya memang lebih berat, tetapi berkat kebersamaan yang telah terjalin secara pelan-pelan, tantangan demi tantangan pun berhasil kami lewati. Tidak jarang, rekan penggowes lain memberikan makanan atau minuman ketika tim logistik masih jauh, atau tidak terlihat di belakang. Itu membuat saya terharu, dan menjadi suntikan tenaga yang tidak sedikit.

Soal lintasan, Trans-Sulawesi tidak perlu diragukan lagi. Tidak salah bila naturalis Alfred Russell Wallace menganggap lanskap Sulawesi unik. Semua jenis bentangan alam tersedia di sini: hutan-hutan hijau, sawah-sawah dengan padi menguning, pantai-pantai dengan air sejernih kaca, danau-danau yang menenteramkan jiwa, serta bukit-bukit dengan kicauan aneka satwa di dalam tajuk hutannya. 

Tentu saja, Sulawesi juga kaya akan keragaman budaya dan produk kuliner. Sepanjang perjalanan, hampir tidak ada hidangan yang gagal (kecuali satu, di perbatasan Sulawesi Tengah-Sulawesi Selatan, di mana kami akhirnya terpaksa memesan mi instan karena nasi yang terlalu keras.)

Kekhawatiran saya soal perjalanan bersama dengan aturan waktu yang ketat pun seperti mendapat jawabannya. Sepanjang Jelajah, saya merasa diajari soal bagaimana mendisiplinkan diri, bangun di awal hari, rapi dalam berkemas, setia terhadap batas waktu, dan mengikuti instruksi dari road captain

Perihal kebersamaan, saya juga menemukan bahwa Jelajah merupakan momentum yang pas untuk belajar soal kesetiakawanan, bagaimana mengalahkan ego, tidak bersikap jumawa, mau bekerja sama, menjaga perasaan rekan satu tim, dan saling menjaga.

Terus terang saja, saya merasa mendapat banyak sahabat baru, bahkan keluarga baru, yang selama dua minggu sama-sama mencecap kesenangan dan penderitaan, tawa dan (mungkin) tangis. Dari Lisa dan keluarganya di Dermaga Pasokan, saya diajari bahwa perjumpaan dan perpisahan adalah sebuah keniscayaan, dan hidup harus terus berlanjut.

Categories
Feature

Berdaya lewat video partisipatif

Mai utu…mai punu!” Demikian teriak warga Desa Manubhara, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Minggu (4/1). Teriakan ratusan warga itu terdengar lantang, padahal hari sudah gelap. Seruan yang berarti “mari kumpul, mari usul” tersebut merupakan slogan yang dipakai oleh Komunitas Kreatif Flores untuk menyemangati masyarakat Desa Manubhara untuk turut serta memeriahkan acara festival video partisipatif di desa tersebut. 

Categories
Feature

Orang-Orang Biasa di Istana

Tiga puluh empat tahun lalu, tepatnya 20 Februari 1980, Yatmin muda membulatkan tekad untuk mengadu nasib ke Jakarta. Berbekal ijazah sekolah menengah pertama, warga Desa Selorejo, Kawedanan Gorang Gareng, Magetan, Jawa Timur, yang waktu itu masih berusia 18 tahun tersebut pun menemukan nasib terbaik yang bisa diterima seorang dengan ijazah SMP sepertinya di Jakarta: menjadi pembantu rumah tangga.

Categories
Photostory Travel Story

Pulau Weh: Sunyi di Bulan Suci

Lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” tiba-tiba mengiang di telinga saya. Keras. Seketika saya merasa sedang menjadi bagian dari sejarah perjalanan negeri ini. Saya hendak menuju Sabang, kota yang namanya diabadikan dalam lagu tersebut. Inilah kota di Pulau Weh, yang menjadi batas paling barat wilayah kepulauan Nusantara.

Ada dua kekhawatiran saya ketika ditugaskan untuk mengunjungi Sabang (dan Pulau Weh, secara umum). Pertama, dalam kunjungan singkat ini—satu setengah hari—saya tidak akan menyelam atau ber-snorkeling, karena satu dan lain hal. Kedua, saya pergi dalam keadaan berpuasa.

Kenapa dua kekhawatiran itu muncul? Pulau Weh, yang terletak di Laut Andaman, dikenal luas sebagai salah satu surga bagi para peselam. Ada beberapa divespot unggulan di sini, sebut saja Pulau Iboih yang paling terkenal, atau Pulau Gapang, Pulau Rubiah, Pulau Rondo, dan banyak lagi, yang mengandung keanekaragaman spesies ikan dan terumbu karang nan menggoda mata. Karenanya, mengunjungi Pulau Weh tanpa menyelam atau ber-snorkeling membuat saya harus berpikir keras bagaimana mengisahkan perjalanan saya.

Kekhawatiran kedua muncul karena Sabang, dan hampir seluruh daerah Aceh (sebagaimana daerah lain dengan nuansa Melayu yang kental), juga dikenal sebagai nirwana bagi para pemburu kuliner. Dalam keadaan berpuasa, pada siang hari saya akan banyak melewatkan ragam masakan khas Aceh yang pedas asam, citarasa yang paling saya suka (dan terbiasa dengannya, karena istri saya kerap membuat masakan Aceh). Tentu saja, saya masih bisa menikmatinya kala berbuka puasa, tetapi saya merasa tetap ada nuansa yang hilang.

Dalam kunjungan beberapa tahun sebelumnya ke Banda Aceh, misalnya saja, saya bisa menghabiskan hari hanya dengan duduk-duduk santai di kedai kopi: menyaksikan tingkah-polah para lelaki dewasa yang berdebat soal politik, sepak bola, dan hal-hal remeh lainnya. Ditemani kopi Ulee Kareng dengan penganan pulut panggang atau timpan srikaya, satu hari itu saja saya bisa bercerita soal banyak hal.

Walhasil, pertanyaan pertama saya ketika bertemu Bahri, seorang warga lokal yang mengantar saya ke penginapan, adalah: apa yang bisa saya tulis soal Pulau Weh selain soal pantai dan terumbu karang?

Dengan senyum yang terbilang “manis” untuk ukuran seorang lelaki berkulit gelap dan berperawakan besar, Bahri menjawab, “Tidak tahu bang, di sini sepi, apalagi sedang Ramadhan.”

Tentu saja jawaban Bahri tidak membantu saya. Tetapi, saya harus berterima kasih kepadanya karena ia memberikan ide buat saya: saya akan menceritakan betapa Sabang menjelma jadi “kota mati” saat siang hari pada Bulan Ramadhan.

Saya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, sekitar pukul 11.00. Dan, dalam perjalanan dari bandara ke Pelabuhan Ulee Lheue (pelabuhan penyeberangan feri ke Pulau Weh) sepertinya saya bisa menghitung berapa banyak orang yang saya jumpai di jalan. “Kalau hari biasa, nggak sesepi ini bang,” ujar Bahri dengan logat Aceh yang khas.

Sesuai perkiraan saya sejak sebelum berangkat, hampir semua warung makan dan restoran—bahkan warung kecil penjual rokok—tutup. Hanya bengkel, toko pakaian, dan toko-toko lain yang tidak ada kaitannya dengan makananlah yang tetap mengais rezeki pada siang hari di bulan suci bagi umat Islam ini.


Di pelabuhan feri Ulee Lheue siang itu, geliat kehidupan barulah mulai terasa, walau kesan sepi sulit dihindari. Apalagi buat saya, yang sehari-hari terbiasa dengan kemacetan dan antrean manusia di ibu kota. Saya hanya melihat beberapa rombongan kecil, mungkin keluarga, yang membawa gembolan seperti orang yang hendak mudik. Sebagian dari mereka berpakaian bagus dan berwarna-warni. Juga ada beberapa warga Sabang yang memang rutin menyeberang ke Banda Aceh untuk berniaga. Tidak ada hiruk-pikuk yang berarti.

Butuh waktu dua jam dengan kapal feri lambat untuk menyeberang dari Ulee Lheue ke Pelabuhan Balohan di Pulau Weh. Karena kendala jadwal, kami tidak bisa menggunakan kapal cepat. Padahal, dengan kapal cepat, waktu penyeberangan jadi terpangkas hanya satu jam.

Setelah menginjak Sabang, suasana sunyi yang saya jumpai sebelumnya di Banda Aceh seakan tidak berarti. Di beberapa ruas jalan utama di Sabang, beberapa kali saya berada dalam suasana di mana sama sekali tidak ada orang atau kendaraan yang melintas, atau suara yang terdengar, kecuali gesekan dedaunan di pohon. Momen ini, mungkin saja, cocok bagi para pejalan yang ingin mendapatkan suasana yang syahdu dan ingin melarikan diri dari kepenatan hidup.

Sebagai bagian dari provinsi yang sejak lama memiliki julukan Serambi Mekah—karena dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran agama Islam, dan memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam ke Asia Tenggara—dan telah memberlakukan sistem hukum berdasarkan syariat Islam sejak 2001, pemerintah daerah memang melarang tempat-tempat makan untuk buka pada siang hari sepanjang Ramadhan.

Banyak selebaran yang ditempelkan di beberapa sudut kota, yang berisi larangan tersebut. Selebaran ini ditandatangani oleh seluruh perangkat musyawarah pimpinan daerah setempat.

“Di Aceh, sepanjang bulan Ramadhan ada larangan formal bagi pedagang makanan untuk membuka kedai, toko, atau lapak mereka mulai pukul 5.00 hingga pukul 17.00,” Ali Taufik menjelaskan. Pria ramah ini adalah sekretaris di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang. Saya menjumpainya di kantornya yang sederhana di Jalan Diponegoro, Kota Sabang. Banyak sekali brosur wisata di meja tamu kantornya.

Aktivitas perekonomian secara umum juga mengendur. Pasar tradisional yang semenjak pagi biasanya riuh dengan penjual ikan juga tidak terlihat menggeliat.

