Firman Firdaus

Paradoks Ramadhan

Aug 18th 2010
No Comments
respond
trackback

Ramadan agaknya telah jadi sebuah periode ketika orang berusaha memperoleh kompensasi istimewa. Tampaknya kuat anggapan bahwa pengekangan atas tubuh kita selama 30 hari itu adalah sebuah deprivasi, sebuah perenggutan dari hidup yang normal, dan kita, yang merasa harus menanggungkan itu, menginginkan imbalan yang memuaskan.

Catatan Pinggir Majalah Tempo edisi 16 Agustus 2010 rasanya menjawab rasa penasaran saya: kenapa saat Ramadhan, saat frekuensi makan kita dikurangi, dari biasanya 3 kali (pagi-siang-sore) menjadi 2 kali (sahur-buka) justru permintaan akan bahan pokok selalu meningkat.


Visualmelancholy.com berubah menjadi Visualmelancholy.me

Aug 13th 2010
No Comments
respond
trackback

Berawal dari keteledoran mengelola nama domain dan email, akhirnya saya terpaksa mengganti domain .com untuk blog desain saya, Visual Melancholy, menjadi .me.

Ya. Saya lupa bahwa setahun lalu, saya membeli domain .com menggunakan alamat email yang kini sudah tidak aktif lagi. Pemberitahuan kekedaluarsaan domain pun terkirim ke email tidak aktif tersebut dan (otomatis) tidak pernah saya cek. Akhirnya, dor! Situs .com tidak bisa dibuka dan sempat membuat saya bingung. Akhirnya saya ketahui bahwa domain tersebut sudah kedaluarsa dan statusnya sudah dalam redemption period.

Visual Melancholy

Saya bisa saja meminta (atau memohon) registrar agar saya bisa memperpanjang akun domain itu, tapi prosesnya rasanya agak panjang. Daripada menunggu ketidakpastian, saya putuskan untuk membeli lagi domain Visual Melancholy dengan ekstensi lain. Dan ekstensi .me buat saya cukup bisa mewakili.

Semoga saja perubahan ini tidak berakibat terlalu serius. Toh Visual Melancholy juga bukan situs yang terlalu serius :)

Portfolio — Visual Melancholy

Buat yang ingin berlangganan RSS Visual Melancholy, silakan tambahkan tautan http://visualmelancholy.me/feed/ ke program pembaca RSS Anda. Halaman portofolio juga sudah bisa diakses lagi di http://visualmelancholy.me/portfolio


Visual Melancholy: perubahan konsep dan portofolio desain

Aug 10th 2010
2 Comments
respond
trackback

UPDATE: masalahnya ternyata domain tersebut sudah kedaluwarsa, dan saya lupa bahwa registrasi domain itu menggunakan alamat email saya yang sudah tidak aktif. Artinya, notifikasi perpanjangan domain dari registrar tidak saya dapatkan. Untuk menghemat waktu untuk pengurusan domain, saya putuskan membeli domain baru: Visualmelancholy.me. Update selanjutnya menyusul.

Sekitar akhir tahun lalu, saya memutuskan untuk melakukan perubahan konsep isi pada Visual Melancholy, yang tadinya murni blog foto menjadi blog tentang desain informasi dan budaya visual. Fotografi, sebagai produk budaya visual, tentu tetap mendapat tempat di blog itu.

Pada saat yang hampir bersamaan, proyek-proyek desain (web, identitas/logo), yang saya kerjakan di luar waktu kerja saya sebagai editor majalah, juga bermunculan. Karenanya, kemudian terpikir oleh saya untuk mencari semacam “brand” untuk bidang kerja lepasan saya itu.

Awalnya sempat muncul beberapa nama, tapi kemudian saya memutuskan untuk menggunakan nama Visual Melancholy saja. Pertama, saya tidak terlalu telaten untuk mengelola sekian banyak nama domain untuk kehidupan daring saya yang biasa-biasa saja itu. Kedua, saya kadung suka pada nama itu. Jadi, kini Visual Melancholy adalah identitas daring saya sebagai seorang desainer, melengkapi situs pribadi saya.

Setelah memutuskan untuk berkecimpung di dunia desain—meski masih secara lepasan paruh waktu—saya pun mulai merasa perlu untuk membuat semacam halaman portofolio, sebagai referensi bagi calon klien baru yang berminat menggunakan jasa desain saya. Jadilah halaman ini sebuah etalase sederhana yang memajang karya desain yang sudah saya hasilkan.

Saya tidak tahu seberapa penting informasi ini bagi Anda. Tapi, buat saya, ini menjadi salah satu lompatan kecil bagi karier saya sebagai seorang desainer.


