
Dalam sebuah diskusi tentang pentingnya media sosial bagi sebuah perusahaan media konvensional, seorang wartawan senior bertanya: “bagaimana media sosial seperti Facebook atau Twitter menyaring informasi? Siapa yang mesti bertanggung jawab atas informasi yang tidak benar, dan bagaimana jika informasi yang tidak benar itu berpotensi mencelakakan atau merugikan orang lain?”
Sang pembicara utama, yang merupakan pakar humas dan media sosial asal Amerika kelihatan agak gamang, seakan tidak terlalu yakin apakah bisa menjawab pertanyaan tersebut atau tidak. Dia lalu mengatakan, reportase bisa mengalami demokratisasi, tapi penyuntingan tidak.
Saya suka kutipan itu, tapi rasanya tidak banyak menjawab pertanyaan sang wartawan.
Menurut saya, dalam media sosial, para penggunanyalah yang akan “menyaring” informasi dalam media sosial.
Media sosial adalah sebuah tubuh. Organnya adalah para penggunanya. Galibnya tubuh organisme hidup, apabila ada satu organ yang sakit maka tubuh memiliki mekanisme alamiah untuk melawan atau bertahan terhadap rasa sakit itu. Dalam media sosial, para penggunanya akan merespons secara alamiah apabila ada pengguna lain–seperti organ–melakukan “ketidakberesan” atau abuse of service. Layanan media sosial telah menyediakan beragam perangkat untuk hal ini, seperti fitur report, flag, dan lain-lain.
Tentu saja, tidak ada yang bisa menjamin terjadinya kebocoran. Bahkan media konvensional pun bisa melakukan kesalahan. Perbedaannya, ada pertanggungjawaban institusional yang jelas pada media konvensional, yang tidak dimiliki oleh media sosial baru. Wajar, media konvensional bertanggung jawab penuh atas isi media mereka, karena semua isi (konten) dikontrol dan hanya bisa tayang jika sudah disaring atau disunting.
Siapa yang bertanggung atas isi dan informasi yang muncul di status Facebook atau timeline Twitter? Pengguna yang bersangkutan. Kedua layanan itu, dan layanan sejenis lainnya, membentengi diri mereka dari kemungkinan berperkara dengan aturan penggunaan (term of use) yang ketat. Jika ada pengguna yang melanggar, itu kesalahan pengguna sendiri dan dia harus dihukum karenanya (dengan mekanisme pemblokiran akun, atau abuse report dari pengguna lainnya, misalnya).
Penggunaan media sosial pada akhirnya adalah pilihan bagi media konvensional: mau digunakan sebagai sumber informasi, atau sebatas sarana menyebarkan konten sendiri. Saya pribadi, akan memilih yang kedua. Penggunaan Facebook atau Twitter sebagai sumber informasi hanya saya lakukan dengan mengikuti akun penyedia berita yang saya anggap kredibel, bukan dari sembarang pengguna.