people, culture, nature
Menu
menu
A mother with her two children is watching a farm show at Caversham Wildlife Park, Whiteman Park, Whiteman, Perth, Western Australia. As well as feeding kangaroos and having photos taken with koalas, there are two shows running, three times daily.
An Australian flag, along with the flag of the Caversham Wildlife Park at Whiteman Park, Whiteman, Perth, Western Australia, is hanged on a barn of a farm show. As well as feeding kangaroos and having photos taken with koalas, there are two shows running, three times daily at this privately-owned minizoo.

Kami pernah membahas soal pentingnya latar (baik depan maupun belakang) dalam meramu sebuah komposisi foto. Selain memperkaya visual, latar juga mampu memberikan konteks pada konten foto.

Latar banyak macamnya, bisa berupa pola, warna, atau tekstur. Pada foto berikut, yang terpilih sebagai FPE Mei 2014, sang pemotret Randry Tama jeli melihat tekstur pada latar depan (berupa dinding bangunan bertingkat), yang memperlihatkan cat tembok gedung yang terkelupas dan luntur.

(Randry Tama)
(Randry Tama)

Tekstur itu memberikan kesan usang sekaligus pertanyaan, di mana gedung tersebut berada, dan kenapa tidak terurus? Apakah ini gedung tua yang terbengkalai? Atau, apakah si fotografer hendak mengatakan bahwa ini menjadi potret tentang minimnya perhatian kita (pemangku kepentingan) pada urusan pemeliharaan?

Selain jeli melihat tekstur, Randry juga sabar dalam menempatkan subjek manusia (berupa siluet) ke dalam frame-nya. Ini memberikan ruh pada latar yang dipotretnya, sekaligus memberikan gambaran bahwa gedung usang ini masih digunakan oleh manusia.

SAMSUNG CSC

Kelahiranmu mengejutkanku.

Dalam rencanaku, aku ingin kembali punya anak saat anak pertama setidaknya berusia enam tahun, dengan berbagai pertimbangan.

Tetapi, Allah berkehendak lain.

Ketika si sulung berusia empat tahun, engkau lahir. Engkau memberi warna baru pada kehidupan kami. Engkau adalah seorang bayi perempuan yang manis. Sangat manis. Matamu besar dan jeli, dengan bulu-bulu mata yang panjang. Alhamdulillah.

Bersamamu, rupanya Allah juga menitipkan rumah baru bagi keluarga kita, tempat bernaung dan mengayuh biduk rumah tangga.

Perlahan, engkau tumbuh menjadi anak perempuan yang centil. Engkau kerap membuat kakakmu kesal karena tingkahmu, tetapi aku tahu, baik engkau, maupun kakakmu, terikat oleh tali cinta yang begitu kuat. Ikatan itu kerap kalian tunjukkan dalam alam bawah sadar kalian, saat kalian secara tidak sadar berpelukan, berpegangan tangan, bermain dan tertawa bersama.

Ya, engkau benar-benar memberi warna pada kehidupan keluarga kita. Dan, warna itu kian cerah ceria saat engkau belajar sepeda. Air mataku meleleh, bahagia melihat kebahagiaan hakikimu saat benar-benar bisa mengayuh sepedamu untuk pertama kalinya. Engkau berteriak, tertawa, “Ayaaahhh, dedek bisaaaa…”

Engkau bisa. Dan aku selalu mendoakanmu agar engkau selalu bisa menghadapi rintangan apa pun dalam hidupmu kelak. Engkau bisa. Aku tahu engkau bisa.

Kini, usiamu enam tahun. Usia ketika engkau mulai belajar banyak hal baru hingga beberapa tahun ke depan. Teruslah mencari, bertanya, terjatuh, tertawa, menangis. Jadilah dirimu. Engkau bisa.

Hingga kini, aku masih kerap terkejut akan dirimu. Teruslah mengejutkanku, anakku.

Ayah sayang kamu.

Calon penumpang menunggu di perempatan Bekasi Timur. Biasanya mereka penumpang dari Bekasi yang hendak menuju Jakarta. Kurangnya infrastruktur buat pejalan kaki seperti trotoar dan halte memaksa calon penumpang menunggu di perempatan jalan, yang berpotensi menyebabkan kemacetan dan kecelakaan.
Calon penumpang menunggu di perempatan Bekasi Timur. Biasanya mereka penumpang dari Bekasi yang hendak menuju Jakarta. Kurangnya infrastruktur buat pejalan kaki seperti trotoar dan halte memaksa calon penumpang menunggu di perempatan jalan, yang berpotensi menyebabkan kemacetan dan kecelakaan.