“Nanti sore saja ke Jalan Perdagangan, itu pusat penjualan penganan berbuka puasa,” Ali memberi saran. Pada bulan-bulan di luar Ramadhan, lanjut Ali, pemerintah melarang masyarakat untuk seenaknya berjualan makanan atau membuka warung di pinggir-pinggir jalan. “Tapi Ramadhan adalah bulan kebebasan. Free. Di mana pun masyarakat diperbolehkan untuk berjualan. Saya lihat banyak wisatawan luar yang menganggap ini sebagai hal yang menarik,” ujarnya.

Sambil menunggu sore, saya menyempatkan berbincang soal pariwisata di Pulau Weh dengan Ali. Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir, tingkat kunjungan wisatawan ke Pulau Weh masih cenderung meningkat. Hanya saja, kata Ali, pariwisata di mana pun sangat vulnerable (rapuh), misalnya terhadap kondisi alam dan cuaca.

“Biasanya, hanya ada dua kapal cepat yang beroperasi di pelabuhan penyeberangan. Nah, liburan kemarin kami sudah menyiapkan lima kapal cepat untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung. Tetapi, karena angin kencang, akhirnya kunjungan berkurang,” Ali menjelaskan. Ke depan, untuk menjaga tingkat kunjungan wisatawan, pihaknya akan memperkenalkan satu objek wisata baru setiap tahunnya.

Menurutnya, salah satu batu sandungan terbesar untuk mengembangkan pariwisata di Sabang adalah faktor politik. “Kebijakan politik masih belum mengarah ke pariwisata, misalnya tercermin dari alokasi anggaran, yang hanya sekitar dua persen,” katanya. Ali Taufik mengemukakan analogi yang menarik: mengembangkan pariwisata itu mirip menyekolahkan anak. Investasinya besar sekali, tetapi kita tidak tahu kapan hasilnya. “Yang jelas, pasti akan terasa.”


Lantunan azan Ashar terdengar lamat-lamat di kejauhan, bersahut-sahutan dari beberapa masjid. Saya menunggu sejenak untuk segera menuju Jalan Perdagangan, tempat yang dikatakan Ali Taufik sebagai pusat penganan berbuka puasa. Sekitar setengah jam setelah azan, saya pun menuju tempat yang dimaksud.

Lanskap Pulau Weh sangat berbukit-berbukit dan Jalan Perdagangan seperti terletak di bagian lembahnya. Di sepanjang jalan ini, masih banyak bangunan bergaya hindia bekas peninggalan Belanda. Salah satunya gedung Bioskop Rex (Rex Bioscoop).

Gedung yang didirikan sebelum tahun 1900 ini merupakan fasilitas hiburan dari pemerintah kolonial bagi masyarakat Sabang. Dulunya, bioskop ini menayangkan film-film yang sebelumnya telah melewati seleksi sebuah komite, mungkin sejenis lembaga sensor film masa itu. Komite inilah yang memutuskan film apa yang akan diputar, termasuk film anak-anak.

Bioskop ini juga menjadi hiburan bagi para pasien rumah sakit jiwa (KZG). Setiap hari Sabtu, mereka akan berbondong-bondong secara teratur menuju bioskop ini.

Sayangnya, kondisi Bioskop Rex saat ini sangat mengenaskan. Sempat dijadikan Gedung Kesenian Kota Sabang selama beberapa tahun, kini gedung yang sebetulnya terlihat masih kokoh ini terbengkalai dan menjadi sarang lumut. Bagian depan bioskop pun akhirnya digunakan warga yang menjajakan penganan berbuka puasa.

Seperti kata Ali, sepanjang Jalan Perdagangan memang menjadi pusat takjil alias penganan berbuka. Sebetulnya, pasar dadakan di Jalan Perdagangan ini tidak jauh berbeda dengan pasar-pasar tumpah yang banyak bermunculan ketika bulan Ramadhan. Tetapi, saya menemukan beberapa penganan unik yang tidak saya jumpai di Jakarta, misalnya sate gurita.

Sayang, saat saya datang ke lokasi, si penjual masih bersiap-siap untuk menggelar dagangannya. Kesempatan mencicipi sate gurita pun harus tertunda (lagi pula, waktu berbuka belum tiba, dan saya masih ragu apakah ini termasuk jenis makanan yang lestari atau tidak). Sekilas, potongan-potongan dagingnya mirip sate ayam. Tetapi jika dilihat lebih teliti, akan terlihat potongan bentuk khas lengan gurita dengan bulatan-bulatan cekung.

Di sebelah sate gurita, seorang wanita muda berjilbab mengajak saja mampir ke lapaknya. “Dipilih saja bang, ini pepes ikan bakar, ini pepes udang bakar,” katanya. Saya katakan kepadanya bahwa saya datang dari Jakarta, dan ingin mencicipi masakan yang sulit dijumpai di Jakarta. Dia pun langsung mengambil plastik, lalu memasukkan beberapa pepes udang bakar yang terbungkus daun pisang. “Ini nggak ada di Jakarta,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Bukan hanya pedagang penganan kecil dan lauk-pauk yang memenuhi pinggiran Jalan Perdagangan. Ada pula pedagang sayur-mayur yang mencoba peruntungannya di sisa hari. Saya pun teringat pesanan istri tercinta untuk membelikannya asam sunti, bumbu penting untuk masakan-masakan Aceh.

Belum lama mengitari Kota Sabang, saya sudah bisa merasakan keramahan warga Sabang terhadap orang asing atau pendatang. “Masyarakat Sabang lebih heterogen dibandingkan Aceh pada umumnya, sehingga lebih terbuka terhadap pendatang,” ungkap Ali. Itu salah satu sebab saat ini pariwisata Sabang lebih maju dibandingkan daerah-daerah lain di Aceh. “Memang, ada beberapa gampong [kampung] yang belum bisa terbuka terhadap pendatang, tapi secara umum masyarakat sangat terbuka.”

Selain dari sikap para penjaja takjil, keramahan itu bisa segera saya rasakan dari Eka, perempuan berusia 45 tahun yang energik, yang saat saya temui sedang memilih-milih kue di depan Bioskop Rex. “Sabang ini tempat untuk melepas stress,” ujarnya dengan wajah ceria. Sambil memegang-megang kue yang hendak dibelinya, ia bercerita tentang seorang pendatang dari Jakarta yang kakinya lumpuh karena terserang stroke akibat stress.

“Dia sudah berobat ke mana-mana, akhirnya dibawa ke sini. Setelah beberapa tahun tinggal dan beli rumah di sini, akhirnya sekarang sudah bisa jalan normal lagi,” Eka mengisahkan. Saya tidak tahu apakah itu kisah nyata atau sekadar isapan jempol. Yang jelas, suasana tenteram memang terasa di sini.

Menyinggung soal aturan-aturan syariah terkait kegiatan pariwisata, Ali menuturkan bahwa di Sabang hampir tidak ada hambatan atau benturan. “Bahkan beberapa kegiatan syariah malah dianggap menarik oleh wisatawan dan dijadikan tontonan,” katanya diringi tawa. Ia menyebut soal penjudi yang dihukum cambuk baru-baru ini, yang mendapat perhatian dari para wisatawan asing.


Di ujung senja, angin sepoi-sepoi menemani saya dan dua orang rekan perjalanan berkeliling pulau. Jalan utama di Pulau Weh bagus sekali. Berkendara di pulau ini mirip dengan berkendara di kawasan Puncak, Jawa Barat. Bedanya, di sini jauh lebih sepi dan jauh dari riuhnya kemacetan.

Di sepanjang perjalanan, saya sempatkan menepi untuk sekadar menikmati debur ombak di pantai. Walaupun tidak menyelam, setidaknya saya cukup terhibur hanya dengan memandangi panorama pantainya.

Di pantai Sumur Tiga, sepasang wisatawan asing dengan santainya menikmati matahari terbenam di atas sebuah kursi panjang di tepi pantai berpasir putih. Sementara di pantai Anoi Itam yang karang-karangnya mirip gergasi yang seakan-akan menjaga pantai, tiga orang warga terlihat sedang memancing sambil bersenda gurau.

Menjelang Iboih, tempat saya menghabiskan hari di Sabang yang permai, suara azan Maghrib pun berkumandang. Saatnya berbuka.

Categories
Travel Story

Sawahlunto: Bekas Kota Hantu yang Mulai Menggeliat

Sawahlunto merupakan salah satu kota yang terbilang sukses melakukan transformasi dari kota yang hanya berorientasi pada kegiatan tambang batu bara hingga menjadi kota dengan visi pariwisata yang tajam dan kreatif.

Riwayat Sawahlunto agak berbeda dengan sejumlah kota lain yang terletak di kawasan Bukit Barisan di Sumatra Barat. Kota seperti Bukittinggi, Batusangkar, Payakumbuh, Padang Panjang, atau Solok terbentuk oleh perkembangan budaya komunitas Minang, sementara Sawahlunto dibangun oleh usaha tambang. 

Sejak sekitar abad ke-19, saat seorang insinyur Belanda bernama de Greeve menemukan batu bara di kota yang berjarak sekitar 92 kilometer arah Timur Laut Kota Padang ini, roda kehidupan Sawahlunto dan masyarakatnya praktis hanya seputar batu bara, batu bara, dan batu bara. 

Uang sebesar 5,5 juta gulden ditanam oleh Belanda untuk pembangunan fisik kota, itu pun difokuskan bagi infrastruktur yang bisa mendukung kegiatan tambang. Contohnya, pembangunan jalur kereta api dari Padang menuju Sawahlunto pada masa itu ditujukan sebagai transportasi untuk mengangkut batu bara dari Sawahlunto ke Pelabuhan Emmahaven (sekarang Teluk Bayur). Untuk menunjang distribusi batu bara, pemerintah kolonial bahkan rela memindahkan aliran Sungai Lunto dan menggantinya dengan pembangunan jalur kereta api sekaligus stasiunnya pada 1912 di Kampung Teleng. 

Pertambangan terus berjalan hingga masa sesudah kemerdekaan. Namun, sejak tahun 1940 sampai akhir tahun 70-an produksi batu bara Ombilin sempat merosot, hanya puluhan ribu ton per tahun. Dengan menambah beberapa fasilitas, perubahan manajemen, dan penerapan teknologi baru, usaha penambangan meningkat kembali sejak awal tahun 80-an, bahkan produknya terus meningkat melampaui 1 juta ton per tahun pada akhir tahun 90-an.  