Making a website vs telling story with design

Jul 28th 2010
2 Comments
respond
trackback

An old issue but the last sentence from this quote is interesting:

But I don’t think the browser is enough. A web designer jumping into the browser before tackling the creative and messaging problems is akin to an architect hammering pieces of wood together and then measuring afterwards. The imaginative process is cut short by the tools at hand; and it’s that imagination—or spark—at the beginning of a design that lays the path for everything that follows. Without it, you’re at best able to make a website that looks like a website—rather than a design that tells a story in the form of a website.

Quote from here.


Panasonic Earphones RP-HJE 130

Jul 16th 2010
3 Comments
respond
trackback

A very elegant, minimalistic, and symbolic packaging of Panasonic earphone. Watch out Apple! :)

panasonic_note-550x325

Go to Fubiz to see more pictures.


Metamorphose

Jul 9th 2010
No Comments
respond
trackback

Frederic Fontenoy’s photo series Metamorphose depicts a nude, distended form traipsing across beaches and forests. The subject may be human, but the camera makes him alien. Fontenoy’s slit-scan photography transforms an ordinary human into a rubber-limbed monstrosity.

00029ok

Via Elastika.


Holga D

Jul 8th 2010
No Comments
respond
trackback

Holga D, an amazing project by India-born designer Saikat Biswas.

Holga_D-540x540

More pictures here.


Minimalistic movie posters

Jul 8th 2010
No Comments
respond
trackback

Well, at first, I thought they were an “official” minimalistic version of the original posters.

4357048357_45b4d74745_o

See all posters here.


A good enough website

Jun 29th 2010
One Comment
respond
trackback

For most people, that’s all you need. A website that’s good enough. Not that breaks new ground, establishes a new identity, discovers new ways for people to interact online. Just a good enough website that didn’t kill you to launch.

Seth Godin


Penyaringan informasi di media sosial

Jun 29th 2010
3 Comments
respond
trackback

4091128553_febb97d97f_o

Dalam sebuah diskusi tentang pentingnya media sosial bagi sebuah perusahaan media konvensional, seorang wartawan senior bertanya: “bagaimana media sosial seperti Facebook atau Twitter menyaring informasi? Siapa yang mesti bertanggung jawab atas informasi yang tidak benar, dan bagaimana jika informasi yang tidak benar itu berpotensi mencelakakan atau merugikan orang lain?”

Sang pembicara utama, yang merupakan pakar humas dan media sosial asal Amerika kelihatan agak gamang, seakan tidak terlalu yakin apakah bisa menjawab pertanyaan tersebut atau tidak. Dia lalu mengatakan, reportase bisa mengalami demokratisasi, tapi penyuntingan tidak.

Saya suka kutipan itu, tapi rasanya tidak banyak menjawab pertanyaan sang wartawan.

Menurut saya, dalam media sosial, para penggunanyalah yang akan “menyaring” informasi dalam media sosial.

Media sosial adalah sebuah tubuh. Organnya adalah para penggunanya. Galibnya tubuh organisme hidup, apabila ada satu organ yang sakit maka tubuh memiliki mekanisme alamiah untuk melawan atau bertahan terhadap rasa sakit itu. Dalam media sosial, para penggunanya akan merespons secara alamiah apabila ada pengguna lain–seperti organ–melakukan “ketidakberesan” atau abuse of service. Layanan media sosial telah menyediakan beragam perangkat untuk hal ini, seperti fitur report, flag, dan lain-lain.

Tentu saja, tidak ada yang bisa menjamin terjadinya kebocoran. Bahkan media konvensional pun bisa melakukan kesalahan. Perbedaannya, ada pertanggungjawaban institusional yang jelas pada media konvensional, yang tidak dimiliki oleh media sosial baru. Wajar, media konvensional bertanggung jawab penuh atas isi media mereka, karena semua isi (konten) dikontrol dan hanya bisa tayang jika sudah disaring atau disunting.

Siapa yang bertanggung atas isi dan informasi yang muncul di status Facebook atau timeline Twitter? Pengguna yang bersangkutan. Kedua layanan itu, dan layanan sejenis lainnya, membentengi diri mereka dari kemungkinan berperkara dengan aturan penggunaan (term of use) yang ketat. Jika ada pengguna yang melanggar, itu kesalahan pengguna sendiri dan dia harus dihukum karenanya (dengan mekanisme pemblokiran akun, atau abuse report dari pengguna lainnya, misalnya).

Penggunaan media sosial pada akhirnya adalah pilihan bagi media konvensional: mau digunakan sebagai sumber informasi, atau sebatas sarana menyebarkan konten sendiri. Saya pribadi, akan memilih yang kedua. Penggunaan Facebook atau Twitter sebagai sumber informasi hanya saya lakukan dengan mengikuti akun penyedia berita yang saya anggap kredibel, bukan dari sembarang pengguna.



next »

Categories