Sudah lama saya dengar dan lihat foto-foto stasiun Palmerah yang baru. Kali ini saya berkesempatan naik kereta lewat stasiun ini. Memang lumayan keren, dan terlihat modern. Sejenak tidak terasa sedang berada di kota brengsek yang bernama Jakarta.

Awalnya saya pikir stasiun se-modern ini tidak menyediakan fasilitas buat warga penyandang disabilitas. Ternyata, ada elevator—yang luput saya lihat—dan kursi roda bagi yang membutuhkan. Musola pun dibuat terpisah antara pria dan wanita. Satu catatan kecil, kamar mandi masih terlihat kotor.

Tetapi, saya berbaik sangka, mungkin karena kemarin hujan seharian sehingga sepatu para pengguna toilet kotor dengan tanah basah.

Anak-anak tidak butuh taman impian. Cukup sepotong lahan untuk menggerakkan badan dan melemaskan lengan. Bekasi, 27 Februari 2016.
Anak-anak tidak butuh taman impian. Cukup sepotong lahan untuk menggerakkan badan dan melemaskan lengan. Bekasi, 27 Februari 2016.
alie-poedjakusuma_-_menghindari-debu
(Alie Poedjakusuma)

Banyak sekali foto jalanan (street photography) yang memanfaatkan latar berupa tembok yang dihiasi mural. Mural, apalagi yang warna-warni kerap kali membantu “mengangkat” visual yang tadinya biasa-biasa saja. Akhirnya, frame secara keseluruhan hanya menampilkan estetika, tanpa makna. Tidak banyak yang jeli untuk mengaitkan antara latar belakang dengan latar depan, lalu menggabungkan keduanya dalam satu frame.

Hal itulah yang membuat foto karya Alie Poedjakusuma di atas terpilih sebagai Foto Pilihan Editor pada April 2014 lalu. Secara cerdik (dan sigap, tentunya), Alie memotret orang yang sedang mengenakan “masker”—mungkin untuk menghindari debu atau asap kendaraan—yang berdiri dengan latar belakang mural dengan isu serupa; kampanye soal pencemaran udara.

Secara kebetulan pula, mural menggambarkan orang yang sedang mengenakan masker. Foto ini seakan ingin mengatakan bahwa polusi udara masih menjadi persoalan, dan butuh kampanye lebih masif selain hanya mengandalkan mural (yang bahkan kerap dianggap melanggar peraturan).

(Duong Thanh Phong/Another Vietnam/National Geographic Books)
(Duong Thanh Phong/Another Vietnam/National Geographic Books)

Bagi banyak orang, imaji tentang Vietnam kerap “diwakili” oleh foto-foto ikonik karya fotografer barat yang dimuat oleh media-media  Amerika terkemuka saat itu, seperti majalah LIFE dan koran The New York Times.

Misalnya saja, foto Eddie Adams tentang seorang pejuang Viet Cong yang dieksekusi dengan ditembak kepalanya, atau foto Nick Ut yang menggambarkan Kim Phúc, bocah berumur sembilan tahun yang berlari tanpa pakaian dengan kulit mengelupas akibat bom napalm.

Padahal, orang-orang Vietnam Utara dan Viet Cong juga memiliki ratusan fotografer, yang mendokumentasikan perang dalam situasi paling mengancam jiwa. Kebanyakan mereka belajar secara autodidak, dan bekerja pada Vietnam News Agency, National Liberation Front, tentara Vietnam Utara, atau berbagai koran.

Sebanyak 108 gambar foto-foto yang belum terpublikasi ini, beserta kisah-kisah di baliknya kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku, Another Vietnam: Pictures of the War from the Other Side.

Berikut ini beberapa foto di antaranya.

(Le Minh Truong/ANOTHER VIETNAM/NATIONAL GEOGRAPHIC BOOKS)
(Le Minh Truong/ANOTHER VIETNAM/NATIONAL GEOGRAPHIC BOOKS)
(Bao Hanh/Another Vietnam/National Geographic Books)
(Bao Hanh/Another Vietnam/National Geographic Books)
(Doan Cong Tinh/Another Vietnam/National Geographic Books)
(Doan Cong Tinh/Another Vietnam/National Geographic Books)
(Le Minh Truong/Another Vietnam/National Geographic Books)
(Le Minh Truong/Another Vietnam/National Geographic Books)
(Vo Anh Khanh/Another Vietnam/National Geographic Books)
(Vo Anh Khanh/Another Vietnam/National Geographic Books)
(Le Minh Truong/Another Vietnam/National Geographic Books)
(Le Minh Truong/Another Vietnam/National Geographic Books)
(Nguyen Dinh Uu/Another Vietnam/National Geographic Books)
(Nguyen Dinh Uu/Another Vietnam/National Geographic Books)


Sumber: Mashable.com

0316 NGT Cover

Tidak dapat dimungkiri lagi, kamera ponsel kini cukup layak disandingkan dengan kamera profesional sekelas DSLR atau mirrorless. Walau tentu saja, tidak persis begitu.