Titik baliknya adalah masa Reformasi pada 1998. “Jika di Jakarta (pada saat itu) terjadi penjarahan mal, di Sawahlunto terjadi penjarahan tambang,” ujar Medi Iswandi, Kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto, kepada saya.

Pria yang memiliki tutur kata sopan ini menjelaskan, penjarahan itu merupakan pelampiasan rasa kesal masyarakat yang merasa dulunya tanah mereka dirampas dan hak mereka ditekan oleh penjajah Belanda. Hal itu juga sejalan dengan berakhirnya kegiatan tambang terbuka di Sawahlunto. Tanah-tanah tambang diambil alih oleh masyarakat dan cadangan tambang terbuka habis. “Cadangan tambang dalam masih ada, tetapi PT Bukit Asam belum siap melakukan alih teknologi. Selain itu, pada waktu itu harga batu bara belum ekonomis untuk ditambang melalui metode tambang bawah tanah karena biayanya besar,” Medi memaparkan.

Akibatnya, pada periode itu terjadi pengurangan pegawai PT Bukit Asam—perusahaan tambang batu bara milik negara—dari 2.000 orang menjadi sekitar 100-an orang. Penduduk juga melakukan eksodus besar-besaran. “Sekitar 7.000 jiwa pindah dan menyebar ke berbagai kota seperti Padang, Solok, atau ke tempat asal mereka,” imbuh Medi.

Bertahun-tahun, Sawahlunto pun menjelma kota hantu. Jalan-jalan sepi, tidak ada aktivitas ekonomi dan sosial yang signifikan. Akhirnya, pada 2001, dengan dibantu UNDP (lembaga PBB untuk pembangunan) pemerintah daerah bersama masyarakat merumuskan masa depan kota ini. “Sekitar 400 orang pemangku kepentingan kota, mulai dari tokoh masyarakat, pemuka agama, pemuka adat, tokoh pemuda, berkumpul untuk berdiskusi kota ini mau diapakan,” jelas Medi.

Hasil pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan yang akhirnya menjadi penentu utama bangkitnya Sawahlunto saat ini: menjadikan kota bersejarah tersebut sebagai kota wisata tambang yang berbudaya.

Pertimbangannya, di Sawahlunto banyak bangunan tua bersejarah yang merupakan bekas bangunan kolonial yang berfungsi mendukung aktivitas pertambangan saat itu. Sebut saja Kantor UPO (PT Bukit Asam) yang merupakan pusat operasi kegiatan penambangan, Gedung Socitet yang dulunya menjadi tempat para pejabat tambang  berkumpul dan berdansa (semacam klub), gudang ransum sebagai dapur umum untuk ribuan pekerja tambang, stasiun kereta api, silo, dan banyak lagi bangunan tua lainnya yang dianggap potensial sebagai objek wisata heritage.

Memang, kesepakatan tersebut tidak langsung beroleh hasil. Kehidupan masih stagnan, kegiatan tambang liar masyarakat pun tetap marak. Hingga pada 2003 (di bawah kepemimpinan Amran Nur) pemerintah kota mulai melakukan langkah-langkah yang lebih strategis dan lebih detail. 

Para penambang liar yang awalnya amat sulit untuk ditertibkan dengan cara represif, mulai dialihkan untuk bercocok tanam. Pemerintah menyediakan bibit tanaman kebun (cokelat, karet, dan lain-lain), dan pupuk secara gratis. Warga miskin diberi Rp1.100 bagi setiap lubang tanaman hidup yang mereka buat. Tidak tanggung-tanggung, dana sebesar 1,5-2 miliar rupiah digelontorkan pemerintah daerah untuk program insentif ini.

Setelah “ekonomi baru” ini terbentuk, barulah pemerintah kota berfokus merevitalisasi Sawahlunto. Infrastruktur dibangun, bangunan-bangunan dan kawasan bersejarah seperti Lapangan Segitiga dan pusat kebudayaan pun diperbaiki. Objek-objek wisata baru yang bersifat massal dan rekreatif juga dibangun seperti waterboom yang dibuka pada 2007. “Kolam renang waterboom ini dulunya bekas kolam pemandian orang-orang Belanda,” kata Medi.

Di utara kota, di atas lahan seluas 350 hektare, dibangun Resor Wisata Kandi yang memiliki pacuan kuda berstandar nasional (sekelas Pulomas di Jakarta), sirkuit road-race yang juga berstandar nasional, sirkuit motorcross, taman satwa, dan taman wisata air yang pengunjungnya mencapai 300.000 orang per tahun.

Dengan pembangunan wahana-wahana tersebut, Sawahlunto kini menjadi tuan rumah bagi event-event nasional, bahkan regional seperti balap sepeda Tour de Singkarak yang akhirnya memancing wisatawan untuk berkunjung. “Setiap Desember juga ada event Sawahlunto Derby, lomba pacuan kuda nasional dengan hadiah terbesar di Indonesia,” Medi memerinci.

Untuk fasilitas akomodasi pengunjung, saat ini sudah ada dua hotel di Sawahlunto yang pengelolaannya kini diserahkan kepada pihak swasta. “Akan tetapi, yang menggembirakan sebenarnya adalah munculnya sekitar 70 homestay baru dengan jumlah kamar 140-an— yang merupakan rumah masyarakat biasa—yang bertarif Rp100.000/orang/malam, termasuk sarapan dan makan malam,” ujar Medi setengah berpromosi. Para pemilik rumah yang berminat menjadikan rumahnya sebagai homestay akan dibimbing oleh sebuah kelompok swadaya masyarakat soal bagaimana mengelola homestay. 

Jika sewaktu-waktu Anda berminat untuk menginap di homestay Sawahlunto, carilah rumah yang memiliki label kuning khusus di depannya.

Dengan upaya-upaya revitalisasi itu, pada 2011 tingkat kunjungan ke Sawahlunto mencapai 735.000 orang. Padahal, 8-9 tahun lalu hanya ribuan orang, itu pun bukan untuk berwisata melainkan seminar atau rapat karena memang belum ada tempat wisata. “Jika ditanyakan berapa persen pertumbuhannya, saya agak kesulitan menghitungnya,” kata Medi disusul tawanya yang lepas. ***

Categories
Travel Story

“Tangan Tuhan” di Pulau Seribu Obat

Sebagai seorang remaja tanggung dengan energi yang meletup-letup, Dede, warga Nabire, gemar bermain bola. Namun, suatu hari, kejadian nahas menimpanya. Ia terjatuh saat mengolah si kulit bundar. Tulang kering kaki kanannya patah. 

Categories
Feature

Mengurangi Emisi, Menimbang Potensi

MENDUNG YANG MENGGANTUNG di langit Jakarta siang itu seperti membias di wajah Slamet. Lelaki berusia 42 tahun itu adalah pemilik sebuah perusahaan rumahan pembuat pakaian olahraga yang berlokasi di kawasan Pusat Industri Kecil di Pulogadung, Jakarta Timur. Ketika saya temui di “pabrik”-nya, Slamet sedang membuat goresan pola di atas sehelai kain berwarna merah. Mengenakan kaos singlet, senyumnya tipis menyambut saya.

Categories
Uncategorized

Ujung Kulon: Bukan Cuma Soal Badak Jawa

Sepulang dari Ujung Kulon beberapa waktu lalu guna mencoba melihat bagaimana proses penghitungan (survei) Badak jawa dilakukan, banyak teman mengajukan pertanyaan serupa ini: “Bagaimana? Kelihatan badaknya? Ada berapa? Seberapa besarnya?” dan seterusnya.

Terus terang saja, bukan saya tidak mau menjawab pertanyaan itu. Pada kenyataannya, melihat Badak jawa (Rhinoceros sondaicus), meski konon saat ini populasinya bertambah, tidaklah semudah yang dibayangkan. “Jangankan pengunjung biasa, fotografer yang memang sengaja ingin mengambil gambarnya saja mesti menunggu berminggu-minggu untuk melihat badak, itu juga belum tentu dapat,” begitu biasanya saya menjawab. Sambil bercanda tentunya.

Luasnya areal hutan yang menjadi habitat badak dan sifat badak yang amat pemalu membuatnya sulit untuk didekati. Selain itu, status kawasan yang merupakan habitat Badak jawa memang dibatasi untuk kegiatan wisata.

Di sisi lain sebenarnya ada banyak hal lain—yang tidak banyak disinggung—dari Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang bisa dieksplorasi oleh para pengunjung.

Secara geografis sendiri, taman nasional yang kekayaan keanekaragaman hayatinya pertama kali diperkenalkan oleh ahli botani Jerman Junghuhn menawarkan beragam atraksi alam nan memikat. Bayangkan ini: luas daratan sekitar 76.214 hektare, sedangkan wilayah laut seluas 44.337 hektare, terletak di Kecamatan Sumur dan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, provinsi Banten. Perpaduan area darat-laut itu membuat kawasan yang diresmikan menjadi taman nasional pada 1984 ini kaya akan variasi lanskap alami.

Ada beberapa jalan masuk ke TNUK, namun yang cukup populer adalah lewat Kecamatan Sumur dan melalui Desa Tamanjaya. Saya dan beberapa kawan wartawan—atas undangan WWF—pun mencoba jalur Sumur. Dari Labuan menuju Sumur memakan waktu 2 jam perjalanan mobil.

Ditemani rinai gerimis, kami langsung disambut beberapa nelayan yang siap mengantar menyeberang menuju Pulau Handeuleum. Sekadar tips, jika rombongan Anda sedikit, coba bergabung dengan rombongan lain, jika ada, karena akan menghemat ongkos menyeberang yang dipatok Rp50.000-Rp100.000 per kapal. Hitung-hitung menghemat konsumsi solar juga kan?

