people, culture, nature
Menu
menu
Surfer's Point, Margaret River, Western Australia.
Surfer’s Point, Margaret River, Western Australia.
A koala’s claw at the Caversham Wildlife Park (CWP), Whiteman Park, Western Australia. David & Pat own and operate Caversham Wildlife Park with their son David & daughter Debbie. When they purchased the park in 1987, the park housed a small collection of animals and birds on a modest 5 acre (2 ha) property. A few years later, the park doubled in size, when the family purchased the adjoining property and the collection started to boom. In May 2003, the family designed and built a new park in Whiteman Park, once again, more than doubling in size. CWP features about 200 species, and more than 2000 head of animals, birds and reptiles. This impressive collection makes CWP the largest privately owned collection of native wildlife in Western Australia.
A koala’s claw at the Caversham Wildlife Park (CWP), Whiteman Park, Western Australia. David & Pat own and operate Caversham Wildlife Park with their son David & daughter Debbie. When they purchased the park in 1987, the park housed a small collection of animals and birds on a modest 5 acre (2 ha) property. A few years later, the park doubled in size, when the family purchased the adjoining property and the collection started to boom. In May 2003, the family designed and built a new park in Whiteman Park, once again, more than doubling in size. CWP features about 200 species, and more than 2000 head of animals, birds and reptiles. This impressive collection makes CWP the largest privately owned collection of native wildlife in Western Australia.
A mother with her two children is watching a farm show at Caversham Wildlife Park, Whiteman Park, Whiteman, Perth, Western Australia. As well as feeding kangaroos and having photos taken with koalas, there are two shows running, three times daily.
An Australian flag, along with the flag of the Caversham Wildlife Park at Whiteman Park, Whiteman, Perth, Western Australia, is hanged on a barn of a farm show. As well as feeding kangaroos and having photos taken with koalas, there are two shows running, three times daily at this privately-owned minizoo.

Kami pernah membahas soal pentingnya latar (baik depan maupun belakang) dalam meramu sebuah komposisi foto. Selain memperkaya visual, latar juga mampu memberikan konteks pada konten foto.

Latar banyak macamnya, bisa berupa pola, warna, atau tekstur. Pada foto berikut, yang terpilih sebagai FPE Mei 2014, sang pemotret Randry Tama jeli melihat tekstur pada latar depan (berupa dinding bangunan bertingkat), yang memperlihatkan cat tembok gedung yang terkelupas dan luntur.

(Randry Tama)
(Randry Tama)

Tekstur itu memberikan kesan usang sekaligus pertanyaan, di mana gedung tersebut berada, dan kenapa tidak terurus? Apakah ini gedung tua yang terbengkalai? Atau, apakah si fotografer hendak mengatakan bahwa ini menjadi potret tentang minimnya perhatian kita (pemangku kepentingan) pada urusan pemeliharaan?

Selain jeli melihat tekstur, Randry juga sabar dalam menempatkan subjek manusia (berupa siluet) ke dalam frame-nya. Ini memberikan ruh pada latar yang dipotretnya, sekaligus memberikan gambaran bahwa gedung usang ini masih digunakan oleh manusia.

SAMSUNG CSC

Kelahiranmu mengejutkanku.

Dalam rencanaku, aku ingin kembali punya anak saat anak pertama setidaknya berusia enam tahun, dengan berbagai pertimbangan.

Tetapi, Allah berkehendak lain.

Ketika si sulung berusia empat tahun, engkau lahir. Engkau memberi warna baru pada kehidupan kami. Engkau adalah seorang bayi perempuan yang manis. Sangat manis. Matamu besar dan jeli, dengan bulu-bulu mata yang panjang. Alhamdulillah.

Bersamamu, rupanya Allah juga menitipkan rumah baru bagi keluarga kita, tempat bernaung dan mengayuh biduk rumah tangga.

Perlahan, engkau tumbuh menjadi anak perempuan yang centil. Engkau kerap membuat kakakmu kesal karena tingkahmu, tetapi aku tahu, baik engkau, maupun kakakmu, terikat oleh tali cinta yang begitu kuat. Ikatan itu kerap kalian tunjukkan dalam alam bawah sadar kalian, saat kalian secara tidak sadar berpelukan, berpegangan tangan, bermain dan tertawa bersama.