Tetapi, untuk beberapa hal, misal pemotretan yang tidak terlalu membutuhkan kecepatan tinggi, atau aspek teknis yang rumit, kualitas gambar kamera ponsel—khususnya sekelas iPhone 5 atau 6—sangat baik dan layak, bahkan untuk menghiasi sampul majalah sekelas NatGeo Traveler (NGT).

Seperti kita tahu, meski pada dasarnya bukan majalah fotografi, pada majalah NGT maupun NGI aspek visual amatlah krusial, dan proses pemilihannya pun terbilang rumit. Maka, ketika pada NGT edisi Maret 2016 ada pilihan foto sampul yang menggunakan iPhone 6, redaksi NGT cukup berlega hati. Kenapa? Karena fotografi kini kian dekat dengan kita, lebih daripada yang pernah dibayangkan.

Pada edisi ini, Denty Piawai Nastitie, jurnalis dan fotografer muda di harian KOMPAS, bersama keluarganya menyusuri denyut Yerusalem di hamparan Tanah Terjanji pada Desember silam. Denty menceritakan pengalamannya menyusuri Via Dolorosa, dan memotret suasana Tanah Terjanji.

Inilah edisi bersejarah, untuk pertama kalinya sampul National Geographic Traveler  Indonesia menggunakan hasil foto gawai Apple iPhone 6.

Yerusalem memiliki sejuta cerita tentang cita dan nestapa perjalanan peradaban manusia. Salah satunya, cerita sebuah jalan di tengah permukiman beragam agama, yang mengantarkan peziarah menuju Bukit Golgota.

Kota Yerusalem menjadi penting bagi tiga agama samawi: Yahudi, Kristen, dan Islam. Selama ribuan tahun, kota itu sudah puluhan kali dihancurkan, dikepung, diserang, dan dikuasai ulang. Meski belum diakui dunia internasional, Yerusalem diklaim sebagai ibu kota Israel. Bagi orang Palestina, kota itu juga dianggap sebagai ibu kota negara.

Sepanjang perjalanan menelusuri Via Dolorosa, Denty berjumpa dengan sejumlah perempuan Islam. Kehidupan sehari-hari kelompok Islam seolah tak terganggu dengan kegiatan rohani kelompok Kristen dan Yahudi. Umat Islam yang hidup di Yerusalem adalah orang Palestina yang sudah turun-temurun berdiam di sana. Dia juga bertemu sejumlah pria Yahudi. Mereka mengenakan busana tradisional berupa jubah dan celana panjang hitam, sepatu hitam, serta topi lebar berbulu.

Penjelajahan ke suatu daerah baru akan melatih kita untuk memahami dan menghormati kebiasaan warga setempat. Saat kembali pulang pun kita memiliki sepasang mata yang baru untuk menyaksikan keindahan semesta dengan cara pandang yang baru pula. —Firman Firdaus/Mahandis Yoanata Thamrin

salman-toyibi_-_bayangan

Dalam menggubah komposisi foto, banyak fotografer yang memanfaatkan bayangan untuk mendapatkan hasil yang unik. Dalam fotografi jalanan (street photography), misalnya, bayangan kerap dilibatkan untuk menciptakan keseimbangan—atau mengganggu keseimbangan, dalam arti yang baik—dalam frame foto.

Pada foto di atas, yang terpilih sebagai FPE Maret 2014 silam, Salman Toyibi, sang fotografer, paham betul akan elemen fotografi yang satu ini. Kejelian Salman di area Monumen Nasional telah menghasilkan foto dengan komposisi warna dan elemen grafis yang menarik.

“Pertama kali saya melihat siluet orang di payung ini tak sempat memotret. Orangnya keburu pergi. Lalu saya menunggu momen berulang, dan berhasil,” jelasnya. Fotonya akan kurang “greget” kalau ia kurang sabar menanti ada bayangan.

Jadi, lain kali Anda memotret, coba perhatikan elemen yang satu ini. Tempatkan pada frame, dan, voila!