Perjalanan 1,5 jam menyeberang dari Sumur ke Handeuleum tak terasa karena semilir angin laut seperti membelai-belai rambut. Bagan-bagan yang mengapung pun selayak melukis horison di kejauhan. Dari Handeuleum sebagai titik awal penjelajahan, banyak hal yang bisa dieksplorasi. Bersampan menyusuri Sungai Cigenter menjadi pilihan yang sulit ditolak. Cukup rogoh Rp50.000 dari saku dan penyusuran sungai selama tiga jam pergi pulang pun menjadi pengalaman yang layak diceritakan kepada para kerabat. Sungai Cigenter sepanjang lebih dari dua kilometer membelah hutan Cigenter, hutan hujan tropis yang juga menjadi salah satu habitat utama Badak jawa di Ujung Kulon.

Sambil bersampan, di kiri kanan sungai berbagai spesies flora hutan pantai bisa dinikmati seperti jukut kiara (Spinifex littoreus), pandan (Pandanus tectorius), butun (Barringtonia asiatica) atau formasi hutan mangrove seperti api-api (Avicena spp.). Resapi aromanya, maka Anda akan merasa rileks dan terbebas dari riuhnya kehidupan kota.

Karena merupakan bagian dari rawa air tawar, di hutan ini juga tumbuh spesies flora rawa air tawar seperti jenis typha (Thypa angustifolia) dan teki (Cyperus spp.). Bukan itu saja, pengalaman mengayuh sampan juga dilengkapi dengan suguhan tanaman palma. “Tetumbuhan di hutan Cigenter ini selain memiliki fungsi alamiah menjaga keseimbangan ekosistem juga bisa menjadi bioindikator bagi aktivitas badak, yang menjadi salah satu metode survei badak,” jelas Iwan Podol, lelaki berusia 43 tahun, anggota tim Rhino Monitoring Officer, dan juga menjadi teman perjalanan kami.

Tidak hanya kaya akan flora, di sepanjang susur sungai juga bisa dijumpai ragam fauna. Saya sendiri—setengah takut—sempat menyaksikan ular cincin emas (Boiga dendrophyla) sedang melingkar di dahan pohon. Biawak yang sedang berjemur di atas batu pinggir sungai melengkapi panorama hutan hujan tropis Ujung Kulon.

Jika Anda ingin sedikit bermain tebak-tebakan dengan rekan seperjalanan, coba pejamkan mata dan tebak suara burung yang seperti ingin ikut menjadi bagian dari keindahan yang ditakdirkan Tuhan. Tapi awas, bekas pohon tumbang yang melintang di beberapa titik sungai selain bisa mewarnai serunya perjalanan juga bisa menjadi alasan untuk berganti baju karena tercebur sungai.

Selain ke Cigenter, dari Handeuleum ada beberapa pilihan lain seperti menyeberang ke Peucang dan menikmati keindahan alam bawah lautnya, atau wisata trekking ke pusat-pusat pengembalaan Banteng jawa (Bos javanicus).

Pilihan ada di tangan Anda.

Categories
Feature

Sawit Riau: Di Antara Dua Mimpi

Ledakan sawit di Riau adalah mimpi indah perekonomian. Namun, menjelma jadi mimpi buruk bagi kehidupan sosial dan lingkungan. Skema penanaman sawit yang berkelanjutan pun menjadi tantangan yang tak terelakkan.

Mursyid Muhammad Ali kelihatan begitu geram. Kepala Desa Kuala Cenaku, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, ini menyambut saya dengan wajah yang amat dingin. Kumisnya yang tebal membuat nyali saya semakin ciut.

“Sudah banyak wartawan datang dari Sumatra, Jawa, Jakarta, bahkan dari Jepang, Belanda, Amerika, dan Jerman. LSM dalam dan luar negeri juga bolak-balik ke sini. Tapi, tetap saja kebakaran hutan terjadi lagi. Setiap tahun se­lalu begitu,” suaranya yang lantang membuka cakap. Akibat asap dalam kebakaran hebat Juli lalu, tambah Mursyid, sedikitnya 12 anak-anak di desanya mengalami sesak napas berkepanjangan dan demam hebat.

“Saya sudah mengadu ke polisi, kirim surat ke Bupati, mengadu ke DPRD, ke Kementerian Lingkungan Hidup, tapi tidak juga ada penyelesaian,” lanjutnya dengan nada yang keras, sesekali ditingkahi dengan kata-kata kasar.

Sejenak saya terdiam. Ia kemudian pergi ke bagian belakang rumah kayunya. Lantainya berderak setiap orang menjejak. Sejurus kemudian, ia kembali dengan membawa setumpuk kertas. Isinya bermacam-macam; kliping-kliping koran yang pernah memuat tentang kebakaran hutan di desanya, berita yang mencantumkan namanya, sampai peta-peta, dokumen-dokumen, surat imbauan, dan surat protes yang pernah ditulisnya untuk disampaikan kepada elite-elite daerah.

Mursyid kemudian bercerita tentang permasalahan hutan dan lahan yang terjadi di Kuala Cenaku. Menurut dia, kebakaran hutan hanya buntut dari persoalan sebenarnya yang lebih besar: penyerobotan lahan—termasuk lahan adat—oleh dua perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi di sana.

Dari keseluruhan lahan masyarakat di Desa Kuala Cenaku dan Kuala Mulia seluas 7.820 hektare, jumlah lahan yang sudah diserobot, menurut klaim Mursyid, sampai saat ini mencapai  4.000 hektare.

“Kalau mereka mau bermitra dengan masyarakat, seperti di banyak kebun lain, kami masih bisa menerima. Lagipula, bukankah salah satu syarat untuk dikeluarkannya izin usaha perkebunan adalah adanya kemitraan dengan masyarakat lokal? Semua karyawan mereka pun sama sekali tidak ada dari warga setempat. Semua pendatang,” katanya.

Saya kemudian menyinggung soal dana bina desa yang telah diberikan perusahaan sebagai “kompensasi” atas lahan mereka, yang jumlahnya berkisar antara 175 juta rupiah dan 300 juta rupiah per desa yang terkena area konsesi perkebunan perusahaan. Setidaknya ada tiga kecamatan yang lahannya ikut tergerus: Kecamatan Seberida (Desa Paya Rumbai, Desa Kelesa, dan Desa Pangkalan Kasai), Kecamatan Batang Gansal (Desa Belimbing, Desa Ringin, Desa Penyaguan, dan Kecamatan Kuala Cenaku (Desa Kuala Cenaku dan Kuala Mulia).

“Uang segitu dibagi sekian banyak kepala keluarga (KK), berapalah besarnya? Di Desa Kuala Cenaku saja ada sekitar 1.557 KK, Anda hitung sajalah sendiri berapa yang kami dapat.”

Warga sudah bernegosiasi dengan cara baik-baik, tapi sama sekali tidak digubris. Jadi, jangan salahkan kami jika nanti kami bakar sawit-sawit mereka

Bahtrim

Dalam waktu dekat, menurut penuturan Mursyid, seluruh warga akan menggelar demonstrasi ke kantor bupati untuk memperjuangkan hak mereka. “Kami hanya ingin agar lahan masyarakat dikembalikan kepada masyarakat sebagai pemilik sebenarnya.”

Sikap lebih ekstrem ditunjukkan oleh Bahtrim, salah seorang warga desa yang berjarak empat jam perjalanan mobil dari Pekanbaru itu. “Warga sudah bernegosiasi dengan cara baik-baik, tapi sama sekali tidak digubris. Jadi, jangan salahkan kami jika nanti kami bakar sawit-sawit mereka,” tegasnya berapi-api.

Bukan hanya ancaman kekerasan yang akan diusung masyarakat, melainkan juga ancaman politik: jika masyarakat tidak mendapatkan lahan mereka kembali, mereka tidak akan mendukung bupati saat ini untuk menjadi gubernur dalam pemilihan kepala daerah.

***

RINAI hujan masih mendedas saat kami, saya dan fotografer Dwi Oblo, dua rekan dari WWF Ican dan Sammy, serta Bahtrim menyelusuri Sungai Cenaku, di Desa Kuala Cenaku.

Kami berperahu dalam diam. Hanya deru mesin perahu dan gerecak air yang terkadang memecah kesunyian. Dari atas pohon di tubir sungai, suara monyet ekor panjang seperti memanggil-manggil.

Namun, kami tahu persis ini bukan perjalanan wisata. Kami hendak mengunjungi lokasi bekas kebakaran hutan bulan Juli lalu yang ditengarai sebagai kebakaran hutan terbesar sepanjang sejarah di Riau. Kata-kata Pak Kades telah menggugah rasa penasaran saya untuk melihat sendiri kondisi lahan yang dilanda kebakaran.

Setelah perahu ditambatkan, kaki saya menjejak di lahan gambut yang  basah. Sisa kayu yang menghitam membuat areal tersebut laksana sebuah lautan arang. Sejauh mata memandang, yang saya dapat hanya batang-batang pohon yang hangus dan tumbang. Aroma asap sayup-sayup masih bisa saya hirup.

Informasi mengenai luasan areal hutan yang terbakar bervariasi. Saya bisa maklum karena begitu sulit untuk memperkirakan sedemikian besar luas lahan. Namun, Bahtrim dan beberapa warga lain memperkirakan sekitar 1.600 sampai 2.000 hektare. Itu berarti hampir setengah dari luas tanah Desa Kuala Cenaku.

Seperti sudah saya duga, juga senada dengan keterangan Pak Kades, areal hutan gambut itu dibakar untuk perkebunan sawit. Saya melihat sawit-sawit baru dengan tinggi sekira 60 sentimeter ditanam dalam lubang-lubang berukuran 1X1 meter dengan kedalaman kurang lebih dua meter. Kegiatan penanaman itu hanya berselang dua bulan setelah api padam.  

Membelah areal yang terbakar, dibuatlah kanal dengan lebar kira-kira empat meter. Menurut Yumiko Uryu, analis lingkungan berkebangsaan Jepang yang saya temui kemudian hari di kantor WWF di Pekanbaru, kanal-kanal ini adalah sebuah keniscayaan dalam suatu areal gambut yang hendak dikonversi menjadi kebun sawit baru. Kanal berfungsi sebagai drainase untuk “menarik” kandungan air dalam gambut.