Ya, engkau benar-benar memberi warna pada kehidupan keluarga kita. Dan, warna itu kian cerah ceria saat engkau belajar sepeda. Air mataku meleleh, bahagia melihat kebahagiaan hakikimu saat benar-benar bisa mengayuh sepedamu untuk pertama kalinya. Engkau berteriak, tertawa, “Ayaaahhh, dedek bisaaaa…”

Engkau bisa. Dan aku selalu mendoakanmu agar engkau selalu bisa menghadapi rintangan apa pun dalam hidupmu kelak. Engkau bisa. Aku tahu engkau bisa.

Kini, usiamu enam tahun. Usia ketika engkau mulai belajar banyak hal baru hingga beberapa tahun ke depan. Teruslah mencari, bertanya, terjatuh, tertawa, menangis. Jadilah dirimu. Engkau bisa.

Hingga kini, aku masih kerap terkejut akan dirimu. Teruslah mengejutkanku, anakku.

Ayah sayang kamu.

Calon penumpang menunggu di perempatan Bekasi Timur. Biasanya mereka penumpang dari Bekasi yang hendak menuju Jakarta. Kurangnya infrastruktur buat pejalan kaki seperti trotoar dan halte memaksa calon penumpang menunggu di perempatan jalan, yang berpotensi menyebabkan kemacetan dan kecelakaan.
Calon penumpang menunggu di perempatan Bekasi Timur. Biasanya mereka penumpang dari Bekasi yang hendak menuju Jakarta. Kurangnya infrastruktur buat pejalan kaki seperti trotoar dan halte memaksa calon penumpang menunggu di perempatan jalan, yang berpotensi menyebabkan kemacetan dan kecelakaan.

Sudah lama saya dengar dan lihat foto-foto stasiun Palmerah yang baru. Kali ini saya berkesempatan naik kereta lewat stasiun ini. Memang lumayan keren, dan terlihat modern. Sejenak tidak terasa sedang berada di kota brengsek yang bernama Jakarta.

Awalnya saya pikir stasiun se-modern ini tidak menyediakan fasilitas buat warga penyandang disabilitas. Ternyata, ada elevator—yang luput saya lihat—dan kursi roda bagi yang membutuhkan. Musola pun dibuat terpisah antara pria dan wanita. Satu catatan kecil, kamar mandi masih terlihat kotor.

Tetapi, saya berbaik sangka, mungkin karena kemarin hujan seharian sehingga sepatu para pengguna toilet kotor dengan tanah basah.

Anak-anak tidak butuh taman impian. Cukup sepotong lahan untuk menggerakkan badan dan melemaskan lengan. Bekasi, 27 Februari 2016.
Anak-anak tidak butuh taman impian. Cukup sepotong lahan untuk menggerakkan badan dan melemaskan lengan. Bekasi, 27 Februari 2016.
alie-poedjakusuma_-_menghindari-debu
(Alie Poedjakusuma)

Banyak sekali foto jalanan (street photography) yang memanfaatkan latar berupa tembok yang dihiasi mural. Mural, apalagi yang warna-warni kerap kali membantu “mengangkat” visual yang tadinya biasa-biasa saja. Akhirnya, frame secara keseluruhan hanya menampilkan estetika, tanpa makna. Tidak banyak yang jeli untuk mengaitkan antara latar belakang dengan latar depan, lalu menggabungkan keduanya dalam satu frame.

Hal itulah yang membuat foto karya Alie Poedjakusuma di atas terpilih sebagai Foto Pilihan Editor pada April 2014 lalu. Secara cerdik (dan sigap, tentunya), Alie memotret orang yang sedang mengenakan “masker”—mungkin untuk menghindari debu atau asap kendaraan—yang berdiri dengan latar belakang mural dengan isu serupa; kampanye soal pencemaran udara.

Secara kebetulan pula, mural menggambarkan orang yang sedang mengenakan masker. Foto ini seakan ingin mengatakan bahwa polusi udara masih menjadi persoalan, dan butuh kampanye lebih masif selain hanya mengandalkan mural (yang bahkan kerap dianggap melanggar peraturan).