Selain itu, kanal ini sepertinya juga digunakan untuk transportasi gelondongan kayu yang dibalak dari hutan yang hendak dialihkan menjadi perkebunan. Jadi, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Ini sesuai dengan yang saya temukan di lapangan. Di kanal tersebut telah mengapung tual-tual (gelondongan) kayu tebangan. Tual itu disusun berbanjar dua-dua. Masing-masing tual berdiameter 30-50 sentimeter, panjangnya sekitar lima meter. Menurut perkiraan saya, panjang total deretan tual itu mencapai lebih dari 300 meter.

Selagi saya mengamati kayu-kayu itu, ada seorang pemuda menghampiri. Saya setengah terkejut. Ia bertelanjang dada. Namanya Ijul, ia warga setempat. Lelaki berusia 22 tahun ini mengakui bahwa dialah yang menebangi pohon itu dan mengalirkannya ke kanal untuk kemudian dibawa ke penampung (penadah) untuk dikubikasi dan dirupiahkan.

“Daripada diambil perusahaan, lebih baik kami dahului. Lagipula itu tanah masih sengketa,” ia menjelaskan seakan-akan apa yang dilakukannya itu sah-sah saja.

Ijul tidak bekerja sendirian. Ada lima orang temannya yang ikut membantu. Di perusahaan penampung, sebuah perusahaan tripleks, kayu balakan Ijul dan timnya dihargai Rp110.000 per meter kubik untuk kayu campur, dan Rp120.000 untuk meranti. Saya coba menghitung jumlah kayu di situ: sekitar 150 tual, terdiri atas kayu meranti dan kayu campur. Jika dikubikasi menjadi kira-kira 80 meter kubik. Berarti, jika dibagi enam secara rata, masing-masing mendapat Rp1,6 juta. “Tapi itu hasil dua bulan, bang,” Ijul buru-buru menukas.

“Belum lagi uang pungutan untuk oknum Brimob dan pengawas kebun perusahaan, masing-masing Rp4.000 per tual. Dan, ketika sampai di hulu kami juga harus memberi tip untuk polisi dengan jumlah yang bervariasi,” katanya lagi.

Daripada diambil perusahaan, lebih baik kami dahului. Lagipula itu tanah masih sengketa.

Ijul

Ijul melanjutkan, “Ketimbang bekerja di perusahaan yang hanya digaji Rp25.000 per hari, kerja begini lebih enak,” ia mengakhiri pembicaraan sambil berlalu.

Saya tidak tahu ada berapa banyak “Ijul-Ijul lain” di desa itu dan desa-desa lainnya. Yang jelas, keberadaan para pembalak di tengah derasnya laju pengalihan lahan hutan menjadi kebun sawit dan tanaman industri lain oleh perusahaan-perusahaan sebenarnya malah memperlemah posisi masyarakat sendiri. Perjuangan untuk mengambil alih lahan adat di tengah kegiatan pembalakan yang dilakukan oleh masyarakat seperti jauh panggang dari api.

Namun, para pembalak mengaku tidak punya pilihan lain. Anto dan Sijon, rekan satu tim Ijul, memiliki alasan yang sama, yang sudah mendekati klasik: “Susah cari kerja di sini.”

***

MEDAN yang berat harus kami lalui untuk mencapai kediaman Patih Laman, kepala suku Talang Mamak, salah satu suku asli Melayu di Riau yang masih bertahan hingga kini. Lanskap yang berbukit-bukit, ditambah dengan kondisi jalan yang hancur dan licin pascahujan membuat mobil gardan ganda yang kami gunakan berkali-kali harus kandas.

Kami kemari untuk mencari tahu kabar terakhir soal rencana “penjualan” sebagian lahan adat suku Talang Mamak kepada PT. Mega Nusa Inti Sawit (MNIS) yang hendak memperluas areal perkebunan sawitnya.

Perkampungan suku Talang Mamak ber-ada di perbukitan Dusun Sungai Ekok, Desa Durian Cacar, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Indragiri Hulu. Desa Sungai Ekok sendiri merupakan desa baru, hasil pemekaran dari desa induk Durian Cacar. Selain di Durian Cacar, suku Talang Mamak tersebar di empat kecamatan yaitu Batang Gansal, Cenaku, Kelayang, dan Rengat Barat.

Jika Anda hendak mencapai lokasi dengan mobil roda empat biasa, Anda harus mengganti mobil di pusat Desa Durian Cacar dengan gardan ganda, atau gunakan sepeda motor saja. Karena, setengah jam ke depan, jalan menjadi amat tidak bersahabat.

Rumah Patih Laman adalah rumah panggung kayu, mirip betang di Kalimantan cuma jauh lebih pendek. Di dalamnya hidup empat keluarga; anak-cucu Patih Laman sendiri.

Patih Laman (“patih” adalah posisi tertinggi dalam struktur adat Talang Mamak, sedangkan Laman adalah nama aslinya) lebih sering dipanggil dengan sebutan “Mamak” saja oleh warga. Usianya genap 86 tahun, tapi Mamak mengaku masih kuat berladang. Manggalo (ubi kayu), padi, dan karet adalah penghasilan andalan Mamak dan sekitar 46 kepala keluarga di Desa Sungai Ekok.

Asap rokok lintingan tidak berhenti mengepul dari mulut dan hidung Mamak sepanjang pem-bicaraan kami. Wawasannya luas, bicaranya tajam, tetapi tertata. Di depan Bupati, cerita Mamak, dia pernah mengatakan ini: “Desa Talang Mamak itu bukan desa tertinggal, tetapi ditinggalkan!” Bagi saya, itu cukup menandakan bahwa dia seorang yang berani.

Namun, air mukanya berubah serius ketika saya tanyakan soal penjualan sebagian lahan milik warga kepada perusahaan perkebunan sawit PT. MNIS. “Saya hanya mengikuti keinginan warga. Mereka setuju, saya pun setuju,” kata penerima hadiah Kalpataru pada zaman pemerintahan Megawati ini.

Namun, bukan berarti warga tidak berusaha untuk mempertahankan tanah mereka. Negosiasi antara perusahaan dengan sang patih dan perwakilan warga sempat berjalan alot. Mamak sempat ke Jakarta dan Pekanbaru menemui pimpinan perusahaan untuk mencari solusi terbaik. Kesepakatan akhir, warga bersedia menjual total 800 hektare di luar hutan lindung masyarakat seluas 1.000 hektare, dengan pancung alas (bagi hasil secara adat) 70:30; 70 buat perusahaan, 30 untuk warga.

Artinya, dari penjualan tersebut, warga tetap memiliki hak atas 30% lahan (sekitar 240 hektare). Dengan catatan,  lahan digarap menjadi kebun sawit dengan skema kemitraan (sistem plasma) dengan perusahaan.

Keterangan berbeda saya dapatkan dari pihak perusahaan. Wisnu Oryza, Manajer Document and License PT. MNIS, mengatakan yang dilakukan perusahaannya adalah memberi ganti rugi lahan, bukan membeli. “Lagipula, yang pertama kali meminta kerja sama penggarapan lahan adalah pihak mereka. Kebetulan, kami memang sedang mencari areal untuk pem-bangunan pabrik pengolahan sawit,” ujarnya.  Luasan lahannya pun bukan 800 hektare seperti penuturan Mamak, melainkan 500 hektare, sekitar 150 hektare untuk dikelola sendiri oleh masyarakat. Yang juga ditekankan Wisnu adalah lahan milik warga suku Talang Mamak itu memang lahan yang mendapat izin konversi. “Bukan hutan adat seperti tudingan sebagian pihak,” ia menjelaskan.

Menurut Samsul Komar dari unit Forest Crime WWF Riau, yang akrab dipanggil Ican, porsi tanah yang 30 persen itu tidak akan serta-merta diberikan kepada warga secara cuma-cuma. “Biasanya, warga harus tetap mencicil harga tanah itu dengan hasil sawitnya,” jelas Ican. Akan tetapi, hal ini juga dibantah Wisnu. Pembayaran cicilan itu bukan untuk mencicil harga tanah, melainkan cicilan investasi sawit (kredit investasi tanaman) yang telah difasilitasi oleh pihak perusahaan. “Semua perusahaan perkebunan di mana pun melakukan hal yang sama,” papar Wisnu.

Jika kesepakatan ini berjalan tanpa halangan, untuk kedua kalinya Talang Mamak harus “tersingkir” oleh desakan pembangunan perkebunan. Pada 1970-an, mereka pernah dipaksa pindah dari lokasi permukiman asal di kaki bukit karena masuknya perusahaan pemegang HPH. Kini, meski tidak benar-benar terusir, setidaknya lahan mereka harus dikorbankan. Namun, memerhatikan bagaimana Mamak bersikap atas kongsinya dengan perusahaan, ia kelihatannya cukup puas.

Akan tetapi, tidak seluruh tetua adat Talang Mamak menyetujui penjualan ini. Patih Laman tahu itu. Beberapa batin (satu tingkat di bawah patih) suku itu menentang keras dengan alasan bahwa lahan adat adalah milik adat selamanya. Batin Mayor disebut-sebut sebagai tetua adat yang menolak keras. Sayang, saat saya hendak menemuinya di rumahnya, ia sedang pergi.

Keputusan Patih Laman tersebut juga menghasilkan ketidakpuasan yang berbuntut munculnya “patih-patih baru” dengan pengikut masing-masing. Setidaknya ada empat patih saat ini. Padahal, dalam sistem adat Talang Mamak, patih itu cuma satu. Meski demikian, hingga saat ini hal tersebut tidak sampai menimbulkan konflik horisontal yang berarti.

Menurut penuturan Wisnu, saat ini ada “patih” yang tega memperjualbelikan tanah masyarakat kepada warga transmigran. “Dia menawar-nawari warga transmigran untuk membeli tanah yang lokasinya justru di lokasi lahan kerja sama kami dengan warga Desa Sungai Ekok itu. Padahal, status kepatihannya juga diragukan. Kami punya surat resmi yang menyatakan bahwa kepatihannya tidak diakui,” Wisnu menjelaskan.

Annuardi, seorang kepala seksi di Kantor Kecamatan Desa Kilan, salah satu desa terdekat kampung Talang Mamak, tidak menentang penjualan lahan milik warga suku Talang Mamak tersebut. Namun, dia menyesalkan kecilnya porsi yang diperoleh warga. Mantan pemburu harimau yang kehidupannya amat dekat dengan suku Talang Mamak ini mengatakan mestinya porsi warga dinaikkan menjadi 50 persen, atau sedikitnya 40 persen. “Tapi, saya bisa apa? Karena dari awal saya tidak dilibatkan,” tegas bapak dua anak ini.

Annuardi mengakui, hasil dari sawit memang begitu menggiurkan. “Para transmigran dari Jawa sekarang berjaya di sini. Dengan berkebun sawit, perekonomian warga pendatang melonjak drastis,” katanya. Padahal, dulu kehidupan transmigran amat menyedihkan.

“Sedianya, lahan transmigrasi itu kan disediakan oleh pemerintah untuk budidaya palawija. Tapi karena palawija tidak bisa tumbuh di sini, mereka frustrasi. Sampai akhirnya masuk perusahaan sawit, yang mengubah nasib mereka 180 derajat,” jelas Annuardi.

Kesuksesan warga pendatang itu, Annuardi melanjutkan, sedikit banyak telah menimbulkan kecemburuan sosial bagi warga asli yang hanya terbiasa menakik karet dan berladang padi.

Warga asli desa-desa di Riau memang di-kenal tidak terlalu suka mengelola sawit. Selain karena tidak memiliki sejarah panjang dengan sawit, kerumitan memelihara sawit menjadi salah satu faktor penghambat. Se-lain itu, ekspansi warga pendatang (di luar transmigran dari Jawa), semisal dari Sumatra Utara seakan membuat warga asli terpinggirkan.     

***

PERLUASAN areal perkebunan sawit, ditambah pembukaan lahan untuk hutan tanaman industri, dengan jalan pembalakan liar, pembakaran, dan perambahan hutan alam telah menciutkan jumlah tutupan hutan di Provinsi Riau secara drastis.

Dalam 20 tahun terakhir, luasan hutan alam di Provinsi Riau telah berkurang sekitar 56,8 persen. Jika dirata-rata, setiap tahunnya Riau kehilangan sekitar 182.140 hektare hutan alam, atau 15.178 hektare setiap bulannya. Menurut data WWF, hingga akhir 2005 hutan yang tersisa di Riau tinggal 2.743.198 hektare atau hanya 33 persen dari luas daratannya. 

Dari sisa tersebut, tinggal 10 persen yang layak menjadi habitat gajah, antara lain di blok hutan Tesso Nilo dan Bukit Tigapuluh. Alhasil, konflik antara gajah dan manusia tak terelakkan. Untuk mengurangi konflik manusia-gajah, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan membuat sebagian wilayah Tesso Nilo menjadi taman nasional.

Maka, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 255/Menhut-II/2004, pada 19 Juli 2004 dideklarasikanlah Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dengan luas awal 38.576 hektare. Secara administratif, TNTN membentang di dua wilayah, Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Indragiri Hulu.

Namun, sejarah Tesso Nilo sebenarnya ditulis di atas kertas yang kelam. Dalam perjalanan menuju lokasi taman, Sammy, staf komunikasi WWF Riau memaparkan sejarah Tesso Nilo.

Lahan Tesso Nilo adalah bekas lahan HPH (PT. Dwi Marta) yang habis izinnya pada 2001. Tanah ini kemudian diserahkan izinnya kepada Inhutani IV. Setelah masa operasi Inhutani IV habis pada 2003, dilakukanlah persiapan-persiapan untuk penetapannya sebagai taman nasional. “Artinya, TNTN dibentuk bukan dari hutan alam murni melainkan 50 persen sudah hasil tebangan,” kata Sammy. Ini saja sudah menjadi masalah.

Yang kemudian terungkap di kemudian hari adalah adanya kejanggalan batas-batas taman nasional. “Ternyata, dari 38.576 hektare itu, ada tumpang tindih lahan dengan konsesi akasia PT. Riaupulp (dulu RAPP) sebesar 3.000 hektare dan perkebunan PT. Inti Indosawit sebesar 3.000-4.000 hektare,” papar Sammy.

Tata batas ini sampai sekarang masih belum jelas penyelesaiannya. Para pemangku kepentingan berulang kali berdiskusi mencari solusinya. Departemen Kehutanan pun pernah mengajukan beberapa alternatif, misalnya memasukkan areal yang tumpang tindih ke dalam wilayah TNTN, memberikan areal yang tumpang tindih itu kepada perusahaan dengan catatan perusahaan harus mencari areal pengganti, dan beberapa alternatif lain. “Sampai kini belum ada keputusan.”

Konflik dengan manusia adalah penyebab utama kematian harimau saat ini. Dan salah satu pemicunya adalah berkurangnya hutan alam sebagai habitat mereka.

Sunarto

Sementara masalah tata batas belum kelar, muncul masalah lain. Data geographical information system (GIS) WWF pada 2006 menunjukkan sekitar 7.000 hektare lahan TNTN sudah diterabas oleh para perambah liar. Sebagian dari mereka membuka kebun sawit masyarakat. Survei terakhir menunjukkan jumlah perambah yang tinggal di dalam lingkungan TNTN sudah mencapai 722 KK.

Maka, jika ditotal, dari 38.576 hektare lahan TNTN, sekitar 14.000 hektare tidak lagi efektif menjadi habitat gajah, karena home range-nya (area jelajah) amat tidak memadai. Hal yang sama terjadi pada habitat harimau. “Konflik dengan manusia adalah penyebab utama kematian harimau saat ini. Dan salah satu pemicunya adalah berkurangnya hutan alam sebagai habitat mereka,” kata Sunarto, peneliti ekologi harimau. Karenanya, muncullah wacana  perluasan TNTN.

Namun, selagi upaya perluasan TNTN berjalan, lemahnya pengawasan tiga HPH yang beroperasi di batas-batas TNTN membuat perambahan kian sulit dikontrol. Pembangunan infrastruktur perkebunan seperti koridor untuk jalan keluar-masuk kayu tebangan (logger) tanpa pengawasan yang ketat juga menjadi akses paling mudah untuk masuknya para perambah.

Akhirnya, yang kini marak terjadi di kawasan TNTN dan sekitarnya adalah jual beli lahan di kalangan para perambah dan mafia tanah yang terdiri dari oknum Kepala KUD. Di tengah sorotan dan tindak tegas pemerintah atas aksi pembalakan liar belakangan ini, bisnis jual-beli lahan secara ilegal menjadi pelarian yang “pas”.

***

ISKANDAR tidak pernah menyangka nasibnya bakal seperti ini. Bayangan janjang-janjang sawit sempat muncul dalam benaknya saat seseorang menawarinya lahan seluas dua hektare. Tawaran yang membuatnya tidak bisa berkata tidak adalah ia hanya perlu membayar sebesar Rp2,5 juta di muka untuk mendapatkan 1/4 hektare lahan plus rumah kayu. Sisa tanah sebesar 1,75 hektare bisa dicicil Rp200.000 setiap bulannya.

Untuk mendapatkan uang Rp2,5 juta itu, Iskandar dan istrinya, Ira, harus menjual harta berharga mereka di Desa Belilas. Demi impian hidup makmur dari kebun sawit seluas dua hektare tentu harus ada pengorbanan, begitu pikir Iskandar.

Namun, ada dua hal penting yang tidak pernah diketahui lelaki kelahiran Cianjur ini. Pertama, dia tidak tahu bahwa ternyata lahan seluas 1/4 hektare itu adalah bagian dari TNTN. Kedua, Iskandar tidak pernah tahu di mana letak tanah sisanya seluas 1,75 hektare yang telah dijanjikan oleh si penjual.

Kepercayaan Iskandar yang sudah hampir setahun ini menghuni areal TNTN hanya bersandar pada surat keterangan yang dibawa oleh si penjual, yang ditandatangani oleh batin (tetua adat) setempat. Surat tersebut berisi izin dari batin kepada Iskandar untuk menggarap tanah sekian hektare. “Saya cuma berpikir bahwa kalau batin sudah merestui, ya sudah,” ujarnya.

Kini, Iskandar tinggal di rumah kayu dengan luas lahan 1/4 hektare di kawasan TNTN. Sehari-hari dia terpaksa bekerja sebagai buruh tani harian di kebun sawit milik orang lain. Cicilan Rp200.000 tidak pernah dibayarnya lagi. Dia merasa tertipu. Begitu pula sekitar 200-an warga lainnya.

Sekarang warga benar-benar bingung ke mana harus mengadu. Masalahnya, wilayah yang mereka diami saat ini diklaim sebagai bagian dari Desa Air Hitam, Kabupaten Pelalawan. Padahal sertifikat tanah dikeluarkan oleh Kabupaten Indragiri Hulu. Waktu pilkada kemarin, mereka juga “dipaksa” memilih di Kabupaten Pelalawan. Praktis, mereka dihajar oleh dua mafia: mafia tanah dan mafia politik. Iskandar pun hanya bisa pasrah jika sewaktu-waktu diusir pihak TNTN.

***

LALU, pertanyaannya kini, apakah perkebunan sawit harus selamanya menanggung dosa lingkungan dan sosial sedemikian berat?

Mungkin pertanyaan itu pula yang menggayut di benak Reinier de Man, seorang konsultan bisnis asal Belanda saat ditugaskan oleh WWF enam tahun lalu untuk mengeksplorasi kemungkinan skema penanaman sawit yang berkelanjutan.

Hasilnya adalah diskusi-diskusi berantai yang bermuara pada pertemuan inaugurasi di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 21-22 Agustus 2003, yang dihadiri oleh 200 partisipan dari 16 negara. Output dari pertemuan ini adalah pengadopsian perjanjian Statement of Intent (SOI) yang tidak mengikat secara hukum untuk mendukung proses pengembangan perkebunan sawit lestari. Per 31 Agustus 2004, sebanyak 47 organisasi menandatangani SOI.

Selanjutnya, terbentuklah suatu forum yang dikenal dengan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), yang kemudian menjadi lembaga sertifikasi global untuk perkebunan sawit yang berkelanjutan. RSPO secara resmi berdiri pada 8 April 2004, dengan markas di Zurich, Swiss, dan sekretariat di Kuala Lumpur.

Indonesia sebagai pemain penting industri minyak sawit mentah mau tidak mau harus mengikuti ritme yang mengalun di dunia global. Alasannya jelas: pasar sudah demikian kritis. Sertifikasi RSPO menjelma menjadi “ekolabel baru” karena pembeli tidak mau lagi membeli produk minyak sawit yang merusak lingkungan dan sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Menurut Suhandri, Koordinator Unit Kebijakan WWF Riau yang juga koordinator program pemantauan konversi hutan ke perkebunan sawit, setidaknya ada tiga aspek yang harus dipenuhi oleh sebuah usaha perkebunan sawit agar masuk dalam kategori berkelanjutan. Pertama, aspek lingkungan. Beberapa pertanyaan yang mesti dijawab dari aspek ini adalah apakah ada populasi dan habitat satwa liar yang terancam? Apakah kondisi tanah bisa dipertahankan? Apakah bisa mempertahankan keanekaragaman hayati, dan hal lain yang terkait.

Kedua, aspek sosial-budaya: apakah ada suku asli yang bermukim di situ? apakah ada hutan atau pohon yang dianggap keramat oleh warga yang dilarang ditebang, dan lain-lain. Yang ketiga, aspek ekonomi: apakah lahan tersebut menjadi tempat bergantung dan sumber penghasilan bagi warga sekitar?

“Sedikitnya ada delapan kriteria, kemudian diturunkan lagi sehingga ada sekitar 39 pasal yang mesti menjadi dasar evaluasi bagi proses sertifikasi RSPO,” kata Suhandri.

Beberapa kalangan, terutama LSM, kini mulai bertanya mengapa proses membangun kesepahaman soal kriteria-kriteria itu begitu panjang, sementara di negara-negara lain kini relatif lebih maju perkembangannya. Maka, hingga sekarang RSPO masih saja dianggap berkutat  pada tataran diskusi, bukan implementasi. Fakta di lapangan menunjukkan, belum ada satu pun perkebunan yang benar-benar menerapkan prinsip-prinsip RSPO. Sifatnya yang multipihak juga menyebabkan perjalanannya menjadi agak tersendat. Sementara itu berjalan, kini ada satu-dua perusahaan yang secara sukarela bersedia menjalankan proyek percontohan uji coba.

Saya berkesempatan melihat-lihat perkebunan sawit yang saat ini sedang dalam proses implementasi RSPO, yakni PT. Ivo Mas Tunggal (IMT), anak perusahaan Sinar Mas (Simas), di Desa Kandis, Kabupaten Siak.

Hampir senada dengan Suhandri, Hendi Hidayat, Senior Supervisor Environmental Department Simas yang mengantar saya berjalan-jalan di kebun sawitnya juga mengatakan bahwa biodiversitas, isu lingkungan seperti penggunaan pupuk kimia, pestisida, dan pengolahan limbah, serta masalah sosial seperti keterkaitan dengan suku-suku asli sebagai parameter penting yang harus dicermati dalam membuka perkebunan.

“Kita (Simas) jelas tidak bermasalah dengan biodiversitas karena perkebunan ini dibuka sekitar 20 tahun lalu dari areal penggunaan lain atau APL, bukan hutan alam,” kata Hendi. Salah satu upaya untuk menjaga keanekaragaman hayati dan menyiasati buruknya dampak monokultur sawit adalah dengan membiarkan tanaman-tanaman lain seperti semak, bebungaan, pakis, dan lain-lain tumbuh secara liar di sela-sela pohon sawit.

Di luar segala penjelasan tentang betapa perkebunan ini menjaga aspek lingkungan, atau bagaimana tingkat kesejahteraan para petaninya, saya lebih tertarik pada fakta bahwa perusahaan ini begitu perhatian pada masalah riset. Menurut penuturan Dr. Jean-Pierre Caliman, konsultan agronomi berkebangsaan Prancis yang telah bekerja di Simas selama 11 tahun, anggaran Simas untuk riset mencapai 3,5 juta dolar per tahun. “Kebetulan, pemilik perusahaan ini juga memahami pentingnya riset,” katanya. Penggunaan organisme predator untuk memangsa hama, seperti pemeliharaan burung hantu untuk memberantas tikus, dan bunga Turnera subulata, Casia tora, dan Antigonon untuk memancing ulat api juga bisa menjadi alternatif penggunaan pestisida.

Yang menjadi pekerjaan rumah cukup besar bagi perkebunan sawit ini mungkin pada emisi gas metana (CH4, salah satu gas rumah kaca) yang memancar dari 8 kolam limbah mereka dengan ukuran masing-masing 175X30 meter. Caliman mengakui bahwa sampai sekarang belum dilakukan pengukuran dan penanganan emisi ini. “Kami sudah pikirkan soal ini, dan akan menjadi prioritas kami selanjutnya. Hanya menunggu waktu.”

Categories
Feature

Menangguk laba dari gas rumah kaca

Hampir semua pihak, mulai kelompok musik The Rolling Stones hingga pemerintah Indonesia berusaha untuk menekan laju emisi karbon ke udara. Bangkitnya sebuah kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan, atau upaya menghapus dosa?

LIMA abad yang lalu, Martin Luther dan kaum reformis sezamannya pernah mengutuk kebijakan gereja Katolik, di mana seseorang bisa memperoleh pengampunan atas dosa-dosanya di masa lalu dengan membayar sejumlah uang. Praktik penghapusan dosa tersebut mungkin bisa menjadi analogi sekaligus simplifikasi yang pas untuk menjelaskan rumitnya perdagangan karbon, istilah yang menggaung beberapa tahun belakangan ini.

Melalui perdagangan karbon, negara-negara industri—sebagai penyumbang terbesar emisi gas karbon dioksida, biang kerok pemanasan global—bisa membayar suatu negara berkembang yang mampu mengupayakan pengurangan emisi karbon. Dengan begitu, “dosa-dosa lingkungan” negara industri tersebut dianggap tidak ada atau berkurang.

Perdagangan karbon dilahirkan melalui perjalanan yang amat panjang. Adalah laporan para ilmuwan pada 1990 tentang Perubahan Iklim yang telah memukul lonceng tanda bahaya bagi kehidupan umat manusia, dan mendesak agar dibentuk suatu kesepakatan global untuk mengatasi perubahan iklim. Dua tahun kemudian, disepakatilah konvensi PBB tentang perubahan iklim (United Nations Frameworks Convention on Climate Change atau UNFCCC) yang tujuan pokoknya menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) pada tingkat yang aman dan tidak mengganggu iklim global.

Berbagai paktapun diteken setelahnya. Yang terpenting adalah pertemuan di Kyoto, Jepang, pada 1997. Perjanjian yang dikenal dengan Protokol Kyoto itu mewajibkan negara-negara industri untuk mengurangi emisi GRK—salah satunya karbon dioksida—sebanyak 5,2% di bawah kadar yang mereka lepas pada tahun 1990 dalam kurun waktu lima tahun (mulai 2008-2012, yang disebut sebagai periode komitmen pertama). Protokol ini mulai mengikat secara hukum setelah Rusia meratifikasi pada 16 November 2004 sebagai negara ke-55. Hal ini sesuai kesepakatan, bahwa protokol mulai berlaku jika telah diratifikasi minimal 55 negara. Saat ini, sedikitnya 140 negara sudah menandatangani.

Protokol Kyoto menawarkan tiga mekanisme fleksibel untuk membantu negara-negara industri menekan laju emisi GRK: Implementasi Bersama (joint implementation/JI), Perdagangan Emisi Internasional (international emission trading/IET) dan Mekanisme Pembangunan Bersih (clean development mechanism atau CDM). CDM digagas karena begitu sulit memaksa negara-negara tersebut mengurangi emisi karbonnya, akibat begitu besarnya ketergantungan mereka pada konsumsi bahan bakar minyak. Sampai sekarang, Amerika Serikat saja masih menolak Protokol Kyoto. Dari tiga mekanisme fleksibel tersebut, hanya CDM yang melibatkan negara-negara berkembang. Dan, melalui CDM inilah tata cara perdagangan karbon dunia diatur.

Alhasil, karbon kini menjadi komoditas bisnis dadakan; FIFA, federasi sepak bola dunia, membeli beberapa kredit karbon sehubungan pelaksanaan Piala Dunia 2006 lalu. Kelompok musik kenamaan The Rolling Stones dan beberapa band lain membelinya sebagai kompensasi emisi GRK yang mereka buang dalam tur-tur mereka. Sementara Paramount, studio film Hollywood, juga membeli kredit karbon atas setiap emisi yang mereka keluarkan selama proses pembuatan film kontroversial tentang pemanasan global, An Inconvenient Truth (2006).

Bank Dunia tercatat sebagai pembeli kredit karbon paling royal: nilai transaksi pada 2005 diestimasi mencapai 10 miliar dolar. Bagi beberapa ”pemain”, jual-beli karbon memang perkara citra. Sampai saat ini, kebanyakan pembeli karbon adalah firma yang relatif beremisi rendah, seperti bank-bank, yang berharap bisa menggaet klien yang memiliki visi lingkungan. Namun bagi pemain lain, bisnis karbon adalah business as usual yang menggiurkan.

Hitung-hitungan bisnisnya relatif sederhana. Setiap upaya penurunan emisi yang setara dengan satu ton karbon (tCO2e) akan diganjar satu CER (certified emission reduction). Sertifikat yang mirip surat berharga ini dikeluarkan oleh Badan Eksekutif CDM di bawah UNFCCC. Negara industri yang sudah meratifikasi Protokol Kyoto (disebut dengan kelompok Annex-1), atau lembaga nonpemerintah manapun yang merasa berkepentingan, bisa membeli CER ini dari proyek-proyek CDM di negara berkembang (non-Annex-1) yang tidak diwajibkan untuk mengurangi emisi.

Layaknya komoditas dagang, harga CER bisa bervariasi, tergantung kesepakatan pihak-pihak yang bertransaksi. Tapi, secara rerata, harga satu CER berkisar 5-15 dolar AS. Jadi, jika suatu proyek CDM berhasil memproyeksikan pengurangan emisi sebesar 1 juta ton CO2e dalam setahun, pendapatan kasar yang diperoleh proyek tersebut satu tahunnya sekitar 10 juta dolar AS (jika diambil harga tengah 10 juta dolar) dari penjualan CER.

Di satu sisi, solusi ini terkesan menyederhanakan masalah dan kental dengan unsur ketidakadilan: negara industri bebas mengotori atmosfer selama mampu membeli CER sebagai kompensasinya.

Perlu diketahui, istilah ”reduksi emisi karbon” tidak serta-merta berarti pengurangan kadar karbon yang sudah ada saat ini di udara, tetapi merupakan upaya menekan bertambahnya emisi GRK akibat penggunaan bahan bakar fosil. Jadi, angka-angka tersebut pada dasarnya adalah jumlah karbon yang diemisikan jika tanpa proyek CDM.

Di satu sisi, solusi ini terkesan menyederhanakan masalah dan kental dengan unsur ketidakadilan: negara industri bebas mengotori atmosfer selama mampu membeli CER sebagai kompensasinya. Tapi di sisi lain, bisnis karbon membuka berbagai peluang: membangkitkan perekonomian negara dunia ketiga sekaligus menciptakan kondisi lingkungan yang relatif lebih baik. ”Ide besarnya adalah memberikan nilai moneter pada usaha perbaikan lingkungan. Selama ini, konservasi lingkungan dianggap sebagai cost, liabilitas. Tapi dengan adanya CDM, pengelolaan lingkungan juga berarti aset berharga,” kata Agus P. Sari, Direktur Regional Asia Tenggara EcoSecurities, salah satu pemain besar perdagangan karbon yang bermarkas di Oxford, Inggris.

***

SETELAH meratifikasi Protokol Kyoto melalui Undang-undang Nomor 17 tahun 2004, Indonesia membuka peluang ikut serta dalam arus perdagangan karbon. Sebagai fasilitator dan koordinator CDM di tingkat nasional, pemerintah membentuk Komisi Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih (Komnas MPB) di bawah koordinasi Kementerian Lingkungan Hidup pada Juli 2005. Di setiap negara, komisi semacam juga ada dengan sebutan DNA (designated national authority).

”Setiap proyek CDM harus diverifikasi dan divalidasi oleh DNA di masing-masing negara,” ucap Prasetyadi Utomo dari Sekretariat Komnas MPB. Menurut pengakuannya, Komnas MPB sama sekali tidak menarik pungutan apapun dari proses verifikasi. Hal ini dibenarkan oleh Agus selaku pengembang proyek. ”Memang cukup ganjil, tapi begitulah kenyataannya,” ujarnya dengan nada seloroh.

Berdasarkan Kajian Strategis Nasional sektor Kehutanan dan Energi (KSNKE) yang dilakukan pada tahun 2001-2002, Indonesia memiliki potensi pengurangan emisi GRK sekitar 23-24 juta ton CO2e per tahun. Jika dikonversi ke nilai CER, potensinya menjadi 230 juta dolar AS dalam setahun (sekitar 2,3 triliun rupiah). Bukan jumlah yang kecil.

Khusus sektor kehutanan (nonenergi), catatan KSNKE menyebut ada sekitar 15 juta hektare lahan di seluruh daerah di Indonesia yang bisa diajukan untuk proyek CDM. Mengetahui fakta ini, akhir-akhir ini banyak pemerintah daerah yang mempromosikan hutan di daerahnya untuk dijadikan proyek CDM. Padahal, masalahnya ternyata tidak sesederhana itu.

“Potensi kebocoran (leakage) hutan Indonesia cukup besar,” kata Alue Dohong, penggiat lingkungan dari Wetlands International Indonesia Program. Dalam skema CDM, leakage tidak diperkenankan. Leakage, papar Alue, bisa disebabkan oleh belum mapannya tata kelola hutan, masih tingginya insiden kebakaran hutan, maraknya pembalakan liar, dan inkonsistensi kebijakan penataan ruang. “Belum jelasnya metode penentuan batas wilayah dan kriteria hutan yang memenuhi syarat juga menjadi batu sandungan untuk mengembangkan hutan kita sebagai proyek CDM,” imbuh Alue.

Hutan yang diperkenankan, misalnya, adalah hutan ”buatan” manusia (dengan pembenihan, penanaman, dan sebagainya) pada lahan yang belum pernah menjadi hutan sedikitnya 50 tahun ke belakang. ”Teknis penghitungan reduksi emisi karbon oleh hutan juga sulit, mengingat daya ikat karbon setiap pohon dalam suatu hutan heterogen berbeda-beda,” jelas Deddy Hadriyanto, pakar kehutanan dari Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur. Kawasan mangrove justru lebih berpeluang dari sisi teknis.

Karenanya, hingga saat ini belum ada proyek CDM berbasis hutan dari Indonesia yang berhasil disetujui. Amat kontras dengan sektor energi alternatif yang lebih ”seksi”. Kabar terakhir, delapan proyek sudah teregistrasi di Badan Eksekutif CDM. Hampir semuanya berbasis energi.

Chevron Geothermal Indonesia (CGI), melalui proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi Darajat Unit III adalah yang terakhir mendapat persetujuan, Desember tahun lalu, dengan kapasitas pembangkit sebesar 110 megawatt. Seperti diketahui, Indonesia merupakan negara dengan kandungan panas bumi amat besar, bahkan yang terbesar di dunia atau 40 persen dari cadangan panas bumi dunia. Menurut riset yang dilakukan oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, di seluruh kepulauan Indonesia sedikitnya ada 244 titik yang merupakan sumber panas bumi potensial, dengan kapasitas pembangkit sebesar 29.000 megawatt. Namun, hingga saat ini, jumlah total yang tereksplorasi hanya sekitar 1.000 megawatt, alias baru sekira lima persen. Sebagai perbandingan betapa efisiennya tenaga geotermal, 1.000 megawatt ekivalen geotermal untuk 30 tahun setara dengan 465 juta barel minyak bumi.

Menurut data CGI, emisi karbon dioksida dari pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya sekitar sepersepuluh dari emisi yang diembuskan oleh pembangkit konvensional seperti batu bara, dan seperenam dari bahan bakar disel dan minyak. Selisih jumlah emisi inilah yang bisa dijadikan kredit karbon untuk diperjualbelikan.

Namun, bukan berarti sumber energi ini tidak memiliki kelemahan. Halangan utama eksplorasi panas bumi terletak pada besarnya biaya investasi, terutama jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Komoditas ini juga tidak dapat diekspor seperti halnya minyak bumi. Selain itu, berbeda dengan minyak dan batu bara, mobilitas panas bumi juga rendah, tidak dapat berpindah-pindah dengan leluasa. Karena itu, pemanfaatannya mesti langsung dari sumber eksplorasi.

Proyek lain yang cukup menarik adalah pemanfaatan limbah hewan yang dilakukan oleh peternakan PT Indotirta Suaka Bulan di Riau dan Lampung Bekri Biogas. Suaka Bulan mengelola kotoran dari peternakan babi seluas 1.700 hektare di Pulau Bulan, Riau. Dengan teknik pencerna anaerobik (anaerobic digester), gas metana (CH4, salah satu GRK) yang ditangkap bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar. Rata-rata, setiap tahunnya instalasi biogas ini diperkirakan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 166.000 ribu ton CO2e.

Mirip dengan Suaka Bulan, Lampung Bekri menggunakan reaktor anaerobik bawah tanah tertutup (CIGAR) untuk menangkap gas metana dari kotoran sapi. Komposisi biogas yang diperoleh melalui proyek berskala kecil ini adalah 65% metana dan 35% CO2, dengan rata-rata reduksi emisi 18.826 ton CO2e per tahun. Produk kompor pun bisa dimanfaatkan untuk proyek CDM. Tetapi bukan sembarang kompor, tentunya. Alat masak yang diproduksi oleh PT Petromat Agrotech yang berkongsi dengan Klimaschutz e.V. dari Jerman ini menggunakan tenaga matahari sebagai sumber panasnya. Dengan begitu, penggunaan minyak tanah atau gas elpiji yang menghasilkan polusi karbon bisa ditekan. ”Kompor ini merupakan bagian dari usaha memperbaiki lingkungan, karena itu kami amat mendukungnya,” ucap Rudi Wahyudi dari Petromat Agrotech.

Berdiameter sekitar satu meter, bentuk kompor surya ini relatif sederhana, mirip sebuah parabola yang bagian permukaan cekungnya dilapisi bahan cermin yang bisa memantulkan cahaya. Dengan bentuk parabola, cahaya bisa dipantulkan terpusat ke sebuah penyangga wadah masak, sehingga menghasilkan panas yang cukup untuk memasak berbagai jenis makanan, mulai nasi goreng hingga sayur sup. Menurut rencana, akhir Februari, sekitar 1.000 unit kompor surya ini akan diserahkan secara cuma-cuma kepada para nelayan di Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam.

Saat ini ada dua proyek lagi dari Indonesia yang masih mengantre untuk disetujui oleh Badan Eksekutif CDM. Bukan tidak mungkin jumlahnya akan terus bertambah. Hingga saat ini, beberapa proposal proyek juga terus diterima oleh Komnas MPB.

Kabar baik? Belum tentu. Yang perlu didesak adalah komitmen setiap pihak untuk melestarikan lingkungan, tidak peduli apakah ada atau tidak ada keuntungan finansial di belakangnya. Apalagi sekadar upaya menghapus dosa, seperti yang dikhawatirkan Martin Luther terhadap gereja Katolik lima abad silam.

*Artikel ini sudah dimuat dalam National Geographic Indonesia edisi Maret 2007.